kirimkan hujan ini ke . . .

Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2016

WOUNDED HEALER

Kata-kata yang basi. Hati yang rapuh patah berkali-kali. Padahal saya bukan lagi penyembuh, tidak lagi. Semenjak saya menyadari bahwa ada yang begitu berbeda dari diri saya, saya mengambil langkah pelan-pelan untuk berhenti. Tidak lagi menjadi penyembuh kecuali kewajiban atas nama profesi (kelak). Jadi, kelak saya akan menyembuhkan bukan karena hati, alasan emosional manusia belakangan ini. Tapi karena tugas dan sumpah yang harus ditepati. Yah, itu jika saya masih berkeras ituk meneruskan yang katanya mimpi. Ah, tidak mimpi saya bukan itu. Sepertinya saya tidak lagi punya mimpi, begitu.

Entah hati yang terlalu rapuh sehingga menyelinapkan foto-foto menyakitkan ke otak yang lalu dipenjara dalam benak. Atau nalar tak lagi tangguh sehingga sedikit kata-kata, sedikit laku biasa dimaknai luka hingga menyayat hati sedemikian rupa. Banyak yang terjadi setahun ini... dan sepertinya sudah dimulai sejak manusia-manusia yang terakhir itu kuceritakan. Ah, rasanya saya tak mampu lagi bersama mereka. Rasanya payah dam akhirnya hati luka-luka.

Kisah masa kecil yang penuh trauma sudah bukan lagi rahasia. Saya sudah bisa menyebarkannya sedikit-sedikit, bukan untuk membuat iba, hanya melepas apa yang dipenjara. Tapi lalu trauma-trauma itu membuat jaring laba-laba, mengikat luka dan menamai setiapnya. Akibatnya, apa dan siapa sudah tidak mampu lagi saya percaya. Karena, apakah jika saya percaya mereka akan menjaga saya, seperti saya menjaga mereka. Karena ditinggalkan adalah keniscayaan yang tinggal tunggu waktu saja.

Teori-teori bilang seharusnya yang tidak saya percayai adalah akal yang saya kira masih walafiat. Teori bilang seharusnya saya berpikir lebih positif dan menyeimbangkan diri lebih kuat. Katakan pada saya bagaimana seharusnya mengubah pikir ketika yang kau hadapi realita. Bukan kira-kira belaka. Bukan hati yang terlalu peka merasa. Masihkah aku harus menyerahkan percaya meski ingkar di depan mata ? Atau manusia saat ini lebih suka pura-pura ? Saya dengar, bermuka dua adalah syarat menjadi dewasa.

Sayangnya, saya tidak pernah setengah-setengah dalam laku. Saya puas dengan satu. Buat saya sebuah lebih menggenapi daripada dua namun rancu. Tapi kadang-kadang saya belajar menjadi munafik itu perlu. Terutama tujuh bulan belakangan ini. Penderitaan terus bertambah tujuh bulan belakangan ini. Mengekang segala hasrat emosi sudah tak mempan lagi. Pertahanan lama-lama runtuh. Air mata lama-lama luruh. Ah, lalu saya butuh bahu. Yang tak pernah hadir setiap waktu.

Tujuh bulan ini saya dipaksa bertahan sendirian. Lebih sendirian lagi dua-tiga bulan belakangan. Di mana dunia yang saya percayai akan membaik setelah setiap kali episode-episode ini mendera ? Ke mana peluk-peluk dan hangatnya kekata ? Hilang, mungkin semesta tak paham bagaimana saya membutuhkan sebuah tempat untuk pulang, atau semesta mengisyaratkan saya harus pulang yang sebenar-benarnya.

Harusnya saya tidak mengurusi segala yang bukan urusan saya, harusnya saya pergi mengemasi apa-apa yang tersisa (jika ada) sesegeranya. Mumpung luka masih sedikit terbuka. Tapi apa daya, mungkin karena saya manusia dan bukan dewa. Segalanya terasa harus saya ketahui untuk jaga-jaga. Ah, seharusnya saya berpegang pada. "Tidak tahu itu anugerah." Seharusnya begitu agar saya tidak sakit-sakit melulu.

Saya terlahir tanpa pelindung sehingga trauma yang sedemikian rupa bebas sesukanya menghampiri masa kecil saya, menjadikan trauma adalah bagian yang paling saya ingat di antara kenangan lainnya. Bagaimana rasanya diabaikan, bagaimana rasanya tidak diinginkan, bagaimana rasanya sendirian, bagaimana menjadi seorang kesepian. Saya terlahir begitu saja untuk menghadapi semua rasa-rasa itu. Hingga saat ini rasanya tetap sakit, tapi biasa saja. Paling, kadang-kadang membuatmu ingin pergi jauh sekali. Sampai tidak usah kembali lagi.

Sepanjang hidup kemudian saya mencari pelindung, sialnya saya tidak (dan tidak boleh) untuk mudah percaya kepada kandidat-kandidat pelindung itu. Karena, jika bukan pelindung, ia adalah pecundang yang akan membangunkan setiap trauma yang saya kubur rapi-rapi dan saya hiasi dengan "senyuman tidak apa-apa." Sejauh ini saya meninggalkan satu atau dua pelindung dan berbaur dengan banyak pecundang. Tapi, saya hanya bisa mengurusi hati sendiri. Tidak berhak mengatur-atur para pecundang sekalipun mereka menyakiti saya. Jadi saya diam-diam dan menyepi, kalau-kalau sakitnya ini bisa pergi. Untungnya, setiap kali, saya masih bisa berkawan sebentar-sebentar, bertemu sebentar-sebentar dengan The Fools. Mereka seperti saya, naif dan polos. Sama-sama percaya pada pecundang dan menganggap beberapa pecundang adalah pelindung.

Akhirnya, hari ini saya sadar dan benar-benar sadar harus berhenti mencari. Tidak ada seorang pelindung pun yang saya miliki. Jika beruntung, sesekali saya bisa meminjam pelindung dari sesama The Fools, tapi tidak selamanya karena kebahagiaan hanya meminjamkan. Saya sama sekali tidak boleh bersandar pada apapun sembarangan, karena nyatanya saya tidak punya pelindung. Pelindung-pelindung yang dikirimkan Tuhan tidak menganggap saya ada. Jika mereka melihat bahwa saya ada, maka saya adalah sesuatu yang harus dibersihkan.

Oia, saya masih memercayai Tuhan. Tapi saya bukan wounded healer, saya tidak akan menyembuhkan siapapun jika luka saya tidak pernah sembuh. Atau saya bisa tetap mempunyai luka dan menyembuhkan, namun harus lebih banyak berkorban. Di saat bayangan-bayangan menyakitkan itu datang, saya yang sendirian tidak bisa apa-apa. Hanya berharap Tuhan sudi memeluk, karena hanya Dia satu-satunya tempat untukku pulang.

-regards, PuteriHujan-

#16052016. 00:15 AM

Minggu, 18 Mei 2014

My LIfeLong Dream (part 3-finish)

Tanggal 18 Mei adalah hari penentuan. Penentuan usaha capek-capek kemaren. Jam 12 teng biasanya sudah bisa dilihat. saya lihat Subuh kalau tidak salah. Saya masukkan semua nomor ujian peserta mapro PIO, dari nomor 1-48 (tentunya saya yang terakhir. Seluruh teman yang saya kenal tidak lolos, tambah deg-degan aja. Eh tapi, peserta yang diwawancara sampai menangis sebelum giliran saya, dia lolos, yang sesudah saya pun lolos. Saya...? Tidak.
Maaf yang itu lagi... lagi, lagi.

Lumayan sedih rasanya melihat usaha capek-capek dan lapar-lapar itu jadi angin, fiuh. Meskipun gelagat tidak diterima udah ada sejak liat para penguji. Kemampuan saya dari S1 memang belum sampai sana. Kalau dua orang almamater yang saya nilai hebat saja tidak lolos, bagaimana saya, yang belum hebat? Kecewa sih tidak, ngan lebar acisna euy sajutaeun, mun daptar deui dua jutaeun. Jadinya malah bingung. Lantas apa yang akan saya lakukan selanjutnya ?

Menunggu jodoh sama impian saya, sambil terus berusaha, bikin rekomendasi ke Jogja, wawancara ke Depok. Atau daftar univ yang pasti lulus, padahal saya berharap sebisa mungkin saya jangan kuliah di sana. Yaa, itulah. JODOH. Mungkin Tuhan suruh saya membaca pertanda, seharusnya saya masuk PKA saja. Niatan awal mengapa saya kuliah psikologi ada di sana, di PKA (kalau mentok boleh deh PKD, atau forensik). Kemarin itu saya hampir mendaftar PKA, cuma bimbang. Bukan masalah tidak suka materi, justru saya lebih suka yang klinis daripada pio begitu. Meskipun skripsi saya pio.

Saya takut sama anak-anak. Yap, kalau ada orang takut sama kucing (makhluk kecil paling cantik sedunia -menurut saya-), saya takut pada anak manusia. Usia-nya dari 1-9tahunan. Entahlah, saya takut saja, bingung emangnya harus ngapain sama anak kecil. Sebel kalau ada anak kecil yang super bandel. Ugh. Mungkin setiap melihat anak kecil akan membangkitkan trauma saya, ingat apa-apa yang terjadi sewaktu saya kecil sehingga saya ngotot jadi psikolog. Saya ingin "balas dendam" dengan cara yang benar. Tapi, saya takut anak kecil. Sedangkan PKA, kliennya sudah pasti anak kecil. Kalau tidak bisa meladeni anak kecil, pasti terhambat deh tuh, tugas-tugas. Seumur hidup saya tidak pernah menggendong anak kecil pun. Bicara sama balita saja cuma sama sepupu. Jadi, apa yang saya takutkan itu adalah jodoh saya ?

Lagi-lagi JODOH. Tuhan sebaiknya jangan mengirimkan pertanda, karena otak saya lemot membaca pertanda. Saya lebih memilih dipilihkan, saya juga bingung bagaimana mungkin bisa Tuhan langsung memilihkan tanpa mengirimkan pertanda. Saya melamar kerja, tak ada yang jodoh. Emm, ada sih, PTI seleksi masih berlangsung (mengharap saja karena belum ada pemberitahuan siapa yang lolos). Kuliah pun saya pilih impian, belum direstui. Rasanya sedih, bukan karena tidak lolos dari satupun yang sedang diusahakan. Sedih karena sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, lambat membaca pertanda.

Target menikah saya (paling telat) usia 27 tahun. Tapi masa, saya harus nganggur sambil mencari imam saya ? Kecuali saya nikah besok, mungkin jodoh-jodoh yang lain tak harus sedih bagaimananya, karena rupanya begini. Tapi tidak mungkin menikah semudah itu, yang entah langsung ketemu nikah (ngeri, saya phobia orang asing). Saya bingung mengusahakan jodoh saya di perusahaan atau institusi pendidikan. Mungkin usaha saya kurang keras dalam berusaha menemukan jodoh-jodoh itu. Mungkin hidup saya masih terkungkung ini-itu.

Akhirnya saya memutuskan jeda, setelah leha-leha 8bulan pasca wisuda, sisa bulannya kelabakan lamar-lamar para jodoh sana-sini. Jeda sampai tanggal 27-28 Mei ini. Untuk refreshing sih, karena janjian traveling. Mungkin diperjalanan dan pertemuan dengan teman-teman, saya jadi bisa berpikir jernih, lebih jernih. Mungkin Tuhan sedang menyiapkan jodoh terbaik buat saya, jadi saya harus menyiapkan diri, entah jodoh mana duluan yang menghampiri. Semoga Tuhan tidak lagi mengirimkan pertanda karena tahu hamba-Nya yang satu ini lemot sekali membaca pertanda. Semoga Tuhan langsung menunjuk, kejadian-kejadiannya accidental, kebetulan, tiba-tiba. Tak apalah untuk kali ini biar hidup jadi kejutan. Doakan saya ya !

*p.s. dear, Tuhan Sayang, hamba-Mu ini, bingung harus apa.

-regards, PuteriHujan-
18052014. 07:33PM

are not


Ini harinya, patah hati. Setelah kejengkelan setiap jengkal jari. Jauh dari dugaan, meskipun sudah ditakutkan. Kata "maaf" itu terpampang lagi. :(

Entah kenapa rasanya tak percaya saja. Sepertinya semua payah sudah diupaya. Tuhan, Sayang, seperti apa selanjutnya ? Hamba-Mu ini gelap pandangan, tak tahu lagi ke mana berjalan, lelah ditekan, segan tertatih sendirian.

Tuhan pasti punya rencana yang sangat baik, jauuuh lebih baik. Cuma Tuhan, rasa sakit dalam perjalanannya tolong dibuat mati rasa. Bosan dengan rasa sakit yang sama, itu-itu juga, seperempat abad lamanya.

Terselip lega di antara kecewa, kecewa yang tidak sakit. Mungkin karena kekecewaan lain membius sakitnya lebih dulu.

Tuhan Sayang, perhatikan orang-orang yang tidak mampu kuperhatikan dan meminta perhatianku. Berikan mereka orang-orang yang menjaga mereka. Sedang hamba, cukup Engkau. Cuma Tuhanku Sayang, tak apa. Satu saja. Biar jiwa utuh di antara luruh lukanya.

Terima kasih Tuhan, untuk semua anugerah dan belajar yang Kau berikan. Mohon kesempatan, hamba ingin keluar dari sini. Lelahnya hati. Pada-Mu Tuhan, kutitipkan hati. Tak apa koyak disakiti, asal hamba masih punya diri. Asal Engkau masih menemani.

Selamat tidur, Tuhan. Berikan impian yang tak terbangunkan. Biar lupa semua luka ingatan. Aamiin.

#18052014. 4:01 AM

Selasa, 01 November 2011

November Rain

it's November, and it's raining (all) day

Lagi-lagi tentang hujan. Kebetulannya lagi, ini bulan November. Jadi suatu kebetulan juga jika ada lagu yang berjudul "November Rain" -by Guns N Roses. Kebetulan juga jika lagu itu bercerita tentang kehilangan (yang biasanya memang dikait-kaitkan dengan hujan). Kebetulan pula, jika hampir seluruh status di FB menuliskan dua frase itu. November + Rain.

November dan hujan, entah ada mantra apa. Setahu saya, hujan di bulan November bukan hanya tahun ini, tapi bahkan, tujuh tahun lalu pun, hujan diselipkan di November, empat tahun berikutnya pun masih juga. November memang kebetulan masuk pada musim basah, saat hujan bermain ke bumi. Jadi, sekali lagi itu cuma kebetulan, atau memang rencana Tuhan.

Tapi bukan kebetulan jika aroma hujan membaui kenangan dan kehilangan-kehilangan. :)
Bukan kebetulan juga ketika gemericiknya membangun ingatan, yang bahkan ingin dilupakan. Hujan adalah saat terbaik untuk melamunkan angan. Bermain dengan banyak andai yang sesak ditahan. Hujan sepertinya hadir untuk itu. Rerintik sepertinya mampir untuk itu. :)

Kenangan saya tentang November dan Hujan bukanlah kehilangan, sebenarnya malah sebaliknya. Yang bisa saya ingat sampai saat ini adalah dua peristiwa yang menyenangkan (saat itu). Meski hari ini rasanya biasa saja, karena terlanjur sudah basi. Namun untuk saya, tetap saja terasa menyenangkan. Lucu juga melihatnya dalam ingatan.

Jadi, saya memutuskan untuk tidak menangis seperti cerita di November Rain. Saya memutuskan untuk tidak membingkai rasa kehilangan hingga sakitnya kekal. Saya memutuskan untuk melepaskan dan berjalan. Saya memutuskan untuk bahagia. Seperti yang saya bilang kemarin, saya akan menemukan komposisi yang pas bersama hujan, komposisi yang bukan luka. :)

dan November, dan Hujan. dan.dan.dan...
izinkan saya melintasi jalan november Hujan kali ini,
saya tidak ingin menangis lagi,
saya ingin tertawa seperti ketika itu.
ketika saya pernah sangat berbahagia.
ketika saya menjadi... jiwa yang utuh sepenuhnya.

:)

-regards, puterihujan...

#01112011 -- 8:37 PM

Minggu, 23 Oktober 2011

karena engkau begitu berharga... :)


wanitaku sayang, kalian sangat berharga. jangan pernah merendahkan dirimu sendiri. tak ada seorangpun yang mampu merendahkan kalian, kecuali kalian mengiizinkannya.

jaga diri, jaga hati, jaga tubuh, jaga harga dirimu. :)


-regards, puterihujan-
*makasih buat Mbak Rani untuk foto dan inspirasinya... sang Perempuan Lindap Kembang.

#teruntuk semua wanita yang mencari...

Jumat, 21 Oktober 2011

families are...


kasih sayang orang tua memang tiada dua. keamanan dan kenyamanan pun tiada yang sama. saya rindu kebiasaan-kebiasaan yang saya lakukan tanpa dimarahi. meski merekalah yang menafkahi. saya rindu kenakalan-kenakalan biasa saya yang bisa saya nikmati. bukan satu-dua pikir, yang bikin ketar-ketir hati.

tak ada satupun kasih sayang yang bisa menyamai keluarga. perlindungan mereka sempurna. seperti Tuhan yang menunjukkan jalan menyakitkan tapi memang dibutuhkan. keluarga mengajari dengan cara yang tidak sama, tidak dimengerti kadang-kadang. tapi, sejauh ini saya lebih menikmatinya, sakit-sakit yang ada juga. lebih bisa ditolerir nyatanya. membuat saya selalu ingin pulang.

sangkar emas sejauh ini adalah tempat terbaik. dibandingkan tempat-tempat yang saya singgahi untuk mencari. membuat saya mau tidak mau pasti kembali. karena tidak ada yang sesempurna mereka dengan segala kekurangannya. tidak ada senyuman dan tawa paling bahagia bersama mereka yang meski banyak juga terselip air mata. akumulasinya tetap saja, signifikansinya tetap saja, cinta mereka tetap saja.

saya ingin kembali 'telanjang' dalam kepolosan seorang bocah. saya harap masih sempat. saya ingin menikmati dunia, tapi dengan tawa dan tahu bahwa saya cukup sempurna sebagai saya. cukup tahu bahwa dosa-dosa yang saya kerjakan adalah cukup biasa, tidak hina. yah, saya rindu kenakalan-kenakalan biasa saya. saya rindu aroma malam di sangkar emas, saya rindu riuhnya berdebat dengan mereka, saya rindu menangis karena berebut hati dengan saudara saya, saya merindukan kenyamanan yang saya tahu sampai kapanpun tak akan tergantikan. keluarga saya dengan segala kekurangan yang semakin menghilang, dengan kekompakan yang semakin menggunung. tidak ada satupun keluarga seperti yang saya miliki, seperti satu menu makan siang lengkap, semua rasa ada. komposisi yang pas, keseimbangan yang saling menjaga. menjaga sampai saat ini dan semoga hingga nanti. :)

Tuhan, izinkan aku kembali. :')

#J,20102011.biggood girl.
-missing home.

-regards, puterihujan...

Jumat, 26 Agustus 2011

Lurus, lalu Belok ke Kanan. =)


26 Agustus-26 Ramadhan

Allahku, aku menemukan banyak kecacatan pada lakuku meski hatiku selalu memeluk-Mu.
dan Allahku, aku percaya Engkau akan memberikan segala yang terbaik jika aku baik. :)
meski awalnya tak mengira akan sehebat ini aral hanya untuk menuju "lurus lalu belok kanan",
meski sejuta kali aku terjatuh, bangkit, jatuh lagi... aku tahu rambu yang Engkau kirimkan.
dan walaupun tak seorangpun manusia akan mendampingiku, aku percaya Engkau akan ada.

semoga Engkau mempertemukan aku dengan kebahagiaan-kebahagiaan lain, yang menuju-Mu. amien.


*Allahku, maavkan dengan terlalu banyak khilaf dan keegoisanku sebagai manusia. :'|
kepada-Mu aku memohonkan segala kebaikan hidup dan penghapus kekecewaan.

Rabu, 01 Juni 2011

Ewuh Pakewuh versus Hypocrite versus Assertiveness


Judul yang agak cadas, saya tahu… :)




Ewuh Pakewuh, buat yang belum tahu, itu artinya bersikap segan kepada orang untuk menjaga hubungan, untuk menjaga perasaan orang yang bersangkutan, untuk menjaga kedamaian.





“Budaya Ewuh Pakewuh yang berarti sungkan dalam batas-batas normal akan meningkatkan tali silahturami dalam suatu lingkungan, kumpulan atau organisasi. Budaya demikian merupakan cerminan budaya timur yang sangat menghargai orang lain dan tanpa bermaksud menjatuhkan apalagi mempermalukan orang lain.”- kutipan blog orang.


Tapi, namun, but… Saya rasa dan saya pikir (setelah melihat banyak fenomena tentunya) budaya Ewuh Pakewuh ini sudah terlalu kental dan mendarah daging di Indonesia, khususnya (tanpa bermaksud SARA) di kebanyakan daerah Jawa (tengah dst).




(tulisan ini hanya sekedar share tanpa bermaksud mendiskreditkan golongan atau kelompok apapun :) )




Ya, Ewuh Pakewuh sepertinya memang berasal dari kebudayaan Jawa. Orang-orang Jawa dikenal akan keramahtamahannya, akan sikap dan tuturkatanya yang selalu lembut meskipun mereka tidak suka, tapi mereka tak pernah menunjukkan terang-terangan apa yang dirasakannya. Lagi-lagi ini generalisasi, meskipun tidak semua orang Jawa (yang saya tahu) bersikap begitu.





Sebenarnya budaya Ewuh Pakewuh itu baik, karena maksudnya untuk menjaga perasaan dan jalinan silaturahmi sesama manusia. Agar hidup ayem tentrem dengan tetangga, saudara dan teman. Namun, coba tebak apa yang akan terjadi kalau sikap dan maksud baik dari Ewuh Pakewuh dilakukan berlebihan ? :)






M-U-N-A-F-I-K. Ya, MUNAFIK! Satu kata yang paling-paling-paling-paling-paling-paliiing saya benci. Meskipun (jujur) saya terkadang melakukannya dan menjadi lebih sering lagi ketika saya berada di Jogja ini.




Katanya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi, saya putuskan untuk “belajar” bersikap Ewuh Pakewuh. Tapi rupanya saya belajar dari (kebanyakan) orang yang salah, salah kaprah tentang Ewuh Pakewuh. Jadilah, bukannya bersikap dan mempraktekkan Ewuh Pakewuh yang benar, saya malah menyerempet jadi munafik.




Contoh nyatanya sih, ketika sedang kesel banget sama orang, biasanya saya lebih memilih menghindar dari orang tersebut (karena kalau ketemu, muka saya bisa berubah jadi monster yang sangat menakutkan). Tapi, kemudian saya mempraktekkan Ewuh Pakewuh salah kaprah yang saya pelajari, saya terpaksa (terpaksa banget!) bermanis-manis muka, tutur kata, tersenyum tulus (tapi terpaksa, dan dalam hati misuh-misuh). Ya, saat itu saya merasa jadi orang munafik. Karena saya tipe orang yang : salah itu hitam dan benar itu putih. Suka ya bilang suka, ngga ya tinggalin aja!




Jika saya mengalami hal di atas ketika saya di Bandung, itu menjadi lebih mudah. Karena, saya bisa memakai istilah Wawuh Munding yang artinya ‘kenal kebo’. Lha? Hahaha, maksudnya, seperti kerbau yang saling bertemu di jalan, tersenyum tapi ngga usah sok bermanis-manis.




Mungkin, Ewuh Pakewuh memang berguna untuk menjaga hubungan silaturahmi. Tapi, menurut saya daripada saling diam dan menyimpan dendam, kenapa ngga pada saling ngomong saja sih ? Kenapa senyum-senyum tapi belakangnya tikam-tikam? Dan ujung-ujungnya, saya semakin menjadi krisis kronis kepercayaan di sini (Jogja). Saya merasa orang yang bisa saya percaya SANGAT SEDIKIT, tentunya saya percaya pada orang-orang yang tidak pakai Ewuh Pakewuh salah kaprah yang menjurus munafik. Saya tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya mendukung siapa (saya selalu jadi pihak netral, namun menghindari orang-orang yang selalu bermasalah sama orang lain, kalau bermasalah sama satu orang, itu wajar, tapi kalau lebih tiga orang yang mempermasalahkan, hiiiy).




Saya mengalami ini dan saya kadang (sering sih) malah jadi stress sendiri. Dan sepertinya, bukan saya saja yang mengalami, ada seorang teman yang sama-sama perantau yang juga mengalami ini. Nah, intinya sih kami bingung dengan Ewuh Pakewuh (yang salah kaprah, yang berlebihan). Saya jadi menjaga jarak kepada banyak orang karena… ya, karena itu tadi. Saya tidak pernah tahu, sikap baiknya tulus atau hanya budaya Ewuh Pakewuh, atau parahnya lagi simbiosis parasitisme (mutualisme diterima lah yaaa).




Jadi, curhatan saya dengan pemikiran dangkal saya ini, sebenarnya ingin berusaha meluruskan dengan mengira-ngira. Mungkin… budaya Ewuh Pakewuh itu sebenarnya dimaksudkan untuk melatih seseorang bersikap asertif, bukan agresif. :)





Asertivitas.



“Asertif mengandung pengertian untuk mengatakan dan bertindak sesuai dengan hati nurani dan benar adanya. Hanya dua warna untuk asertif ini : Hitam atau putih. Orang yang bertingkah laku asertif, memiliki keberanian sungguh-sungguh untuk mengatakan kebenaran yang ada sekalipun ia siap untuk tidak disenangi orang lain. Ia berani mengatakan apa yang benar kepada orang lain tanpa perlu merasa ada hutang budi atas kebaikan orang lain tersebut. Bahkan ia sangat selektif menerima pemberian orang lain, jika pemberian tersebut nantinya akan menganggu idealismenya untuk menegakkan kebenaran. Orang Asertif juga mengisyaratkan penyampaian pendapat sekalipun pendapatnya tersebut sudah pasti benar. Tidak Ceplas-ceplos dan blak-blakan yang terkesan tanpa etika komunikasi.”-kutipan blog orang.



Asertif adalah :

n Mengatakan tidak

n Memulai, melanjutkan/memelihara, dan mengakhiri pembicaraan

n Minta pertolongan

n Mengekspresikan perasaan (+ dan -)

n Meralat

n Memuji, menerima pujian

n Mengekspresikan perasaan

n Menyapa

n Menyatakan ketidaksetujuan

n Menanyakan sebab

n Membicarakan tentang diri sendiri

n Melihat mata orang lain

(Lazarus dan Rathus, materi kuliah Modifikasi Perilaku)





Menurut saya pribadi (karena blog ini adalah curhatan dengan sedangkal pikiran dan seiprit keilmiahan saya) budaya Ewuh Pakewuh harusnya dimaknai dan dilakukan serta dijadikan seperti asertivitas. Kenapa ?




Asertif bukanlah bicara blak-blakan tanpa tedheng aling-aling (maaf kalo salah penulisan). Asertif adalah bagaimana mendapatkan hak kita, menyatakan keberatan, mengekspresikan emosi, dan menolak tanpa menyakiti yang bersangkutan (yang ditolak, yang tidak kita senangi). Memang sih, rasanya hampir mustahil kalau menolak atau menyatakan keberatan tapi tidak membuat yang bersangkutan tidak enak hati, tapi lebih baik begitu. Asertif itu kejujuran yang sopan. :)




Saya menulis ini, curhat tentang ini, karena saya sudah ENEG sama Ewuh Pakewuh yang salah kaprah yang diterapkan lingkungan sekitar saya. Dan ketika saya searching, malah jadinya banyak yang memandang SARA budaya yang sebenarnya bermaksud baik ini. Yah, memang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dan bukan hal mudah bersikap asertif di masyarakat yang sudah terlanjur menerapkan Ewuh Pakewuh yang salah kaprah (khususnya masyarakat pendidikan rendah, di daerah tempat tinggal saya di Jogja sini). Ketika bersikap asertif kita memang harus siap menerima permusuhan karena dianggap sombong. *btw, asertif dalam bahasa Inggris dapat diartikan sombong dalam bahasa Indonesia*




Ya, saya berusaha bersikap asertif namun menjaga agar tidak malah jadi agresif (jujur sih, dulu saya lebih ke agresif, ga suka yaudahlaah). Mulai dari menolak memberikan contekan (dan tentu saja banyak yang komen-komen nyakitin hati, saya tahu bahkan dengar sendiri, tapi biarlah!), mulai dari menolak menuliskan nama anggota kelompok kalau tidak mau ikut partisipasi padahal sudah diajak (disuruh malahan), mulai dari menolak terlibat kepada hal-hal yang menurut saya tidak benar atau tidak saya sukai. Ya, saya masih belajar menjadi asertif dengan keterbatasan saya yang kadang malah menjadi agresif (seringnya begitu) atau menjadi munafik. (tapi, saya lebih memilih menyerempet ke agresif, karena munafik itu dibenci dalam Islam (agama saya) ). Well, gimana dengan kamu? :)




-puterihujan




11 Juni 2011 – 22.04



ket : sumber blog http://handokotantra.com/sisi-negatif-dari-budaya-ewuh-pakewuh.html

Sabtu, 02 Oktober 2010

Rain, no more...


Rasanya, saya suka hujan. Iya, sejak kecil saya suka hujan. Saya tidak tahu apa alasannya. Tapi, rasanya saya suka hujan. Saya ingat bagaimana ketika berlebaran di usia lima atau enam tahun, saya memainkan payung kesayangan, sambil sibuk ngiterin rumah tetangga-tetangga untuk bermaafan, sekalian menunggu angpao lebaran. Saya sangat suka hujan, sampai-sampai baju baru saya yang terkena noda tanah basah tidak saya pedulikan.

Sampai beranjak remaja, saya juga tidak berhenti menyukai hujan. Saya ingat, ketika duduk di kelas lima atau enam Sekolah Dasar, saya suka berhujan-hujanan. Tidak peduli, bahwa besok saya akan demam, hidung saya tersumbat, atau malah (mungkin) mampir di Rumah Sakit. Pokoknya, saya sangat suka berhujan-hujan. Berada di bawah langit sambil dijatuhi butiran hujan rasanya sangat menyenangkan.

Sewaktu saya duduk di kelas satu Sekolah Menegah Pertama apalagi. Saya sangat menyukai hujan saat itu. Entah mengapa, buat saya (ketika itu) hujan selalu punya kekuatan untuk membuat saya terdiam sejenak, mengenang masa lalu, mengigat seseorang, merasa sedih, atau singkatnya, membuat saya mengharu biru. Padahal, ketika itu, saya belum benar-benar tahu apa artinya memiliki dan kehilangan. Tapi, saya tahu, hujan berarti pilu yang sempat terabaikan.

Nah, ketika saya memasuki dunia Sekolah Menengah Atas, hujan berarti sakit hati. Hujan berarti kehilangan hati. Hujan berarti, langit sedang menangis untuk saya. Atas beberapa orang yang pergi setelah mereka mampir. Hujan berarti kesendirian yang kesepian. Hujan berarti banyak. Tapi, semakin banyak kawan saya yang menyukai hujan. Semakin banyak komunitas orang-orang aneh yang merasa dirinya terhubung dengan hati, melalui hujan. Namun, seaneh apapun itu, saya masih tetap menyukai hujan. Masih.

Memasuki dunia kuliah, yang berarti tanggung jawab dan dewasa, saya semakin menyukai hujan. Ibaratnya, saya mencari hujan. Di mana ada hujan, akan ada saya. Di mana hujan, di sana saya. Hujan dan saya, rasanya sudah membuat suatu kesepakatan. Ketika saya berdiri di atas bumi, dia akan mendatangi saya ke bawah langit. Bahkan, saya rela berhujan-hujan sepulang kuliah, padahal, di tangan kanan saya, saya menggenggam payung lipat! Bayangkan, apa pikiran orang-orang yang melihat. Mereka yang bergeleng-geleng kepala itu, mungkin akan bilang seperti ini : “
Ari eneng, cageur?”*. Saking mereka heran, apa sih yang sedang saya lakukan? Dan sebenarnya, sekarang, saya juga heran.***


Saat ini, tiba-tiba saya terheran-heran sendiri. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat saya menyukai hujan sebegitunya. Ada apa di balik hujan yang justru menambah kesepian dalam sebuah kesendirian. Apa yang saya tunggu dalam hujan yang menyimpankan pilunya sakit hati. Mengapa saya mencari hujan dan bahkan rela bermandi hujan tanpa khawatir akan terserang flu, atau demam, atau penyakit hujan lainnya. Tiba-tiba saja saya ingin tahu. Mungkin,
flashback ke masa-masa ‘menyukai hujan’. Namun, sekeras apapun pikiran saya mencari tahu, saya tidak menemukannya. Mereka bilang, saya harus bertanya pada hati. Iya, hati. Benda yang membuat logika saya tidak pasti.

Saya ingat sendiri, bahwa menyukai hujan adalah alami. Saya diajarkan untuk mensyukuri keberadaan hujan. Saya terlatih untuk menganggap, bahwa hujan adalah berkah terindah dari Tuhan yang dapat saya lihat lebih sering. Dibanding pelangi atau bintang jatuh. Jadi diam-diam saya menyukai hujan. Diam-diam menyelipkan luka-luka saya di antara tetesannya. Pelan-pelan memaknainya dalam kesunyian yang dibawa hujan sebagai teman. Sehingga saya berteman dengan kesunyian. Kemudian saya, hujan, serta kesunyian menjadi suatu komposisi yang menciptakan rasa-rasa yang khas. Rasa yang dapat dikecap dalam kekata yang dituang untuk berkisah. Meski tak semua orang menyukainya, tetapi, sebagian besar orang dapat menerka rasanya.

Saya, hujan, dan kesunyian, mungkin berteman terlampau lama. Sampai komposisi itu terasa tidak pas, hambar. Mungkin saya yang belum menemukan cara untuk memperbaharui komposisi rasa tersebut. Atau saya, hujan, dan kesunyian telah kehilangan kekhasan kami. Karena rasanya, telah lama saya menjauhi sunyi. Terlalu banyak sunyi yang berarti kesepian dan saya enggan kesepian. Saya tidak lagi menikmati sunyi-sunyi saya ketika hujan. Bagi saya, sekarang, sunyi-sunyi yang diciptakan hujan itu membunuh perlahan. Pelan-pelan dan diam-diam. Sunyi-sunyi yang diciptakan hujan itu membunuh saya dengan air mata. Saya banyak menangis karena entah apa. Saya jadi cengeng, tidak lagi ceria.

Jadi, saya memutuskan untuk berhenti menyukai hujan. Atau paling tidak, saya berhenti menyukai hujan yang mengantarkan sunyi paling kesepian pada saya. Karena saya takut, hujan membawa kembali luka-luka yang pernah saya selipkan di antara tetesannya. Saya khawatir, memaknai luka-luka itu dalam kesunyian akan membunuh saya perlahan. Pelan-pelan dan diam-diam. Tiba-tiba saya mati karena air mata saya sendiri. Menangisi entah apa atau siapa. Menerka-nerka rasa hampa yang tiada. Ah, saya hanya sudah lelah. Jenuh berkomposisi dengan hujan dan kesunyian. Mungkin ini saatnya. Mungkin ikatan mistis saya dan hujan sudah hilang. Mungkin hujan bagi saya sekarang hanya berarti : kebasahan, kebanjiran, berteduh di emper pertokoan, kilat yang menyambar, angin yang terlalu keras berhembus. Mungkin saya kehilangan kemampuan memaknai hujan. Tapi, saya masih mensyukurinya walau seringkali berharap: harusnya hujan tidak turun sesering ini.

Bagaimanapun, saya akan tetap menyukai hujan, meski tanpa makna, tanpa filosofi, dan hampa. Karena saya bertumbuh bersama hujan. Saya hanya berharap tidak membenci hujan karena mengantarkan banyak luka. Kemudian, membuat saya menjadi sakit.

-regards: puterihujan :)

(24-26/09/2010)

ket: *
Neng baik-baik saja, kan?

Senin, 20 Juli 2009

Flashback Time


Butuh waktu yang cukup lama untuk membuktikan kebenaran. Kebenaran tentang yang kau rasakan, kebenaran yang selama ini kau coba pendam, sembunyikan. Itulah mengapa butuh kesabaran ekstra untuk menunggu. Membuktikan pada hati dan dunia dan segala isinya jika kebenaran akan tersingkap lewat waktu. Tapi, Sayang, mungkin kau tak cukup sabar ketika itu. Kemudian, kebohongan dan segala palsu kau aku-aku.


“Dia memang pacarku, dulu.”


Kau bicara begitu kepada orang lain ketika mereka menanyakan tentang kau dan aku. Sebenarnya aku tak butuh pengakuanmu kepada dunia tentang siapa kita dulu. Sebenarnya aku tak peduli pengakuanmu kepada semesta tentang keberadaanku. Aku hanya ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu, ucapmu, kata-katamu, suara khasmu, dan intonasi kejujuranmu. Meski dulu sejuta kali kau bilang begitu. Meski dahulu, tak bosan kau ingatkan aku : “Kamu, pacarku.”


Bicara lantang dengan hati berbisik itu mudah dilakukan. Karena kau tak perlu mendengarkan. Atau memedulikan hati yang berteriak menuntut kebenaran. Yang kau perlukan hanya bicara. Berkata-kata tanpa nurani ikut serta. Tak perlu peduli seberapa sakit yang kurasa. Begitu mudahnya, yah, lupakan saja.


Tapi, bolehkah sekarang aku yang memilih ? Setelah selama ini kuabai pedih-perih. Bolehkah aku bilang kalau aku tak tahu siapa dirimu ? Bolehkah aku melupakanmu seperti kau melupakanku ? Bolehkah membuangmu, seperti dulu kau membuangku ? Bolehkah kuminta jangan katakan aku mantan pacarmu jika aku bertemu kau dan dia ? Bolehkah kulakukan semua itu ? Setelah kau mencampakkanku.


Kurasa, aku boleh.


Bandung, 20 Juli 2009. 23:26

-untuk eR.