kirimkan hujan ini ke . . .

Tampilkan postingan dengan label think.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label think.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2015

H U M A N (S)

Lama sudah tak menulis lagi. Semenjak masuk pascasarjana waktu memang tersita sekali. Hidup pun berubah seiring mimpi. Tapi, saya tetap jadi orang yang sama hanya berusaha lebih baik setiap kali. Berapapun manusia yang telah saya temui, rasa-rasanya tak akan saya jadi mereka. Ah, lebih baik jadi diri sendiri yang upgrade setiap kali.

Jadi...kuliah saya sudah mulai sejak September tahun kemarin. Awalnya saya enggan sekali kuliah karena: 1.Bukan kampus impian saya; 2.Sebagai orang Bandung, cuma saya yang almamater kampusnya bukan di Bandung, malas menjelaskan kepada mereka-mereka setiap kali bertanya darimana; 3.Bertemu orang baru bukan hal favorit saya.

Singkat cerita, kuliahlah saya dengan pertimbangan uang bayaran yang sudah diserahkan. Meskipun jurusannya klinis, saya kan orangnya industrial banget, sejak S1 ancang-ancang ke PIO, lulusnya kerja di perusahaan besar dan bonafide, punya usaha sendiri, dsb. Tapi mungkin inilah jodoh. Meskipun mimpi saya untuk jadi pengusaha belum padam juga. Apapun jurusannya, lulusnya tetap jadi pengusaha, begitu moto saya.

Kuliah di pascasarjana ini membuat saya harus bertindak semakin dewasa. Apalagi karena berhadapan dengan para calon psikolog semua. Bertindak dewasa itu bukan memakai topeng dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, dewasa itu bagaimana kita bisa bersikap sesuai waktunya, bagaimana menyampaikan emosi yang kita rasa tanpa menyakiti manusia yang lainnya. Ah, iya manusia...

Saya bertemu macam-macam manusia sejak masuk pascasarjana. Dari teman sekelas sampai mereka yang harus dijadikan OP, dari dosen sampai mamang-mamang tukang jualan. Banyak sekali orang baru yang ada dalam rutinitas saya lima bulan belakangan ini. Macam-macam rupa, macam-macam jiwa. Memilih-milih teman yang selama ini ada di kamus hidup saya tiba-tiba tidak bisa terpakai begitu saja. Tapi, saya tetap pada pendirian bahwa kita harus memilih orang-orang yang masuk dalam kehidupan kita, mereka yang hebat-menghebatkan-dihebatkan. Hubungan harus ada timbal-balik seperti itu.

Kebiasaan saya adalah berteman dengan manusia-manusia yang dijauhi, dianggap menyebalkan, atau punya cap buruk pada masa lalunya. Iya, mereka yang tidak hebat, tapi mungkin bisa menghebatkan dan dihebatkan. Sesekali saya tergoda dengan beberapa manusia yang terlihat hebat, meski nyatanya tak selalu hebat atau bisa menghebatkan. Lantas baru saya sadari, dari manusia-manusia yang dianggap tidak hebat itu beberapa di antaranya memang begitu. Maksudnya, sebenarnya bukan mereka tidak hebat, tapi cara mereka menghebatkan dirinya adalah dengan menjatuhkan orang lain. Menjatuhkan orang lain bukan hal hebat untuk dilakukan.

Untungnya (orang Indonesia selalu mengambil "untung" (baca: hikmah) dari setiap masalah), karena belajar psikologi klinis, punya banyak teman yang lebih tua, punya teman-teman curhat yang IQ-nya tidak melati sehingga setiap kali saya berkeluh-kesah saya diajari bagaimana menghadapi, bukan melampiaskan emosi (makasih), saya menjadi tahu apa yang harus saya lakukan kepada manusia-manusia yang dianggap tidak hebat itu. Menjauhinya jelas pilihan utama mereka yang awam soal psikologi atau ajaran agama tentang silaturahmi. Jadi saya tidak menjauhi, sebesar apapun rasa tidak suka dan sakit hati kepada mereka. Manusia-manusia seperti itu tidak perlu dijauhi, sudah banyak orang yang menjauhi mereka, saya tidak perlu jadi salah satunya.

Lantas, bagaimana ? Untuk hal ini saya menggunakan reaksi formasi, yaitu memunculkan sikap yang berlawanan dengan emosi. Jadi ketika tidak suka bersikaplah baik, lebih baik lagi kepada mereka. Reaksi formasi ini bukan bersikap munafik ya, yang hanya baik di depan manusia-manusia tidak hebat itu. Tapi, harus tetap baik, selalu baik, di depan mereka, di belakang mereka, bahkan ketika ada orang-orang yang membenci mereka. Karena balas dendam terbaik adalah bersikap penuh kasih sayang kepada mereka yang bersikap buruk dengan kita. Kita belajar dewasa, mereka menghebatkan diri kita dengan menjatuhkan diri mereka, tapi kita berusaha menghebatkan mereka. Tuh, keren banget kan. Susah sih, sangat susah, apalagi karena cap buruk yang melekat pada mereka bukan tanpa alasan, mereka pasti keras kepala dengan perlakuan buruknya kepada orang lain. Tapi, setiap kebaikan ada jalannya. :)

Sayang sekali, tidak semua manusia tidak hebat bisa diatasi dengan reaksi formasi. Ketika sikapnya melunjak, tentu kita harus ambil langkah lainnya. Jaga jarak. Tetap bersikap baik tapi jaga jarak. Pelajari kapan harus bersikap baik, kapan harus menjaga jarak. Untuk versi asertif-nya, kita bisa bicara langsung kepada yang bersangkutan empat mata atau pakai mediator atau pakai alat perekam. Kenapa ? Karena mereka dikenal "naik dengan menjatuhkan yang lain", untuk jaga-jaga agar bicara kita tidak dijungkirbalikkan faktanya. 

Manusia-manusia tidak hebat lambat berubah menjadi lebih baik karena mereka keras kepala, bahwa yang mereka lakukan adalah benar, sementara orang-orang lain yang tidak menanggapi, tidak serupa adalah salah. Manusia-manusia tidak hebat cenderung berpandangan negatif kepada hampir setiap orang, selalu ada yang salah dari orang-orang di sekitarnya. Untuk itu, jika kita bersama seseorang yang hampir selalu bicara tentang keburukan orang lain tanpa tedeng aling-aling meski kesalahan orang itu sama sekali tak merugikan dia, maybe dia adalah manusia tidak hebat. Manusia tidak hebat selalu menghebatkan dirinya di depan orang lain dengan cara menjatuhkan orang lain, ketika keadaannya berbalik, mereka akan bersikap seolah korban situasi. Singkatnya, mereka manipulatif dan kadang-kadang agresif.

Untuk sementara, karena Minggu menjelang siang, itu dulu sekilas tentang segolongan manusia yang sempat saya temui lima bulan belakangan ini. Lain waktu diceritakan lebih lengkap lagi. ;)

"Naiklah tanpa menjatuhkan orang lain", socmed copasted

-regards, PuteriHujan-

#25152015. 6:53 AM

Minggu, 18 Mei 2014

My LIfeLong Dream (part 3-finish)

Tanggal 18 Mei adalah hari penentuan. Penentuan usaha capek-capek kemaren. Jam 12 teng biasanya sudah bisa dilihat. saya lihat Subuh kalau tidak salah. Saya masukkan semua nomor ujian peserta mapro PIO, dari nomor 1-48 (tentunya saya yang terakhir. Seluruh teman yang saya kenal tidak lolos, tambah deg-degan aja. Eh tapi, peserta yang diwawancara sampai menangis sebelum giliran saya, dia lolos, yang sesudah saya pun lolos. Saya...? Tidak.
Maaf yang itu lagi... lagi, lagi.

Lumayan sedih rasanya melihat usaha capek-capek dan lapar-lapar itu jadi angin, fiuh. Meskipun gelagat tidak diterima udah ada sejak liat para penguji. Kemampuan saya dari S1 memang belum sampai sana. Kalau dua orang almamater yang saya nilai hebat saja tidak lolos, bagaimana saya, yang belum hebat? Kecewa sih tidak, ngan lebar acisna euy sajutaeun, mun daptar deui dua jutaeun. Jadinya malah bingung. Lantas apa yang akan saya lakukan selanjutnya ?

Menunggu jodoh sama impian saya, sambil terus berusaha, bikin rekomendasi ke Jogja, wawancara ke Depok. Atau daftar univ yang pasti lulus, padahal saya berharap sebisa mungkin saya jangan kuliah di sana. Yaa, itulah. JODOH. Mungkin Tuhan suruh saya membaca pertanda, seharusnya saya masuk PKA saja. Niatan awal mengapa saya kuliah psikologi ada di sana, di PKA (kalau mentok boleh deh PKD, atau forensik). Kemarin itu saya hampir mendaftar PKA, cuma bimbang. Bukan masalah tidak suka materi, justru saya lebih suka yang klinis daripada pio begitu. Meskipun skripsi saya pio.

Saya takut sama anak-anak. Yap, kalau ada orang takut sama kucing (makhluk kecil paling cantik sedunia -menurut saya-), saya takut pada anak manusia. Usia-nya dari 1-9tahunan. Entahlah, saya takut saja, bingung emangnya harus ngapain sama anak kecil. Sebel kalau ada anak kecil yang super bandel. Ugh. Mungkin setiap melihat anak kecil akan membangkitkan trauma saya, ingat apa-apa yang terjadi sewaktu saya kecil sehingga saya ngotot jadi psikolog. Saya ingin "balas dendam" dengan cara yang benar. Tapi, saya takut anak kecil. Sedangkan PKA, kliennya sudah pasti anak kecil. Kalau tidak bisa meladeni anak kecil, pasti terhambat deh tuh, tugas-tugas. Seumur hidup saya tidak pernah menggendong anak kecil pun. Bicara sama balita saja cuma sama sepupu. Jadi, apa yang saya takutkan itu adalah jodoh saya ?

Lagi-lagi JODOH. Tuhan sebaiknya jangan mengirimkan pertanda, karena otak saya lemot membaca pertanda. Saya lebih memilih dipilihkan, saya juga bingung bagaimana mungkin bisa Tuhan langsung memilihkan tanpa mengirimkan pertanda. Saya melamar kerja, tak ada yang jodoh. Emm, ada sih, PTI seleksi masih berlangsung (mengharap saja karena belum ada pemberitahuan siapa yang lolos). Kuliah pun saya pilih impian, belum direstui. Rasanya sedih, bukan karena tidak lolos dari satupun yang sedang diusahakan. Sedih karena sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, lambat membaca pertanda.

Target menikah saya (paling telat) usia 27 tahun. Tapi masa, saya harus nganggur sambil mencari imam saya ? Kecuali saya nikah besok, mungkin jodoh-jodoh yang lain tak harus sedih bagaimananya, karena rupanya begini. Tapi tidak mungkin menikah semudah itu, yang entah langsung ketemu nikah (ngeri, saya phobia orang asing). Saya bingung mengusahakan jodoh saya di perusahaan atau institusi pendidikan. Mungkin usaha saya kurang keras dalam berusaha menemukan jodoh-jodoh itu. Mungkin hidup saya masih terkungkung ini-itu.

Akhirnya saya memutuskan jeda, setelah leha-leha 8bulan pasca wisuda, sisa bulannya kelabakan lamar-lamar para jodoh sana-sini. Jeda sampai tanggal 27-28 Mei ini. Untuk refreshing sih, karena janjian traveling. Mungkin diperjalanan dan pertemuan dengan teman-teman, saya jadi bisa berpikir jernih, lebih jernih. Mungkin Tuhan sedang menyiapkan jodoh terbaik buat saya, jadi saya harus menyiapkan diri, entah jodoh mana duluan yang menghampiri. Semoga Tuhan tidak lagi mengirimkan pertanda karena tahu hamba-Nya yang satu ini lemot sekali membaca pertanda. Semoga Tuhan langsung menunjuk, kejadian-kejadiannya accidental, kebetulan, tiba-tiba. Tak apalah untuk kali ini biar hidup jadi kejutan. Doakan saya ya !

*p.s. dear, Tuhan Sayang, hamba-Mu ini, bingung harus apa.

-regards, PuteriHujan-
18052014. 07:33PM

Sabtu, 03 Mei 2014

My LifeLong Dream (part 2)

Tanggal 30 April kemarin saya menutup bulan dengan macet-macetan di  jalan dari Jakarta menuju Bandung.  Lagi-lagi Jakarta, ada apa rupanya. Seperti biasa, di Jakarta itu saya menumpang tidur. Urusan sebenarnya lagi-lagi (alhamdulillah) di Depok. Tanggal 25 April malam, saya kebetulan sedang melihat site fakultas tujuan. Ada pengumuman peserta lolos tahap 1 (ujian TPA ~yang sulit sekali dan bahasa Inggris). Alhamdulillah, Tuhan Maha Baik, saya lolos bersama 47 peserta ujian profesi PIO.

pengumuman tahap 1
Rasanya, selain bersyukur, saya sekaligus tidak percaya. Besar benar kuasa Tuhan ya, saya yang merasa bukan siapa-siapa dan rendah diri karena lulusan kampus swasta (yang ketika disebut namanya orang juga tak tahu tentangnya) bisa lolos seleksi bersama almamater dari sekolah-sekolah keren. (saya baru tahu ketika melihat daftar absen). Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah, Allahku. :)

Kemudian, ditetapkan hari Selasa, tanggal 29 April, saya harus ikut ujian tahap 2 (psikotes, fgd, wawancara). Lebih mirip tes kerja tahap dua memang ya, karena selain profesi, tesnya hanya berupa tes tulis. Selain itu, saya juga harus melengkapi syarat-syarat berkas untuk dikumpulkan, dan... surat rekomendasi!!! Padahal, sebelum mendaftar saya sempat bertanya ke pmb, apakah ada surat rekomendasi.  Jawabannya sih, tidak ada, karena hanya dibutuhkan untuk mereka yang S3 (doktor). Jadi, fix saya kaget dan lemas. Karena kampus di Jogja, saya di Bandung, ujian di Depok. Waw.

Berterima kasihlah kepada teknologi, pertama-tama, karena rupanya surat rekomendasi boleh berupa scan. (tapi saya tetap tak mengerti bagaimana agar amplopnya di ttd, tokh sudah tidak rahasia karena scan, kan, jadinya saya tak pakai amplop yg ditandatangai :( ). Selanjutnya, terimakasih kepada yang mau repot memohonkan surat rekomendasi sebagai perpanjangan tangan saya; makasih Sayang. Terakhir, penting... terima kasih kepada empunya tandatangan dan pemberi rekomendasi yang mau saya rusuh-rusuh. :)

Surat rekomendasi saya baru jadi hari Minggu, sementara saya masih bingung akan berangkat hari apa, menginap di mana. Akhirnya saya berangkat bareng papa (fyi, ayah saya kerja di Jakarta dan mengontrak di sana). Di Jakarta saya menginap di kontrakan bareng-barengnya papa dengan teman kantornya. Baiknya, papa juga meminjamkan mobil (yang padahal harusnya dipakai ke kantor, beliau malah naik taksi, makasih papa!) dan bahkan mendatangkan supir Bandung untuk antar saya selama ujian (karena supir kantor kan "pamali" kalo dipinjam semena-mena). Walaupun akhirnya hari kedua saya diantar supir kantor papa, karena supir Bandungnya sukses membawa saya keliling separuh Jakarta di hari pertama, NYASAR! But, thanks to GPS.

Ujian hari pertama di mulai hari Selasa, jam 8. Lumayan siang ya, tapi karena alasan MACET, sya tetap mandi jam setengah lima dan sudah berangkat jam setengah enam... dan dengan sukses sampai jam setengah tujuh. haha. Akhirnya nunggu di mobil dan jam setengah delapan baru naik ke tempat tes. Di sana sudah banyak orang rupanya. Sempat berkenalan dengan beberapa orang. Dua orang di antaranya, jadi nempel terus selama tes, karena ternyata kami sama-sama PIO.

Ujian pertama ini, seluruh peminatan berbarengan, meskipun secara duduk sudah dikelompokkan. Tesnya gampang karena bukan jawaban benar salah, tapi psikotes. Tes gambar, isi data diri, kuesioner, tes-tes kepribadian. Selesai itu, bikin SUNGAI KEHIDUPAN (yang sempat riweuh juga karena bingung gimana cara penulisannya.haha). Baru jadwal wawancara diumumkan. Ternyata PIO dapat jadwal esok hari. Sempat kecewa sih, karena kan sudah berharap prosesnya sehari saja.

(lalu saya pulang dan nyasar berkeliling separuh Jakarta, memutari tugu tani beberapa kali, mungkin kalo lebih sering lagi bakal dapat cangkul)

Ujian hari kedua bikin deg-degan. Karena dalam pengumuman kami dibagi beberapa kelompok yang terdiri dari 9-10 orang dengan 2 psikolog. Pengumumannya cuma bilang wawancara. Ternyata, pas di tempat ujian, kami juga fgd di ruang dosen (jadi dejavu bimbingan skripsi bebarengan). Fgd berlima-berlima, berarti kami yang 10 orang ini dibagi lagi dua kelompok. Saya dapat kelompok fgd pertama. Berlangsung cepat karena ada dua anak UI di kelompok saya. Memangnya kenapa? Anak UI itu leadershipnya BAGUS BANGET. Mereka berdua bisa membuat semua punya kesempatan bicara dan menghentikan yang kebanyakan bicara (karena memangkas waktu pembicara lain). Makasih dan keren.

Setelah dua kelompok dari kelompok 10 orang fgd, lalu wawancara. Wawancara di kelompok saya berjalan sangaaaaat lambat karena jeda dari tiap peserta bisa 15-30 menit sendiri. Sementara kelompok lain begitu ada yang keluar yang lain langsung masuk. Tapi, terima kasih buat Disna dan Nurul yang mau menemani saya sampai saya selesai wawancara (semoga kita bertemu saat daftar ulang ya, aameen).

Menunggu saja sudah bikin gugup, belum lagi cerita-cerita peserta yang macam-macam setelah selesai wawancara. Ada yang dipojokkan, ada yang ditanyai materi, ada yang ditanyai skripsi, ada yang dibandingkan kecerdasannya dengan almamater. Macam-macam. Terakhir, yang bikin jantung lumayan melorot, peserta sebelum saya menangis keluar dari ruang wawancara. Aaak. Tapi saya kuatkan hati. Ah, emang mau diomongin kaya apa sih sampai nangis begitu. Pasti ngga ada yang lebih galak dari mama saya. Haha.

Di dalam adem (karena ada AC). Saya yang sulit senyum ini, pasang muka full senyum padahal sudah lusuh, lapar, dan mengantuk. Pertanyaan yang keluar standar, sama kaya wawancara psikolog kerja. Cuma di sini saya kebagian ditanya materi dan skripsi (yang sudah saya lupa) juga. Untungnya skripsi bikin sendiri dari A-Znya, jadi minimal ingat garis besarnya. Pewawancaranya ada yang Doktor, jiper banget pas tahu akan diwawancarai beliau. Tapi, bagaimanapun, alhamdulillah lancar sampai keluar ruangan.

Well, meskipun saya tidak tahu apa hasilnya kelak. Tapi semoga semua usaha saya dan doa-doa saya direstui Allah. Saya tahu Allah Maha Baik dan Maha Pemberi. Semoga Allah memberi restu saya melanjutkan study di kampus imipian saya ini. Semoga doa-doa mereka yang diam-diam mendoakan diijabah. Semoga, bulan September  tahun ini, saya sudah bisa ikut kuliah di kampus yang saya impi-impikan. Aameen.

Manusia  berusaha. Manusia berdoa. Allah yang merestui. :)

-regards, PuteriHujan-

#03052014. 12:05 AM

Senin, 14 April 2014

My LifeLong Dream (part 1)

Baru saja kemarin saya balik dari Jakarta. Umm, sebenarnya ke Jakartanya cuma numpang tidur untuk urusan ke Depok. Ada apa dengan Depok ? :) Ada impian seumur hidup saya, UI. Jadi, kemarin Minggu itu saya ada ujian masuk pasca sarjana di UI. Setelah tahun 2007 gagal masuk UI lewat SNMPTN, tahun 2009 belum diterima lagi lewat UMB (saat itu saya proses pindah kuliah dari UnPar-Bandung). Susah ya masuk UI, susah banget. Apalagi saya ngga pernah ikut SIMAK, karena waktu itu orang tua saya tidak mengizinkan saya kuliah Psikologi, apalagi di luar Bandung. Tapi tokh, akhirnya saya ke Jogja dan kuliah S1 Psikologi.

Yah, singkat cerita, ceritanya saya pantang menyerah (padahal rasa-rasanya usaha saya begitu doang), SIMAK UI tahun ini saya ikutan, pakai diantar papa-mama lagi ke Depoknya, haha! (coba dari dulu ya). Meskipun telat satu tahun, karena saya lulus April 2013 dan ngga ikutan SIMAK 2013 karena masih tertahan di Jogja saat itu, dan pas mau daftar, kelewatan tanggal, belum bayar (padahal sudah verifikasi). Alhamdulillah, tahun ini bisa ikutan dan yakin mau pilih prodi apa. Sebelumnya sempet bingung antara PIO sama PKA. Kok  jauh banget ? Ya, nanti aja dibahasnya.

Kuliah di Depok itu cita-cita saya dari SD (kelas 5). Sementara jadi Psikolog itu cita-cita dari kelas 3. Tapi tertahan karena saya dulu tidak diperbolehkan kuliah di luar Bandung, sedangkan kampus negeri Bandung psikologi harus IPA, jurusan saya waktu SMA IPS dan saya ngga mau ambil IPC. *pusing banget harus belajar kimia, jurnal aja it's enough* Jadi, karena itu saya "nyasar" ke jurusan manajemen di kampus swasta katolik. Sebenarnya diterima juga di kampus swasta dengan jurusan psikologi, tapi entah kenapa ngga saya ambil. Mungkin karena kurang sreg waktu itu.*tp mau daftar lagi buat cadangan pasca sarjana kali ini -__-"

kartu peserta :)

Tanggal 12 saya berangkat ke Jakarta (lewat Depok sekalian cek lokasi). Saya belum pernah ke UI, cuma pernah ke Depoknya aja. Ternyata UI memang sangat luas sekali dan hutannya itu loh, udah mirip kaya hutan samping jalan tol, rimbun banget. Sebenarnya saya takut petir dan Depok sebagai daerah petir nomor satu dunia(?) ngga bikin semangat saya hilang buat masuk UI (walaupun ya kemaren-kemaren kepikiran BANGET).

Di fakultas Psikologinya, saya disambut 2 ekor kucing. Karena saya pecinta kucing, mama saya langsung aja nyeletuk, "Wah, disambut sama kucing, kayanya masuk." *dalam hati: AAMIIN*. Di sana saya tanya ke satpam dan diberi list nomor ujian dan ruangan. Saya dapat ruang di atas perpustakaan psikologi. Sayangnya, ternyata di ruangannya belum ditempeli nomor ujian. Tapi firasat sih duduknya di ujung (kalau ngga depan ya belakang, karena nomor ujian yg pangais bungsu di ruangan itu).

Sepanjang jalan-jalan keliling psikologi UI, ketemu Teteh-Teteh cantik terus. Terus ketemu semua orang yang ramah. Sampai mama bilang, "Kayanya kamu diterima nih. Semoga diterima. Di sini orangnya cantik-cantik banget ya."*dalam hati AAMIIN terus.

Menjelang malam saya ke Jakarta, ke kos papa. Papa kerja di Jakarta dan kost karena rumah di Bandung. Sebenarnya saya dalam kondisi kurang sehat pas berangkat untuk ujian, udah seminggu sakit batuk, tapi bukan flu. Kena wabah di komplek. Malamnya, di kost papa, batuknya malah menjadi-jadi dan ngga berhenti. Plus, malah kedatangan si bulan hari itu juga. :( Tapi malamnya dipaksakan tidur setelah minum decongestan+antihistamin, walaupun kebangun-kebangun karena batuk terus, keringetan terus. Jam 3 kebangun dan akhirnya dipakai siap-siapin barang, jam 4 mandi, setengah 5 berangkat, sampai UI kepagian. Jam setengah 6 kurang sepuluh menit, masih gelap. -_-"

Akhirnya nunggu di mobil sampai jam 6 lebih. Jam 6 lebih menuju ruangan tapi pengawasnya aja belum dateng, jadi muter-muter dulu, merenggangkan badan (dan otak?). Bukannya belajar ya, abis saya ngantuk sekali plus ngga enak badan. Jam setengah 7 siap-siap masuk ruangan dan pengawasnya baru datang + nempel no ujian. Nungguin sampe jam 7. Masuk ruangan, alhamdulillah duduk dekat pintu dan di depan. :D 

Tes pertama ituTPA, tapi pengawas nyebutnya PEKA. Saya bilang TPAnya suliiit. Mungkin karena yang tes bukan hanya untuk S2 tp juga S3 ya. TPAnya butuh perjuangan, apalagi untuk SETIAP JAWABAN SALAH -1. Harus super teliti dan hati-hati sambil tetap berpikir cepat. TPA ada 3 bagian, tiap bagian 1 buku dan punya waktu berbeda. Pertama tes verbal 30 menit (40 soal). Kedua tes kognitif, matematika 35 soal 50 menit. Memang sih soal matematikanya ngga serumit kalkulus, tapi susah juga karena waktunya sempit. Ketiga tes logika (banyak matematikanya juga), 40 menit 30 soal. Mungkin saya pusing efek ngantuk+batuk selama tes :(. Hiks, pesimis. Tapi tetap berharap.

Setelah itu, ada istirahat 45 menit. Awalnya mau jajan ke alfamart, tapi melihat antrian mengular, balik lagi, minum air putih yang bawa sendiri aja, lagian batuk terus, bingung mau makan apa. Sempet ngobrol sama peserta asal Samarinda dan asal UI (yg ini dia sambil belajar materi Bahasa Inggris, beda emang mental anak UI, hehe).

Tes Bahasa Inggrisnya TOEFL banget dikurangi listening. 90 soal 90 menit. *kayanya sih 90 soal di buku soal saya* Tes ini tanpa penalti, jadi saya jawab semua-muanya. Saya malah ngerasa Bahasa Inggrisnya lebih mudah (soalnya udah parno karena lemah di Bahasa Inggris). Tapi ada insiden, soalnya ada peserta yang ngga tahu kalau ternyata soalnya 90, dia kira cuma 60. Jadi LJKnya itu bolakbalik, dan peserta itu ngga periksa kalo dibaliknya ada lanjutan untuk pengisian. Dia bilang dia ngga isi 35 soal. .___.

But, yang menyenangkannya, walaupun saya ujian dalam keadaan sakit, ngga bisa ngerjain TPA, tapi entah kenapa seharian itu sama sekali ngga ada yang mengesalkan saya. Hebat loh, saya bisa ngga kesal di posisi sakit dan kedatangan bulan. Hari itu semuanya terasa ploooong banget. Terlepas dari susah bangetnya soal ujian masuk UI, saya masih teruuuuus berharap kalau saya bisa lolos dan lulus jadi mahasiswa pascasarjana di sana. Semoga Allah tahu kalau saya pengeeeeeeeen banget kuliah di sana. Semoga ada kesempatan, rezeki, dan kemampuan. 

AAMEEN.

-regards, PuteriHujan-

#14042014. 06:45 PM

Jumat, 28 Oktober 2011

finally, it's rain out there. *i miss u..


Hujan selalu tahu bagaimana caranya membuat saya rindu, meskipun di beberapa post sebelumnya saya pernah berkata, "Rain no more." namun, ternyata tanpa hujan, dunia terlalu tidak nyaman buat saya.

Akhirnya, kerinduan yang banyak itu luruh. Dibasahi hujan yang seluruh. Saya rasa, saya akan berkomposisi dengan hujan lagi kali ini. Namun, tanpa kesepian, mengurangi luka dan memperbanyak cerita bahagia. Semoga hujan dan saya kembali menemukan komposisi khasnya yang berbeda.


-regards, puterihujan...

#28102011. 7:07 AM

Minggu, 23 Oktober 2011

karena engkau begitu berharga... :)


wanitaku sayang, kalian sangat berharga. jangan pernah merendahkan dirimu sendiri. tak ada seorangpun yang mampu merendahkan kalian, kecuali kalian mengiizinkannya.

jaga diri, jaga hati, jaga tubuh, jaga harga dirimu. :)


-regards, puterihujan-
*makasih buat Mbak Rani untuk foto dan inspirasinya... sang Perempuan Lindap Kembang.

#teruntuk semua wanita yang mencari...

Rabu, 01 Juni 2011

Ewuh Pakewuh versus Hypocrite versus Assertiveness


Judul yang agak cadas, saya tahu… :)




Ewuh Pakewuh, buat yang belum tahu, itu artinya bersikap segan kepada orang untuk menjaga hubungan, untuk menjaga perasaan orang yang bersangkutan, untuk menjaga kedamaian.





“Budaya Ewuh Pakewuh yang berarti sungkan dalam batas-batas normal akan meningkatkan tali silahturami dalam suatu lingkungan, kumpulan atau organisasi. Budaya demikian merupakan cerminan budaya timur yang sangat menghargai orang lain dan tanpa bermaksud menjatuhkan apalagi mempermalukan orang lain.”- kutipan blog orang.


Tapi, namun, but… Saya rasa dan saya pikir (setelah melihat banyak fenomena tentunya) budaya Ewuh Pakewuh ini sudah terlalu kental dan mendarah daging di Indonesia, khususnya (tanpa bermaksud SARA) di kebanyakan daerah Jawa (tengah dst).




(tulisan ini hanya sekedar share tanpa bermaksud mendiskreditkan golongan atau kelompok apapun :) )




Ya, Ewuh Pakewuh sepertinya memang berasal dari kebudayaan Jawa. Orang-orang Jawa dikenal akan keramahtamahannya, akan sikap dan tuturkatanya yang selalu lembut meskipun mereka tidak suka, tapi mereka tak pernah menunjukkan terang-terangan apa yang dirasakannya. Lagi-lagi ini generalisasi, meskipun tidak semua orang Jawa (yang saya tahu) bersikap begitu.





Sebenarnya budaya Ewuh Pakewuh itu baik, karena maksudnya untuk menjaga perasaan dan jalinan silaturahmi sesama manusia. Agar hidup ayem tentrem dengan tetangga, saudara dan teman. Namun, coba tebak apa yang akan terjadi kalau sikap dan maksud baik dari Ewuh Pakewuh dilakukan berlebihan ? :)






M-U-N-A-F-I-K. Ya, MUNAFIK! Satu kata yang paling-paling-paling-paling-paling-paliiing saya benci. Meskipun (jujur) saya terkadang melakukannya dan menjadi lebih sering lagi ketika saya berada di Jogja ini.




Katanya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi, saya putuskan untuk “belajar” bersikap Ewuh Pakewuh. Tapi rupanya saya belajar dari (kebanyakan) orang yang salah, salah kaprah tentang Ewuh Pakewuh. Jadilah, bukannya bersikap dan mempraktekkan Ewuh Pakewuh yang benar, saya malah menyerempet jadi munafik.




Contoh nyatanya sih, ketika sedang kesel banget sama orang, biasanya saya lebih memilih menghindar dari orang tersebut (karena kalau ketemu, muka saya bisa berubah jadi monster yang sangat menakutkan). Tapi, kemudian saya mempraktekkan Ewuh Pakewuh salah kaprah yang saya pelajari, saya terpaksa (terpaksa banget!) bermanis-manis muka, tutur kata, tersenyum tulus (tapi terpaksa, dan dalam hati misuh-misuh). Ya, saat itu saya merasa jadi orang munafik. Karena saya tipe orang yang : salah itu hitam dan benar itu putih. Suka ya bilang suka, ngga ya tinggalin aja!




Jika saya mengalami hal di atas ketika saya di Bandung, itu menjadi lebih mudah. Karena, saya bisa memakai istilah Wawuh Munding yang artinya ‘kenal kebo’. Lha? Hahaha, maksudnya, seperti kerbau yang saling bertemu di jalan, tersenyum tapi ngga usah sok bermanis-manis.




Mungkin, Ewuh Pakewuh memang berguna untuk menjaga hubungan silaturahmi. Tapi, menurut saya daripada saling diam dan menyimpan dendam, kenapa ngga pada saling ngomong saja sih ? Kenapa senyum-senyum tapi belakangnya tikam-tikam? Dan ujung-ujungnya, saya semakin menjadi krisis kronis kepercayaan di sini (Jogja). Saya merasa orang yang bisa saya percaya SANGAT SEDIKIT, tentunya saya percaya pada orang-orang yang tidak pakai Ewuh Pakewuh salah kaprah yang menjurus munafik. Saya tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya mendukung siapa (saya selalu jadi pihak netral, namun menghindari orang-orang yang selalu bermasalah sama orang lain, kalau bermasalah sama satu orang, itu wajar, tapi kalau lebih tiga orang yang mempermasalahkan, hiiiy).




Saya mengalami ini dan saya kadang (sering sih) malah jadi stress sendiri. Dan sepertinya, bukan saya saja yang mengalami, ada seorang teman yang sama-sama perantau yang juga mengalami ini. Nah, intinya sih kami bingung dengan Ewuh Pakewuh (yang salah kaprah, yang berlebihan). Saya jadi menjaga jarak kepada banyak orang karena… ya, karena itu tadi. Saya tidak pernah tahu, sikap baiknya tulus atau hanya budaya Ewuh Pakewuh, atau parahnya lagi simbiosis parasitisme (mutualisme diterima lah yaaa).




Jadi, curhatan saya dengan pemikiran dangkal saya ini, sebenarnya ingin berusaha meluruskan dengan mengira-ngira. Mungkin… budaya Ewuh Pakewuh itu sebenarnya dimaksudkan untuk melatih seseorang bersikap asertif, bukan agresif. :)





Asertivitas.



“Asertif mengandung pengertian untuk mengatakan dan bertindak sesuai dengan hati nurani dan benar adanya. Hanya dua warna untuk asertif ini : Hitam atau putih. Orang yang bertingkah laku asertif, memiliki keberanian sungguh-sungguh untuk mengatakan kebenaran yang ada sekalipun ia siap untuk tidak disenangi orang lain. Ia berani mengatakan apa yang benar kepada orang lain tanpa perlu merasa ada hutang budi atas kebaikan orang lain tersebut. Bahkan ia sangat selektif menerima pemberian orang lain, jika pemberian tersebut nantinya akan menganggu idealismenya untuk menegakkan kebenaran. Orang Asertif juga mengisyaratkan penyampaian pendapat sekalipun pendapatnya tersebut sudah pasti benar. Tidak Ceplas-ceplos dan blak-blakan yang terkesan tanpa etika komunikasi.”-kutipan blog orang.



Asertif adalah :

n Mengatakan tidak

n Memulai, melanjutkan/memelihara, dan mengakhiri pembicaraan

n Minta pertolongan

n Mengekspresikan perasaan (+ dan -)

n Meralat

n Memuji, menerima pujian

n Mengekspresikan perasaan

n Menyapa

n Menyatakan ketidaksetujuan

n Menanyakan sebab

n Membicarakan tentang diri sendiri

n Melihat mata orang lain

(Lazarus dan Rathus, materi kuliah Modifikasi Perilaku)





Menurut saya pribadi (karena blog ini adalah curhatan dengan sedangkal pikiran dan seiprit keilmiahan saya) budaya Ewuh Pakewuh harusnya dimaknai dan dilakukan serta dijadikan seperti asertivitas. Kenapa ?




Asertif bukanlah bicara blak-blakan tanpa tedheng aling-aling (maaf kalo salah penulisan). Asertif adalah bagaimana mendapatkan hak kita, menyatakan keberatan, mengekspresikan emosi, dan menolak tanpa menyakiti yang bersangkutan (yang ditolak, yang tidak kita senangi). Memang sih, rasanya hampir mustahil kalau menolak atau menyatakan keberatan tapi tidak membuat yang bersangkutan tidak enak hati, tapi lebih baik begitu. Asertif itu kejujuran yang sopan. :)




Saya menulis ini, curhat tentang ini, karena saya sudah ENEG sama Ewuh Pakewuh yang salah kaprah yang diterapkan lingkungan sekitar saya. Dan ketika saya searching, malah jadinya banyak yang memandang SARA budaya yang sebenarnya bermaksud baik ini. Yah, memang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dan bukan hal mudah bersikap asertif di masyarakat yang sudah terlanjur menerapkan Ewuh Pakewuh yang salah kaprah (khususnya masyarakat pendidikan rendah, di daerah tempat tinggal saya di Jogja sini). Ketika bersikap asertif kita memang harus siap menerima permusuhan karena dianggap sombong. *btw, asertif dalam bahasa Inggris dapat diartikan sombong dalam bahasa Indonesia*




Ya, saya berusaha bersikap asertif namun menjaga agar tidak malah jadi agresif (jujur sih, dulu saya lebih ke agresif, ga suka yaudahlaah). Mulai dari menolak memberikan contekan (dan tentu saja banyak yang komen-komen nyakitin hati, saya tahu bahkan dengar sendiri, tapi biarlah!), mulai dari menolak menuliskan nama anggota kelompok kalau tidak mau ikut partisipasi padahal sudah diajak (disuruh malahan), mulai dari menolak terlibat kepada hal-hal yang menurut saya tidak benar atau tidak saya sukai. Ya, saya masih belajar menjadi asertif dengan keterbatasan saya yang kadang malah menjadi agresif (seringnya begitu) atau menjadi munafik. (tapi, saya lebih memilih menyerempet ke agresif, karena munafik itu dibenci dalam Islam (agama saya) ). Well, gimana dengan kamu? :)




-puterihujan




11 Juni 2011 – 22.04



ket : sumber blog http://handokotantra.com/sisi-negatif-dari-budaya-ewuh-pakewuh.html

Selasa, 26 Oktober 2010

(still) Finding Nimo (?)


"Finding Nimo"
Rasanya dua frase itu sudah tidak asing lagi. Ah, tidak, bukan. Bukan "Finding Nemo", bukan mencari ikan badut. Nimo, dan bukan Nemo. Nimo adalah tokoh utama cowok di novel teenlit "Cintapuccino" yang kemarin-kemarin itu sudah difilmkan. Ceritanya, Arrahmi (si cewek pemeran utama) sedang mencari obsesinya, Nimo. Dia mencari Nimo. Padahal, saat itu dia sudah bertunangan dengan seorang cowok, namanya Raka. Endingnya, Rahmi meninggalkan Raka untuk mengejar obsesinya, Nimo.

Dan bertahun-tahun lalu, saya banyak menuliskan frase itu. Saya sering sekali mencari Nimo. Dulu, Nimo yang saya cari adalah seseorang. Hanya saja, berbeda dengan Rahmi, Nimo yang saya cari bukan obsesi saya. Bahkan, saya belum pernah mengenalnya. Saya hanya mencari. Saya mencari Nimo.

Bagi saya, Nimo yang ada dalam pikiran saya adalah seseorang yang nantinya akan mendampingi hidup saya. Karena pada saat itu, saya tidak merasa bahagia, maka saya berkhayal (dan berharap) bahwa Nimo akan membawakan kebahagiaan untuk saya. Kemudian, saya bertemu dengan seseorang yang saya pikir akan menjadi Nimo. Tapi, eh, kok, dia malah mirip Raka. Lantas saya mencari lagi, dan menemukan seseorang. Tidak persis seperti seorang Nimo. Tapi, saya pikir dia adalah pertanda-pertanda yang dikirimkan Tuhan pada saya. Dan saya berusaha memercayainya.

Bukan hidup namanya kalau cuma bahagia. Tebakan saya tentang Nimo ini salah. Orang itu pergi, dan kemudian saya mencari-cari lagi Nimo yang lain. Tidak pernah ketemu. Saya akhirnya menyerah, tidak pernah mencari. Mungkin, Nimo untuk saya bukan seseorang, tetapi berwujud sesuatu. Mungkin. Semoga. :)

***

Ketika saya memutuskan untuk tidak lagi mencari Nimo, semuanya terasa lebih mudah. Entahlah, saya merasa bebas dari apa. Yang jelas, tidak ada lagi beban untuk mencari Nimo. Tidak ada lagi kriteria-kriteria mengikat untuk memastikan bahwa Nimo harus seseorang, bukan sesuatu. Saya bebas! Dan hebatnya, di dalam kebebasan itu, saya malah menemukan seseorang. Di saat saya memutuskan tidak akan mencari, saya malah menemukan, Tuhan malah memberikan. Tapi, saya yakin dia bukan Nimo. Saya tidak pernah terobsesi padanya, pun begitu sebaliknya. Seseorang yang bersama saya (sampai saat ini), bukan Nimo. Dia adalah dia. Bukan siapa-siapa. Dan saya tidak mau menjadi terlalu naif dengan menyamakannya dengan apa-apa, dengan siapa-siapa. Karena, tidak ada satupun yang sama di dunia ini, dan tak pernah ada yang suka dibandingkan. (baca deh, post saya sebelum-sebelumnya. ;) )

Saya pikir saat itu, permainan "Finding Nimo" saya sudah usai. Sehingga saya tak perlu mencari lagi. Saya pikir, inilah yang saya cari-cari sejak dulu, sejak pertama kali saya memainkan "Finding Nimo". Tapi, saya salah. Iya, saya salah. Ternyata, saya belum bahagia seperti Arrahmi ketika menemukan Nimo-nya. Bukan berarti saya tidak bahagia, tetapi saya belum bahagia. Ada yang masih terasa kosong, bahkan dengan kehadiran dia. Dan saya masih mencari kebahagiaan yang belum lengkap itu.

***

Ceritanya...
Sebelum menemukan dia (atau bertemu dan saling menemukan), saya berada di Bandung. Saya sedang menghadapi fobia saya yang adalah kehilangan. Saya sedang menghadapi ketidakbebasan saya, berada di sangkar emas. Saya sedang bertahan dalam keterpaksaan saya menjalani kehidupan saya yang bukan saya. Dan saya depresi. Sangat depresi. Buat saya, itu seperti tabrakan beruntun. Sudah jatuh tertimpa tangga. Putus. Nilai-nilai di kampus yang sangat buruk. IPk rendah. Sendirian. Kuliah bukan di jurusan yang saya senangi. Saya merasa skak mat saat itu.

Lalu, saya memutuskan untuk berlari. Menyepikan diri dari berbagai masalah dan sakit-sakit itu. Bermeditasi. Saya belum siap menghadapi sakit-sakit itu. Saya hampir gila. Saya menangis setiap siang, malam, setiap kali bangun sampai jatuh tertidur lagi. Setiap kali. Sampai-sampai semua orang memuji mata saya yang katanya jadi indah. Iya, saking kebanyakan menangis. Mata saya terlihat sangat memelas. Hati saya sudah tak punya rasa, motivasi, keinginan untuk melakukan apapun. Karena itulah, saya mencari. Mencari rasa-rasa yang pernah saya punya. Dan berkat seorang teman, Dewi Kharisma Michellia, saya sampai ke Jogja.

Pindah ke Jogja, bukanlah hal yang mudah. Justru lebih sulit. Saya harus siap menghadapi kehilangan-kehilangan yang lain.
1. Kehilangan teman-teman terbaik saya yang kesemuanya berada di Bandung (Asri, Rana, Anie, Sita, Rara, Nessa, Anin, dan etc).
2. Kehilangan prestie karena kuliah di kampus keren, bonafide, meski IPk saya rendah.
3. Kehilangan Bandung dengan mall-mall kesayangan saya, makanan-makanan enak yang bisa ditemui di mana saja, selera fashion yang bahkan terkenal sampe mana-mana, butik-butik keren, dan gaya hidup serba enak.
4. Kehilangan segala fasilitas yang saya miliki di rumah, yang kalau mau ke mana-mana tinggal minta anter supir, yang bisa nonton TV channel luar negeri favorit saya sepuasnya, yang bisa enak-enakan tidur karena kamar sendiri tanpa mikirin listrik, makan tinggal makan karena dimasakin mama. Ah, iya, mama... Dan saya meninggalkan dia.

Namun, semua hal menggiurkan di atas nekad saya tinggalkan. Saya orang yang keras kepala, apapun yang telah saya katakan, akan saya lakukan. Dan saat itu saya tengah kebosanan, saya berada di titik jenuh. Saya merasa tidak sanggup. Dan saya hijrah ke Jogja. Jogja yang sendirian, dan sampai saat ini saya belum menemukan orang-orang yang seperti sahabat-sahabat saya di Bandung. Kampus saya, bahkan jurusan saya belum punya akreditasi dan jurasan saya dianaktirikan oleh fakultas lain yang padahal satu gedung. Kehidupan hedonis saya di Bandung jelas tidak bisa dibawa ke Jogja, atau saya akan dicap SOMBONG. Kostan (atau kontrakan), bukan tempat seindah sangkar emas saya. Apa-apa sendiri dan saya harus selalu berbagi.
nb: di rumah, mama selalu menyediakan satu-satu, jadi saya tak perlu membagi apapun dengan siapapun, meskipun itu adalah adik saya.

Dan saya menyesal. Merasa begitu bodoh karena meninggalkan banyak sekali anugerah Tuhan. Saya menghancurkan hidup saya sendiri. Sementara teman-teman saya sedang bersiap-siap wisuda, saya masih tingkat dua. Saya terjun bebas. Saya jatuh dari sangkar emas ke parit berlumpur. Saya merasa hancur.

Untungnya, saya selalu diajarkan untuk mengadu kepada Tuhan, jika memang sudah tak ada tempat lain lagi untuk mengadu. Dan saya melakukannya. Saya mengadu panjang lebar kepada Tuhan yang sebelumnya hanya tempat saya meminta. Saya sering meminta, tetapi jarang bersyukur dan berdoa. Jadi kemudian, saya bicara pada Tuhan, berterimakasih, berkeluhkesah, mengaku kalau saya begitu bodoh karena menyia-nyiakan anugerah-Nya. Dan saya tidak meminta. Saya berharap, tetapi saya tidak lagi meminta. Yang saya minta haya satu, segala yang terbaik menurut-Nya, untuk saya. Saya mengejar-Nya, karena kemarin-kemarin kebanyakan saya lupa. Saya berharap, DIA masih mau memeluk saya.

***

Meskipun sampai saat ini saya belum menyelesaikan permainan "Finding Nimo" saya, saya sudah melihat titik terang. Saya mulai mengejar cita-cita saya menjadi seorang psikolog, penulis, pengusaha, apapun itu. Saya mencari beasiswa (dan sedang memohonnya, doakan agar diterima ya! amien). Saya melakukan hal-hal yang menurut saya dan orang-orang dan TUHAN baik. Saya mencoba menyempurnakan dengan ketidaksempurnaan. Saya mencoba menyadari kebahagiaan yang ada dalam diri saya. Saya mencoba tidak terpaku dalam sakit. Saya mencoba bangkit. Saya mencoba membanggakan dan membahagiakan orang tua dan semua orang yang saya cintai dan mencintai saya. saya sedang dalam tahap percobaan.

Reruntuhan yang kemarin itu, membukakan banyak jalan baru untuk saya. Saya hanya harus memilihnya, menjalaninya dengan serius, meski jalannya tidak selalu mulus. tapi, saya harus konsisten supaya dapat sampai di ujung sana. Di semua harapan dan cita-cita saya. Dan sampai saat saya menulis ini, saya masih belum menemukan Nimo. Nimo saya adalah sesuatu, entah apa. Tapi, saya sedang menuju ke sana, menemui Nimo saya. :)

Hopefully, saya akan dapat menemui Nimo secepatnya. Doakan saya. ;)


Yogyakarta, 26 Oktober 2010 at 09.22
#terinspirasi dari film "Eat, Pray, Love" yang kemarin saya tonton.

-regards, puterihujan.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Rain, no more...


Rasanya, saya suka hujan. Iya, sejak kecil saya suka hujan. Saya tidak tahu apa alasannya. Tapi, rasanya saya suka hujan. Saya ingat bagaimana ketika berlebaran di usia lima atau enam tahun, saya memainkan payung kesayangan, sambil sibuk ngiterin rumah tetangga-tetangga untuk bermaafan, sekalian menunggu angpao lebaran. Saya sangat suka hujan, sampai-sampai baju baru saya yang terkena noda tanah basah tidak saya pedulikan.

Sampai beranjak remaja, saya juga tidak berhenti menyukai hujan. Saya ingat, ketika duduk di kelas lima atau enam Sekolah Dasar, saya suka berhujan-hujanan. Tidak peduli, bahwa besok saya akan demam, hidung saya tersumbat, atau malah (mungkin) mampir di Rumah Sakit. Pokoknya, saya sangat suka berhujan-hujan. Berada di bawah langit sambil dijatuhi butiran hujan rasanya sangat menyenangkan.

Sewaktu saya duduk di kelas satu Sekolah Menegah Pertama apalagi. Saya sangat menyukai hujan saat itu. Entah mengapa, buat saya (ketika itu) hujan selalu punya kekuatan untuk membuat saya terdiam sejenak, mengenang masa lalu, mengigat seseorang, merasa sedih, atau singkatnya, membuat saya mengharu biru. Padahal, ketika itu, saya belum benar-benar tahu apa artinya memiliki dan kehilangan. Tapi, saya tahu, hujan berarti pilu yang sempat terabaikan.

Nah, ketika saya memasuki dunia Sekolah Menengah Atas, hujan berarti sakit hati. Hujan berarti kehilangan hati. Hujan berarti, langit sedang menangis untuk saya. Atas beberapa orang yang pergi setelah mereka mampir. Hujan berarti kesendirian yang kesepian. Hujan berarti banyak. Tapi, semakin banyak kawan saya yang menyukai hujan. Semakin banyak komunitas orang-orang aneh yang merasa dirinya terhubung dengan hati, melalui hujan. Namun, seaneh apapun itu, saya masih tetap menyukai hujan. Masih.

Memasuki dunia kuliah, yang berarti tanggung jawab dan dewasa, saya semakin menyukai hujan. Ibaratnya, saya mencari hujan. Di mana ada hujan, akan ada saya. Di mana hujan, di sana saya. Hujan dan saya, rasanya sudah membuat suatu kesepakatan. Ketika saya berdiri di atas bumi, dia akan mendatangi saya ke bawah langit. Bahkan, saya rela berhujan-hujan sepulang kuliah, padahal, di tangan kanan saya, saya menggenggam payung lipat! Bayangkan, apa pikiran orang-orang yang melihat. Mereka yang bergeleng-geleng kepala itu, mungkin akan bilang seperti ini : “
Ari eneng, cageur?”*. Saking mereka heran, apa sih yang sedang saya lakukan? Dan sebenarnya, sekarang, saya juga heran.***


Saat ini, tiba-tiba saya terheran-heran sendiri. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat saya menyukai hujan sebegitunya. Ada apa di balik hujan yang justru menambah kesepian dalam sebuah kesendirian. Apa yang saya tunggu dalam hujan yang menyimpankan pilunya sakit hati. Mengapa saya mencari hujan dan bahkan rela bermandi hujan tanpa khawatir akan terserang flu, atau demam, atau penyakit hujan lainnya. Tiba-tiba saja saya ingin tahu. Mungkin,
flashback ke masa-masa ‘menyukai hujan’. Namun, sekeras apapun pikiran saya mencari tahu, saya tidak menemukannya. Mereka bilang, saya harus bertanya pada hati. Iya, hati. Benda yang membuat logika saya tidak pasti.

Saya ingat sendiri, bahwa menyukai hujan adalah alami. Saya diajarkan untuk mensyukuri keberadaan hujan. Saya terlatih untuk menganggap, bahwa hujan adalah berkah terindah dari Tuhan yang dapat saya lihat lebih sering. Dibanding pelangi atau bintang jatuh. Jadi diam-diam saya menyukai hujan. Diam-diam menyelipkan luka-luka saya di antara tetesannya. Pelan-pelan memaknainya dalam kesunyian yang dibawa hujan sebagai teman. Sehingga saya berteman dengan kesunyian. Kemudian saya, hujan, serta kesunyian menjadi suatu komposisi yang menciptakan rasa-rasa yang khas. Rasa yang dapat dikecap dalam kekata yang dituang untuk berkisah. Meski tak semua orang menyukainya, tetapi, sebagian besar orang dapat menerka rasanya.

Saya, hujan, dan kesunyian, mungkin berteman terlampau lama. Sampai komposisi itu terasa tidak pas, hambar. Mungkin saya yang belum menemukan cara untuk memperbaharui komposisi rasa tersebut. Atau saya, hujan, dan kesunyian telah kehilangan kekhasan kami. Karena rasanya, telah lama saya menjauhi sunyi. Terlalu banyak sunyi yang berarti kesepian dan saya enggan kesepian. Saya tidak lagi menikmati sunyi-sunyi saya ketika hujan. Bagi saya, sekarang, sunyi-sunyi yang diciptakan hujan itu membunuh perlahan. Pelan-pelan dan diam-diam. Sunyi-sunyi yang diciptakan hujan itu membunuh saya dengan air mata. Saya banyak menangis karena entah apa. Saya jadi cengeng, tidak lagi ceria.

Jadi, saya memutuskan untuk berhenti menyukai hujan. Atau paling tidak, saya berhenti menyukai hujan yang mengantarkan sunyi paling kesepian pada saya. Karena saya takut, hujan membawa kembali luka-luka yang pernah saya selipkan di antara tetesannya. Saya khawatir, memaknai luka-luka itu dalam kesunyian akan membunuh saya perlahan. Pelan-pelan dan diam-diam. Tiba-tiba saya mati karena air mata saya sendiri. Menangisi entah apa atau siapa. Menerka-nerka rasa hampa yang tiada. Ah, saya hanya sudah lelah. Jenuh berkomposisi dengan hujan dan kesunyian. Mungkin ini saatnya. Mungkin ikatan mistis saya dan hujan sudah hilang. Mungkin hujan bagi saya sekarang hanya berarti : kebasahan, kebanjiran, berteduh di emper pertokoan, kilat yang menyambar, angin yang terlalu keras berhembus. Mungkin saya kehilangan kemampuan memaknai hujan. Tapi, saya masih mensyukurinya walau seringkali berharap: harusnya hujan tidak turun sesering ini.

Bagaimanapun, saya akan tetap menyukai hujan, meski tanpa makna, tanpa filosofi, dan hampa. Karena saya bertumbuh bersama hujan. Saya hanya berharap tidak membenci hujan karena mengantarkan banyak luka. Kemudian, membuat saya menjadi sakit.

-regards: puterihujan :)

(24-26/09/2010)

ket: *
Neng baik-baik saja, kan?

Selasa, 28 Juli 2009

You Just Like Her...






"Kamu tahu ngga, kamu itu mirip sama mantanku pas SMP."


Kata-kata seperti itu rasanya sudah sangat tidak asing di telinga. Entah itu adalah pujian atau gombal biasa. Tapi, jika itu gombal, maka saya rasa itu adalah kesalahan telak. Mutlak. Kenapa ? Well, coba sedikit saya bahas menurut pemikiran saya yang objektif dan kadang subjektif.***

Ask yourself..
Apakah kamu suka dibandingkan? Dengan siapapun. Dengan orang tuamu yang adalah orang paling sukses sekeluarga, sedunia. Dengan saudara/i-mu yang kamu rasa lebih pintar, lebih cantik/cakep, lebih bisa mengambil hati, dan lebih segalanya. Apalagi dengan orang lain.

Saya rasa (dan saya yakin karena telah mewawancara beberapa teman), tidak seorang pun suka dibandingkan di dunia ini. Dibandingkan dengan orang lain membuat orang dibandingkan merasa... hmm, tidak menjadi dirinya. Meskipun itu dalam bentuk pujian. Karena bagaimana hebatnya dia, dia dilihat sebagai orang lain.

"Loh, dia kok ga masuk ITB kayak kakak-kakaknya ?"
- Tapi 'kan saya bukan kakak.

"Ih, dia kok gak secantik adiknya ya ?"
- Bahkan, anak kembarpun tak selalu sama.

"Senyum kamu mirip banget sama mantanku, deh.."
- jadi lo macarin gue cuma karena gue mirip mantan lo? GTH sono.

danlainlain, danlainlain.

---

Menjadi anak kembar, mungkin yang paling terasa. Karena ke manapun, masing-masing dibayangi kembarannya. Bagusnya, jika satu sama lain bisa termotivasi untuk jadi sukses. Jeleknya, jika salah satunya nge-drop terus stress.

Tapi, selain itu, karena saya adalah seorang Love Consultant, saya akan membahas contoh (di atas) yang terakhir. :D
*jujur, karena ini yang paling banyak dan sering menimpa saya dan pasien-pasien saya.

Saya cukup sangat sering sekali dibandingkan. Entah karena muka saya yang pasaran -sialan!-, begitupun nama, atau beberapa sifat. Sebenarnya, saya tidak keberatan jika dibandingkan jika.. tanpa maksud. Misalnya, "Kamu tuh sekilas kayak si Mira." dan hanya jika yang ngomong itu teman-teman saya. Yah, siapapun Mira deh, asal with no feeling. Tokh begitu banyak kemiripan di dunia.

Tapi, saya paling sangat tidak suka, kalau saya dikait-kaitkan dengan orang masa lalu. Dan atau, orang-orang yang baru datang dan spesial buat si pembanding. Sedangkan saat itu, misalnya, si pembanding sedang pe-de-ka-te atau malah parahnya, adalah pacar saya.

"Wah, kamu mirip pacarku dulu."
>> dan trus pas saya liat foto si pacarnya dulu... jauuuuuuuuuuuuuuuh banget bedanya. BODOH.

"Kalo, ngomong kayak gitu, kamu mirip si "A". " (eR did it, huh.)
>> trus saya bilang ajah, "Mau bantuan LC buat balikkan?"

"Maaf, tapi kalo ngeliat dia, aku jadi inget kamu. Soalnya kalian mirip."
>> alasan untuk selingkuh, mutusin, ngedua, yang ngga banget! dan same as number one... ternyata orang yg dimaksud ngga ada mirip-miripnya sama saya. (Ini beneran saya polling loh! Temen2 saya, bahkan orang yang gak kenal, saya suruh membandingkan foto saya dan yang katanya mirip saya.)

Intinya, dari sepanjang kurang lebar ini saya bercerita, saya tidak suka, tidak mau dan tidak berharap dibandingkan. Dan sepertinya (lagilagi mungkin saya subjektif) tidak ada orang yang suka dibandingkan. Bukannya saya tidak pernah membanding-bandingkan seseorang. I did it. Dan karena itu, saya tahu kebanyakan orang tidak suka dibandingkan.

Buat saya, dibandingkan berarti orang itu sudah men-judge saya seperti apa yang dia kira (dengan dibandingkan dengan seseorang yang menurut dia mirip dengan saya), tanpa dia tahu siapa saya sebenarnya. Dan saya tidak suka dinilai karena saya mirip seseorang. Saya ingin dilihat seperti saya. Dan ketika orang melihat, mendengar nama saya mereka ingatnya saya. Bukan orang lain yang serupa dengan saya.

Kadang-kadang saya merasa dihakimi jika dibandingkan dengan seseorang -siapapun itu-. Rasanya seperti dipaksa jadi seperti orang itu. (meskipun ga ada yang maksa sih). Saya ingin dilihat secara utuh sebagai saya, bukan orang lain ketika orang-orang sedang berbicara dengan saya. Dan menurut saya, daripada berbicara dengan saya adalah seolah-olah bicara dengan seseorang, bukankah lebih baik berbicara dengan orang yang dimaksud langsung?

And honesty, it make me ilfeel. Saya langsung ilfeel kalo saya dibandingkan ama ex- ex- ex- orang. I'm not your past and never been. Dan, voila. Hilanglah nama orang tersebut dalam list.

Saya tidak keberatan jika saya dibandingkan oleh pasien-pasien saya. Kenapa ? Karena mereka lagi terluka. Karena mungkin mereka masih ingin mengingat-ingat, meski saya sarankan, lebih baik cepat move on ;). And so, never do it. Nobody like to be compared. Lihatlah orang dari apa adanya diri mereka. Bukan ada apanya. *bingung yah?

Well, sepertinya.. Saya mesti menyudahinya tulisan ini.
*soalnya yang empunya kompi sudah menagih kompinya. :P