kirimkan hujan ini ke . . .

Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2016

WOUNDED HEALER

Kata-kata yang basi. Hati yang rapuh patah berkali-kali. Padahal saya bukan lagi penyembuh, tidak lagi. Semenjak saya menyadari bahwa ada yang begitu berbeda dari diri saya, saya mengambil langkah pelan-pelan untuk berhenti. Tidak lagi menjadi penyembuh kecuali kewajiban atas nama profesi (kelak). Jadi, kelak saya akan menyembuhkan bukan karena hati, alasan emosional manusia belakangan ini. Tapi karena tugas dan sumpah yang harus ditepati. Yah, itu jika saya masih berkeras ituk meneruskan yang katanya mimpi. Ah, tidak mimpi saya bukan itu. Sepertinya saya tidak lagi punya mimpi, begitu.

Entah hati yang terlalu rapuh sehingga menyelinapkan foto-foto menyakitkan ke otak yang lalu dipenjara dalam benak. Atau nalar tak lagi tangguh sehingga sedikit kata-kata, sedikit laku biasa dimaknai luka hingga menyayat hati sedemikian rupa. Banyak yang terjadi setahun ini... dan sepertinya sudah dimulai sejak manusia-manusia yang terakhir itu kuceritakan. Ah, rasanya saya tak mampu lagi bersama mereka. Rasanya payah dam akhirnya hati luka-luka.

Kisah masa kecil yang penuh trauma sudah bukan lagi rahasia. Saya sudah bisa menyebarkannya sedikit-sedikit, bukan untuk membuat iba, hanya melepas apa yang dipenjara. Tapi lalu trauma-trauma itu membuat jaring laba-laba, mengikat luka dan menamai setiapnya. Akibatnya, apa dan siapa sudah tidak mampu lagi saya percaya. Karena, apakah jika saya percaya mereka akan menjaga saya, seperti saya menjaga mereka. Karena ditinggalkan adalah keniscayaan yang tinggal tunggu waktu saja.

Teori-teori bilang seharusnya yang tidak saya percayai adalah akal yang saya kira masih walafiat. Teori bilang seharusnya saya berpikir lebih positif dan menyeimbangkan diri lebih kuat. Katakan pada saya bagaimana seharusnya mengubah pikir ketika yang kau hadapi realita. Bukan kira-kira belaka. Bukan hati yang terlalu peka merasa. Masihkah aku harus menyerahkan percaya meski ingkar di depan mata ? Atau manusia saat ini lebih suka pura-pura ? Saya dengar, bermuka dua adalah syarat menjadi dewasa.

Sayangnya, saya tidak pernah setengah-setengah dalam laku. Saya puas dengan satu. Buat saya sebuah lebih menggenapi daripada dua namun rancu. Tapi kadang-kadang saya belajar menjadi munafik itu perlu. Terutama tujuh bulan belakangan ini. Penderitaan terus bertambah tujuh bulan belakangan ini. Mengekang segala hasrat emosi sudah tak mempan lagi. Pertahanan lama-lama runtuh. Air mata lama-lama luruh. Ah, lalu saya butuh bahu. Yang tak pernah hadir setiap waktu.

Tujuh bulan ini saya dipaksa bertahan sendirian. Lebih sendirian lagi dua-tiga bulan belakangan. Di mana dunia yang saya percayai akan membaik setelah setiap kali episode-episode ini mendera ? Ke mana peluk-peluk dan hangatnya kekata ? Hilang, mungkin semesta tak paham bagaimana saya membutuhkan sebuah tempat untuk pulang, atau semesta mengisyaratkan saya harus pulang yang sebenar-benarnya.

Harusnya saya tidak mengurusi segala yang bukan urusan saya, harusnya saya pergi mengemasi apa-apa yang tersisa (jika ada) sesegeranya. Mumpung luka masih sedikit terbuka. Tapi apa daya, mungkin karena saya manusia dan bukan dewa. Segalanya terasa harus saya ketahui untuk jaga-jaga. Ah, seharusnya saya berpegang pada. "Tidak tahu itu anugerah." Seharusnya begitu agar saya tidak sakit-sakit melulu.

Saya terlahir tanpa pelindung sehingga trauma yang sedemikian rupa bebas sesukanya menghampiri masa kecil saya, menjadikan trauma adalah bagian yang paling saya ingat di antara kenangan lainnya. Bagaimana rasanya diabaikan, bagaimana rasanya tidak diinginkan, bagaimana rasanya sendirian, bagaimana menjadi seorang kesepian. Saya terlahir begitu saja untuk menghadapi semua rasa-rasa itu. Hingga saat ini rasanya tetap sakit, tapi biasa saja. Paling, kadang-kadang membuatmu ingin pergi jauh sekali. Sampai tidak usah kembali lagi.

Sepanjang hidup kemudian saya mencari pelindung, sialnya saya tidak (dan tidak boleh) untuk mudah percaya kepada kandidat-kandidat pelindung itu. Karena, jika bukan pelindung, ia adalah pecundang yang akan membangunkan setiap trauma yang saya kubur rapi-rapi dan saya hiasi dengan "senyuman tidak apa-apa." Sejauh ini saya meninggalkan satu atau dua pelindung dan berbaur dengan banyak pecundang. Tapi, saya hanya bisa mengurusi hati sendiri. Tidak berhak mengatur-atur para pecundang sekalipun mereka menyakiti saya. Jadi saya diam-diam dan menyepi, kalau-kalau sakitnya ini bisa pergi. Untungnya, setiap kali, saya masih bisa berkawan sebentar-sebentar, bertemu sebentar-sebentar dengan The Fools. Mereka seperti saya, naif dan polos. Sama-sama percaya pada pecundang dan menganggap beberapa pecundang adalah pelindung.

Akhirnya, hari ini saya sadar dan benar-benar sadar harus berhenti mencari. Tidak ada seorang pelindung pun yang saya miliki. Jika beruntung, sesekali saya bisa meminjam pelindung dari sesama The Fools, tapi tidak selamanya karena kebahagiaan hanya meminjamkan. Saya sama sekali tidak boleh bersandar pada apapun sembarangan, karena nyatanya saya tidak punya pelindung. Pelindung-pelindung yang dikirimkan Tuhan tidak menganggap saya ada. Jika mereka melihat bahwa saya ada, maka saya adalah sesuatu yang harus dibersihkan.

Oia, saya masih memercayai Tuhan. Tapi saya bukan wounded healer, saya tidak akan menyembuhkan siapapun jika luka saya tidak pernah sembuh. Atau saya bisa tetap mempunyai luka dan menyembuhkan, namun harus lebih banyak berkorban. Di saat bayangan-bayangan menyakitkan itu datang, saya yang sendirian tidak bisa apa-apa. Hanya berharap Tuhan sudi memeluk, karena hanya Dia satu-satunya tempat untukku pulang.

-regards, PuteriHujan-

#16052016. 00:15 AM

Minggu, 25 Januari 2015

H U M A N (S)

Lama sudah tak menulis lagi. Semenjak masuk pascasarjana waktu memang tersita sekali. Hidup pun berubah seiring mimpi. Tapi, saya tetap jadi orang yang sama hanya berusaha lebih baik setiap kali. Berapapun manusia yang telah saya temui, rasa-rasanya tak akan saya jadi mereka. Ah, lebih baik jadi diri sendiri yang upgrade setiap kali.

Jadi...kuliah saya sudah mulai sejak September tahun kemarin. Awalnya saya enggan sekali kuliah karena: 1.Bukan kampus impian saya; 2.Sebagai orang Bandung, cuma saya yang almamater kampusnya bukan di Bandung, malas menjelaskan kepada mereka-mereka setiap kali bertanya darimana; 3.Bertemu orang baru bukan hal favorit saya.

Singkat cerita, kuliahlah saya dengan pertimbangan uang bayaran yang sudah diserahkan. Meskipun jurusannya klinis, saya kan orangnya industrial banget, sejak S1 ancang-ancang ke PIO, lulusnya kerja di perusahaan besar dan bonafide, punya usaha sendiri, dsb. Tapi mungkin inilah jodoh. Meskipun mimpi saya untuk jadi pengusaha belum padam juga. Apapun jurusannya, lulusnya tetap jadi pengusaha, begitu moto saya.

Kuliah di pascasarjana ini membuat saya harus bertindak semakin dewasa. Apalagi karena berhadapan dengan para calon psikolog semua. Bertindak dewasa itu bukan memakai topeng dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, dewasa itu bagaimana kita bisa bersikap sesuai waktunya, bagaimana menyampaikan emosi yang kita rasa tanpa menyakiti manusia yang lainnya. Ah, iya manusia...

Saya bertemu macam-macam manusia sejak masuk pascasarjana. Dari teman sekelas sampai mereka yang harus dijadikan OP, dari dosen sampai mamang-mamang tukang jualan. Banyak sekali orang baru yang ada dalam rutinitas saya lima bulan belakangan ini. Macam-macam rupa, macam-macam jiwa. Memilih-milih teman yang selama ini ada di kamus hidup saya tiba-tiba tidak bisa terpakai begitu saja. Tapi, saya tetap pada pendirian bahwa kita harus memilih orang-orang yang masuk dalam kehidupan kita, mereka yang hebat-menghebatkan-dihebatkan. Hubungan harus ada timbal-balik seperti itu.

Kebiasaan saya adalah berteman dengan manusia-manusia yang dijauhi, dianggap menyebalkan, atau punya cap buruk pada masa lalunya. Iya, mereka yang tidak hebat, tapi mungkin bisa menghebatkan dan dihebatkan. Sesekali saya tergoda dengan beberapa manusia yang terlihat hebat, meski nyatanya tak selalu hebat atau bisa menghebatkan. Lantas baru saya sadari, dari manusia-manusia yang dianggap tidak hebat itu beberapa di antaranya memang begitu. Maksudnya, sebenarnya bukan mereka tidak hebat, tapi cara mereka menghebatkan dirinya adalah dengan menjatuhkan orang lain. Menjatuhkan orang lain bukan hal hebat untuk dilakukan.

Untungnya (orang Indonesia selalu mengambil "untung" (baca: hikmah) dari setiap masalah), karena belajar psikologi klinis, punya banyak teman yang lebih tua, punya teman-teman curhat yang IQ-nya tidak melati sehingga setiap kali saya berkeluh-kesah saya diajari bagaimana menghadapi, bukan melampiaskan emosi (makasih), saya menjadi tahu apa yang harus saya lakukan kepada manusia-manusia yang dianggap tidak hebat itu. Menjauhinya jelas pilihan utama mereka yang awam soal psikologi atau ajaran agama tentang silaturahmi. Jadi saya tidak menjauhi, sebesar apapun rasa tidak suka dan sakit hati kepada mereka. Manusia-manusia seperti itu tidak perlu dijauhi, sudah banyak orang yang menjauhi mereka, saya tidak perlu jadi salah satunya.

Lantas, bagaimana ? Untuk hal ini saya menggunakan reaksi formasi, yaitu memunculkan sikap yang berlawanan dengan emosi. Jadi ketika tidak suka bersikaplah baik, lebih baik lagi kepada mereka. Reaksi formasi ini bukan bersikap munafik ya, yang hanya baik di depan manusia-manusia tidak hebat itu. Tapi, harus tetap baik, selalu baik, di depan mereka, di belakang mereka, bahkan ketika ada orang-orang yang membenci mereka. Karena balas dendam terbaik adalah bersikap penuh kasih sayang kepada mereka yang bersikap buruk dengan kita. Kita belajar dewasa, mereka menghebatkan diri kita dengan menjatuhkan diri mereka, tapi kita berusaha menghebatkan mereka. Tuh, keren banget kan. Susah sih, sangat susah, apalagi karena cap buruk yang melekat pada mereka bukan tanpa alasan, mereka pasti keras kepala dengan perlakuan buruknya kepada orang lain. Tapi, setiap kebaikan ada jalannya. :)

Sayang sekali, tidak semua manusia tidak hebat bisa diatasi dengan reaksi formasi. Ketika sikapnya melunjak, tentu kita harus ambil langkah lainnya. Jaga jarak. Tetap bersikap baik tapi jaga jarak. Pelajari kapan harus bersikap baik, kapan harus menjaga jarak. Untuk versi asertif-nya, kita bisa bicara langsung kepada yang bersangkutan empat mata atau pakai mediator atau pakai alat perekam. Kenapa ? Karena mereka dikenal "naik dengan menjatuhkan yang lain", untuk jaga-jaga agar bicara kita tidak dijungkirbalikkan faktanya. 

Manusia-manusia tidak hebat lambat berubah menjadi lebih baik karena mereka keras kepala, bahwa yang mereka lakukan adalah benar, sementara orang-orang lain yang tidak menanggapi, tidak serupa adalah salah. Manusia-manusia tidak hebat cenderung berpandangan negatif kepada hampir setiap orang, selalu ada yang salah dari orang-orang di sekitarnya. Untuk itu, jika kita bersama seseorang yang hampir selalu bicara tentang keburukan orang lain tanpa tedeng aling-aling meski kesalahan orang itu sama sekali tak merugikan dia, maybe dia adalah manusia tidak hebat. Manusia tidak hebat selalu menghebatkan dirinya di depan orang lain dengan cara menjatuhkan orang lain, ketika keadaannya berbalik, mereka akan bersikap seolah korban situasi. Singkatnya, mereka manipulatif dan kadang-kadang agresif.

Untuk sementara, karena Minggu menjelang siang, itu dulu sekilas tentang segolongan manusia yang sempat saya temui lima bulan belakangan ini. Lain waktu diceritakan lebih lengkap lagi. ;)

"Naiklah tanpa menjatuhkan orang lain", socmed copasted

-regards, PuteriHujan-

#25152015. 6:53 AM

Sabtu, 03 Mei 2014

My LifeLong Dream (part 2)

Tanggal 30 April kemarin saya menutup bulan dengan macet-macetan di  jalan dari Jakarta menuju Bandung.  Lagi-lagi Jakarta, ada apa rupanya. Seperti biasa, di Jakarta itu saya menumpang tidur. Urusan sebenarnya lagi-lagi (alhamdulillah) di Depok. Tanggal 25 April malam, saya kebetulan sedang melihat site fakultas tujuan. Ada pengumuman peserta lolos tahap 1 (ujian TPA ~yang sulit sekali dan bahasa Inggris). Alhamdulillah, Tuhan Maha Baik, saya lolos bersama 47 peserta ujian profesi PIO.

pengumuman tahap 1
Rasanya, selain bersyukur, saya sekaligus tidak percaya. Besar benar kuasa Tuhan ya, saya yang merasa bukan siapa-siapa dan rendah diri karena lulusan kampus swasta (yang ketika disebut namanya orang juga tak tahu tentangnya) bisa lolos seleksi bersama almamater dari sekolah-sekolah keren. (saya baru tahu ketika melihat daftar absen). Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah, Allahku. :)

Kemudian, ditetapkan hari Selasa, tanggal 29 April, saya harus ikut ujian tahap 2 (psikotes, fgd, wawancara). Lebih mirip tes kerja tahap dua memang ya, karena selain profesi, tesnya hanya berupa tes tulis. Selain itu, saya juga harus melengkapi syarat-syarat berkas untuk dikumpulkan, dan... surat rekomendasi!!! Padahal, sebelum mendaftar saya sempat bertanya ke pmb, apakah ada surat rekomendasi.  Jawabannya sih, tidak ada, karena hanya dibutuhkan untuk mereka yang S3 (doktor). Jadi, fix saya kaget dan lemas. Karena kampus di Jogja, saya di Bandung, ujian di Depok. Waw.

Berterima kasihlah kepada teknologi, pertama-tama, karena rupanya surat rekomendasi boleh berupa scan. (tapi saya tetap tak mengerti bagaimana agar amplopnya di ttd, tokh sudah tidak rahasia karena scan, kan, jadinya saya tak pakai amplop yg ditandatangai :( ). Selanjutnya, terimakasih kepada yang mau repot memohonkan surat rekomendasi sebagai perpanjangan tangan saya; makasih Sayang. Terakhir, penting... terima kasih kepada empunya tandatangan dan pemberi rekomendasi yang mau saya rusuh-rusuh. :)

Surat rekomendasi saya baru jadi hari Minggu, sementara saya masih bingung akan berangkat hari apa, menginap di mana. Akhirnya saya berangkat bareng papa (fyi, ayah saya kerja di Jakarta dan mengontrak di sana). Di Jakarta saya menginap di kontrakan bareng-barengnya papa dengan teman kantornya. Baiknya, papa juga meminjamkan mobil (yang padahal harusnya dipakai ke kantor, beliau malah naik taksi, makasih papa!) dan bahkan mendatangkan supir Bandung untuk antar saya selama ujian (karena supir kantor kan "pamali" kalo dipinjam semena-mena). Walaupun akhirnya hari kedua saya diantar supir kantor papa, karena supir Bandungnya sukses membawa saya keliling separuh Jakarta di hari pertama, NYASAR! But, thanks to GPS.

Ujian hari pertama di mulai hari Selasa, jam 8. Lumayan siang ya, tapi karena alasan MACET, sya tetap mandi jam setengah lima dan sudah berangkat jam setengah enam... dan dengan sukses sampai jam setengah tujuh. haha. Akhirnya nunggu di mobil dan jam setengah delapan baru naik ke tempat tes. Di sana sudah banyak orang rupanya. Sempat berkenalan dengan beberapa orang. Dua orang di antaranya, jadi nempel terus selama tes, karena ternyata kami sama-sama PIO.

Ujian pertama ini, seluruh peminatan berbarengan, meskipun secara duduk sudah dikelompokkan. Tesnya gampang karena bukan jawaban benar salah, tapi psikotes. Tes gambar, isi data diri, kuesioner, tes-tes kepribadian. Selesai itu, bikin SUNGAI KEHIDUPAN (yang sempat riweuh juga karena bingung gimana cara penulisannya.haha). Baru jadwal wawancara diumumkan. Ternyata PIO dapat jadwal esok hari. Sempat kecewa sih, karena kan sudah berharap prosesnya sehari saja.

(lalu saya pulang dan nyasar berkeliling separuh Jakarta, memutari tugu tani beberapa kali, mungkin kalo lebih sering lagi bakal dapat cangkul)

Ujian hari kedua bikin deg-degan. Karena dalam pengumuman kami dibagi beberapa kelompok yang terdiri dari 9-10 orang dengan 2 psikolog. Pengumumannya cuma bilang wawancara. Ternyata, pas di tempat ujian, kami juga fgd di ruang dosen (jadi dejavu bimbingan skripsi bebarengan). Fgd berlima-berlima, berarti kami yang 10 orang ini dibagi lagi dua kelompok. Saya dapat kelompok fgd pertama. Berlangsung cepat karena ada dua anak UI di kelompok saya. Memangnya kenapa? Anak UI itu leadershipnya BAGUS BANGET. Mereka berdua bisa membuat semua punya kesempatan bicara dan menghentikan yang kebanyakan bicara (karena memangkas waktu pembicara lain). Makasih dan keren.

Setelah dua kelompok dari kelompok 10 orang fgd, lalu wawancara. Wawancara di kelompok saya berjalan sangaaaaat lambat karena jeda dari tiap peserta bisa 15-30 menit sendiri. Sementara kelompok lain begitu ada yang keluar yang lain langsung masuk. Tapi, terima kasih buat Disna dan Nurul yang mau menemani saya sampai saya selesai wawancara (semoga kita bertemu saat daftar ulang ya, aameen).

Menunggu saja sudah bikin gugup, belum lagi cerita-cerita peserta yang macam-macam setelah selesai wawancara. Ada yang dipojokkan, ada yang ditanyai materi, ada yang ditanyai skripsi, ada yang dibandingkan kecerdasannya dengan almamater. Macam-macam. Terakhir, yang bikin jantung lumayan melorot, peserta sebelum saya menangis keluar dari ruang wawancara. Aaak. Tapi saya kuatkan hati. Ah, emang mau diomongin kaya apa sih sampai nangis begitu. Pasti ngga ada yang lebih galak dari mama saya. Haha.

Di dalam adem (karena ada AC). Saya yang sulit senyum ini, pasang muka full senyum padahal sudah lusuh, lapar, dan mengantuk. Pertanyaan yang keluar standar, sama kaya wawancara psikolog kerja. Cuma di sini saya kebagian ditanya materi dan skripsi (yang sudah saya lupa) juga. Untungnya skripsi bikin sendiri dari A-Znya, jadi minimal ingat garis besarnya. Pewawancaranya ada yang Doktor, jiper banget pas tahu akan diwawancarai beliau. Tapi, bagaimanapun, alhamdulillah lancar sampai keluar ruangan.

Well, meskipun saya tidak tahu apa hasilnya kelak. Tapi semoga semua usaha saya dan doa-doa saya direstui Allah. Saya tahu Allah Maha Baik dan Maha Pemberi. Semoga Allah memberi restu saya melanjutkan study di kampus imipian saya ini. Semoga doa-doa mereka yang diam-diam mendoakan diijabah. Semoga, bulan September  tahun ini, saya sudah bisa ikut kuliah di kampus yang saya impi-impikan. Aameen.

Manusia  berusaha. Manusia berdoa. Allah yang merestui. :)

-regards, PuteriHujan-

#03052014. 12:05 AM

Senin, 21 April 2014

Happy Kartini's Day, Indonesian Women. :)


21 April. (sebentarlagiharijadi) Dikenal sebagai hari Kartini, harinya emansipasi wanita, harinya kesetaraan gender, harinya wanita. Well, selamat hari Kartini, Wanita Indonesia. :) Apakabarnya emansipasi hari ini?

Seluruh tulisan ini, pure opini saya. *catat*

Sebenarnya, dalam Islam sudah tidak perlu emansipasi. Kenapa? Karena wanita itu lebih mulia dan dimuliakan Tuhan. Bahkan ada satu surat khusus dalam Al-Quran untuk membahas wanita. Kartini ingin emansipasi karena budayanya yang mengekang kebebasan wanita. Melarang wanita menuntut ilmu. Maka jangan campurkan budaya dan agama (tapi itu tidak mudah, samasekali).

Wanita, hakikatnya menjadi ibu, mengurus rumah tangga, sekaligus jadi manager rumah tangga. Oleh karena itu, wanita justru harus pintar, sekolah setinggi-tingginya agar dapat mendidik anak-anaknya dengan baik. Boleh bekerja, tapi tetap harus ingat role utamanya adalah jadi seorang ibu. Toh, hari gini, kerja itu ngga mesti di kantor, berangkat pagi, pulang malam, 'kan?. :) Kalau istrinya kerja mati-matian, lah terus suaminya rolenya apa? Suami itu tulang punggung keluarga, kan?

Oke, mungkin semalam saya terlalu terinspirasi setelah nonton MTGW. Sebenarnya ngga juga, habis ucapan-ucapan Pak Mario itu familiar sih, sering lihat dikutipan Al-Quran dan Al Hadist. Banyak yang kontra juga tentunya soal bahasan semalam. Karena Pak Mario bilang bahwa wanita itu harus di rumah, mempercantik diri, mengurus anak dan rumah tangga. Hmm.

Saya justru heran, kok wanita ribut-ribut menyetarakan gender? Karena sejak awal kan memang tidak setara, wanita dimuliakan, diratukan. Lelaki lah yang punya peran untuk susah payah bekerja. Lelaki bekerja itu, penghasilannya milik anak-istrinya loh ya, bukan karena dia bekerja terus istri ngga dapat apa-apa. ASI saja harus dibayar, dengan penghidupan yang layak buat wanita dan anak-anaknya. Lelaki yang bertanggung jawab, pasti enggan makan uang istri (malu dong, masa disuapi perempuan).

Well, sebenarnya, ini uneg-uneg kemirisan saya melihat sekitar. Saya hidup antara beberapa budaya, Banjar, Sunda, dan Jawa. Untuk saya pribadi, saya memilih budaya Banjar karena (sepertinya) lebih memuliakan perempuan, ya karena beberapa adatnya mengikuti ajaran Islam. Dari beberapa pengalaman, ngobrol sana-sini, saya melihat begitu.

Mula-mula urusan pernikahan. Mama saya menikah pakai adat Banjar dan 100% yang bayar a-z itu ya pihak lelaki. Saya pernah tanya sama teman yang orang Sunda, ternyata katanya kalau nikah itu lelaki hanya kasih mahar (fyi, mahar pulau Jawa itu terendah se-Indonesia, dr survey). Sisanya perempuan yang urus. Menurut saya, kalau ngga mampu ya walimahnya ngga usah mewah, bagi kotakan saja, daripada wanita yang tekor. *ngga habis pikir kalau wanita yang jd tulang punggung sejak pernikahan*. Sedang di Jawa, yang pernah saya tahu, kalau mau menikahkan anak perempuan, maka orang tua perempuan yang akan repot mencari biaya. *kayanya ngga semua, semoga gak semua*.

Tapi, sepertinya untuk mereka-mereka yang lebih merasa modern dan mandiri, uang pernikahan dibagi dua, dari pihak wanita dan lelaki. Sebenarnya, ya kalaupun menikah saya ngga keberatan membiayai pesta pernikahan sendiri, demi perfeksionisnya saya. Demi kepengenannya orang tua saya juga. 

*back to topic*

Di luar menyoal pernikahan, wanita Indonesia kadang dirugikan dalam hal berumah tangga. Entah karena budaya atau miskin pengetahuan. Banyak tetangga saya yang justru hidup dari keringat istrinya, tapi kekuasaan tetap milik lelaki. Istri tidak punya suara, harus manut suami, apapun itu. Istri bekerja, mengurus anak, mengurus rumah tangga, melayani suami. Sementara apa yang dilakukan lelakinya ? Hanya Tuhan yang tahu.

Istri memang harus patuh sama suami, dalam kebenaran. Kalau suaminya menyimpang ya diingatkan bukan diiyakan. Tapi lagi, karena budaya Indonesia yang cenderung patriarki dan ewuh pakewuh, mana berani, jarang ada yang berani.

Saya tidak benci lelaki. Saya tidak suka lelaki yang tidak bertanggung jawab. Saya miris liat istri banting tulang sementara suami ongkang-ongkang kaki. Tapi, masih banyak lelaki Indonesia (yang saya kenalpun) yang bertanggung jawab dan tahu tanggung jawabnya setelah pernikahan kelak. Banyak lelaki Indonesia yang mengerti agama dan tidak menyampurbaurkan sama penyimpangan budaya. Masih banyak, tenang saja.

Dan tidak semua lelaki yang begitu. Wanita pun, sebagai Kartini modern, terkadang melupakan kodratnya sebagai ibu, sebagai istri. Bekerja pagi-malam, anak dititip. Banyak perempuan yang seperti Srikandi, sekarang ini. Seperti lelaki. *fyi, Srikandi itu waria*

Jadi, Kartini Indonesia, tetaplah pada kodrat, tapi jangan lupa bahwa harus berpendidikan tinggi, boleh berpenghasilan sendiri, asal jangan lupa urus anak-suami. Dan para lelaki, dampingi Kartini, bimbing kepada kebaikan keluarga dan diri, sayangi Kartini (dan anak-anak kalian). Wanita tidak perlu emansipasi, jika wanita dan lelaki masing-masing sadar role-nya secara individu, sosial, dalam keluarga. :)

Selamat hari Kartini, sekali lagi. 

-regards, PuteriHujan-
#21042014. 08:24 AM

Senin, 14 April 2014

My LifeLong Dream (part 1)

Baru saja kemarin saya balik dari Jakarta. Umm, sebenarnya ke Jakartanya cuma numpang tidur untuk urusan ke Depok. Ada apa dengan Depok ? :) Ada impian seumur hidup saya, UI. Jadi, kemarin Minggu itu saya ada ujian masuk pasca sarjana di UI. Setelah tahun 2007 gagal masuk UI lewat SNMPTN, tahun 2009 belum diterima lagi lewat UMB (saat itu saya proses pindah kuliah dari UnPar-Bandung). Susah ya masuk UI, susah banget. Apalagi saya ngga pernah ikut SIMAK, karena waktu itu orang tua saya tidak mengizinkan saya kuliah Psikologi, apalagi di luar Bandung. Tapi tokh, akhirnya saya ke Jogja dan kuliah S1 Psikologi.

Yah, singkat cerita, ceritanya saya pantang menyerah (padahal rasa-rasanya usaha saya begitu doang), SIMAK UI tahun ini saya ikutan, pakai diantar papa-mama lagi ke Depoknya, haha! (coba dari dulu ya). Meskipun telat satu tahun, karena saya lulus April 2013 dan ngga ikutan SIMAK 2013 karena masih tertahan di Jogja saat itu, dan pas mau daftar, kelewatan tanggal, belum bayar (padahal sudah verifikasi). Alhamdulillah, tahun ini bisa ikutan dan yakin mau pilih prodi apa. Sebelumnya sempet bingung antara PIO sama PKA. Kok  jauh banget ? Ya, nanti aja dibahasnya.

Kuliah di Depok itu cita-cita saya dari SD (kelas 5). Sementara jadi Psikolog itu cita-cita dari kelas 3. Tapi tertahan karena saya dulu tidak diperbolehkan kuliah di luar Bandung, sedangkan kampus negeri Bandung psikologi harus IPA, jurusan saya waktu SMA IPS dan saya ngga mau ambil IPC. *pusing banget harus belajar kimia, jurnal aja it's enough* Jadi, karena itu saya "nyasar" ke jurusan manajemen di kampus swasta katolik. Sebenarnya diterima juga di kampus swasta dengan jurusan psikologi, tapi entah kenapa ngga saya ambil. Mungkin karena kurang sreg waktu itu.*tp mau daftar lagi buat cadangan pasca sarjana kali ini -__-"

kartu peserta :)

Tanggal 12 saya berangkat ke Jakarta (lewat Depok sekalian cek lokasi). Saya belum pernah ke UI, cuma pernah ke Depoknya aja. Ternyata UI memang sangat luas sekali dan hutannya itu loh, udah mirip kaya hutan samping jalan tol, rimbun banget. Sebenarnya saya takut petir dan Depok sebagai daerah petir nomor satu dunia(?) ngga bikin semangat saya hilang buat masuk UI (walaupun ya kemaren-kemaren kepikiran BANGET).

Di fakultas Psikologinya, saya disambut 2 ekor kucing. Karena saya pecinta kucing, mama saya langsung aja nyeletuk, "Wah, disambut sama kucing, kayanya masuk." *dalam hati: AAMIIN*. Di sana saya tanya ke satpam dan diberi list nomor ujian dan ruangan. Saya dapat ruang di atas perpustakaan psikologi. Sayangnya, ternyata di ruangannya belum ditempeli nomor ujian. Tapi firasat sih duduknya di ujung (kalau ngga depan ya belakang, karena nomor ujian yg pangais bungsu di ruangan itu).

Sepanjang jalan-jalan keliling psikologi UI, ketemu Teteh-Teteh cantik terus. Terus ketemu semua orang yang ramah. Sampai mama bilang, "Kayanya kamu diterima nih. Semoga diterima. Di sini orangnya cantik-cantik banget ya."*dalam hati AAMIIN terus.

Menjelang malam saya ke Jakarta, ke kos papa. Papa kerja di Jakarta dan kost karena rumah di Bandung. Sebenarnya saya dalam kondisi kurang sehat pas berangkat untuk ujian, udah seminggu sakit batuk, tapi bukan flu. Kena wabah di komplek. Malamnya, di kost papa, batuknya malah menjadi-jadi dan ngga berhenti. Plus, malah kedatangan si bulan hari itu juga. :( Tapi malamnya dipaksakan tidur setelah minum decongestan+antihistamin, walaupun kebangun-kebangun karena batuk terus, keringetan terus. Jam 3 kebangun dan akhirnya dipakai siap-siapin barang, jam 4 mandi, setengah 5 berangkat, sampai UI kepagian. Jam setengah 6 kurang sepuluh menit, masih gelap. -_-"

Akhirnya nunggu di mobil sampai jam 6 lebih. Jam 6 lebih menuju ruangan tapi pengawasnya aja belum dateng, jadi muter-muter dulu, merenggangkan badan (dan otak?). Bukannya belajar ya, abis saya ngantuk sekali plus ngga enak badan. Jam setengah 7 siap-siap masuk ruangan dan pengawasnya baru datang + nempel no ujian. Nungguin sampe jam 7. Masuk ruangan, alhamdulillah duduk dekat pintu dan di depan. :D 

Tes pertama ituTPA, tapi pengawas nyebutnya PEKA. Saya bilang TPAnya suliiit. Mungkin karena yang tes bukan hanya untuk S2 tp juga S3 ya. TPAnya butuh perjuangan, apalagi untuk SETIAP JAWABAN SALAH -1. Harus super teliti dan hati-hati sambil tetap berpikir cepat. TPA ada 3 bagian, tiap bagian 1 buku dan punya waktu berbeda. Pertama tes verbal 30 menit (40 soal). Kedua tes kognitif, matematika 35 soal 50 menit. Memang sih soal matematikanya ngga serumit kalkulus, tapi susah juga karena waktunya sempit. Ketiga tes logika (banyak matematikanya juga), 40 menit 30 soal. Mungkin saya pusing efek ngantuk+batuk selama tes :(. Hiks, pesimis. Tapi tetap berharap.

Setelah itu, ada istirahat 45 menit. Awalnya mau jajan ke alfamart, tapi melihat antrian mengular, balik lagi, minum air putih yang bawa sendiri aja, lagian batuk terus, bingung mau makan apa. Sempet ngobrol sama peserta asal Samarinda dan asal UI (yg ini dia sambil belajar materi Bahasa Inggris, beda emang mental anak UI, hehe).

Tes Bahasa Inggrisnya TOEFL banget dikurangi listening. 90 soal 90 menit. *kayanya sih 90 soal di buku soal saya* Tes ini tanpa penalti, jadi saya jawab semua-muanya. Saya malah ngerasa Bahasa Inggrisnya lebih mudah (soalnya udah parno karena lemah di Bahasa Inggris). Tapi ada insiden, soalnya ada peserta yang ngga tahu kalau ternyata soalnya 90, dia kira cuma 60. Jadi LJKnya itu bolakbalik, dan peserta itu ngga periksa kalo dibaliknya ada lanjutan untuk pengisian. Dia bilang dia ngga isi 35 soal. .___.

But, yang menyenangkannya, walaupun saya ujian dalam keadaan sakit, ngga bisa ngerjain TPA, tapi entah kenapa seharian itu sama sekali ngga ada yang mengesalkan saya. Hebat loh, saya bisa ngga kesal di posisi sakit dan kedatangan bulan. Hari itu semuanya terasa ploooong banget. Terlepas dari susah bangetnya soal ujian masuk UI, saya masih teruuuuus berharap kalau saya bisa lolos dan lulus jadi mahasiswa pascasarjana di sana. Semoga Allah tahu kalau saya pengeeeeeeeen banget kuliah di sana. Semoga ada kesempatan, rezeki, dan kemampuan. 

AAMEEN.

-regards, PuteriHujan-

#14042014. 06:45 PM

Jumat, 02 November 2012

My Simple Life Goals

Allahumma Amiin


Beberapa waktu lalu, saya dapat e-mail dari papa. Isinya yaitu sebuah file Word yang berisikan visi-misi beliau sebelum sukses (namun sudah direvisi). Jujur saja, visi-misi papa itu sudah (terlalu) terorganisir dengan baik dan memenuhi standar SMART. Saya mencoba meng-copy namun sepertinya tidak terlalu berhasil, tidak cukup spesifik untuk dimengerti orang lain, tapi yah lumayanlah untuk dimengerti diri sendiri.


goals hidup sementara =) 

Tujuh poin yang saya tuliskan itu sebenernya simbolik,  angka tujuh favorit saya, lucky se7en. Poin pertama jelas karena saya sedang skripsi saat ini dan cukup keteteran karena kebetulan dospem bukan yang membimbing. Poin kedua, permintaan papa (dan mama). Pokoknya saya harus S2 (dan saya memilih profesi supaya setara sama PHD). Semoga dengan begitu saya bisa membanggakan mereka. VISI simpel hidup saya: BAHAGIA dan MEMBAHAGIAKAN, dan tak ada yang lebih penting dari Mama-Papa.

Poin tiga dan empat, saya harap bisa berjalan berdampingan, atau kerja sambil S2 lalu buka usaha. Meski kehidupan saya masih (insya Allah) terjamin sampai Papa pensiun enam tahun lagi, tapi saya ingin mempersiapkan diri, cari uang sendiri. Mama-Papa memberi saya kehidupan yang serba ada, sekalipun di saat keluarga kami kesulitan finansial dulu. Maka dari itu, saya tidak ingin usaha susah payah orang tua saya membahagiakan saya sia-sia. Paling tidak, Mama-Papa bisa menyicipi sedikit jerih payah saya meski mereka tokh sudah akan berkecukupan sampai tua kelak. Amien. Paling tidak, Mama-Papa bisa lihat anaknya berbahagia dan tahu kalau mereka adalah ORANG TUA yang BERHASIL.

Intermezzo sedikit, waktu kecil hidup saya sederhana. Tidak kekurangan hanya cukup. Mama jelas harus pintar-pintar mengatur pengeluaran Papa yang seadanya untuk sekolah saya dan adik saya di Sekolah Yayasan karena tahun '98 saja, SPP saya 56ribu rupiah. Mama juga selalu menjamin kalau saya dan adik lelaki saya satu-satunya makan bergizi meski Mama harus selalu Senin-Kamis atau entah puasa yang lain lagi. Papa juga begitu. Pokoknya, anak dulu baru orang tua, begitu prinsip Mama. 

Hal yang paling saya ingat adalah ketidakberadaan Papa karena harus SPJ sana-sini agar mendapat uang tambahan untuk sekolah kami, bayar kontrakan, makanan sangat bergizi untuk anaknya, dll. Mama kadang kepayahan mengurus saya dan adik yang hanya terpaut satu tahun. Tapi dari sekian pahit masa kecil saya, hari ini, saya tahu manis hasilnya.

Kedua orang tua saya tipe orang tua yang balas dendam. Balas dendam di sini artinya, mereka berusaha membalas kekecewaan masa kecil mereka kepada anak-anaknya. Sebagai contoh, Mama saya yang tidak bisa membaca huruf Hijaiyah, dendam dengan hal itu, saya dan adik saya dimasukkan TPA di usia dini. Kalau sekarang ada PAUD, mungkin PAUD saya itu di TPA. Saya lupa kapan pertama kali saya bisa mengaji, tapi pertama kali masuk sekolah (TK) saya sudah bisa menulis Arab, jadilah saya satu-satunya murid yang menulis dari sebelah kanan.

Lainnya, masih banyak. Intinya orang tua saya tidak membiarkan anaknya hidup susah seperti yang pernah mereka rasakan dulu. Karena Mama-Papa sama-sama anak yatim (yg sekarang sudah sama-sama yatimpiatu). Mama sudah tidak berayah sejak kelas dua SD, Papa bahkan tak pernah kenal ayahnya karena ayah Papa meninggal ketika Papa berusia 6 bulan dalam kandungan. Namun, biarpun begitu, meski Papa tumbuh tanpa sosok ayah, Papa sudah jadi seorang Ayah yang hebat dengan segala keterbatasan dan kelebihannya. :')

Mungkin, banyak orang yang kenal saya menilai bahwa saya tidak suka hidup susah. YA, benar. Saya tidak suka hidup susah. Em, ada yang suka memangnya? :D Saya tidak suka bukan berarti tidak mau. Saya mau kok bersusah dulu demi kesenangan. Saya tidak mau stagnan dan jaminan hidup dalam kesusahan, saya tidak betah. Saya tidak tega melihat perjuangan orang tua saya sia-sia. Saya ingin membanggakan mereka. Saya ingin melihat mereka BAHAGIA karena saya. Saya ingin mereka tahu bahwa sebesar apapun kekurangan mereka, mereka adalah dua kombinasi orang tua yang SEMPURNA.

Lanjut, poin lima dan enam. Sebenarnya saya tidak perlu susah payah (meskipun kalau ada kesempatan, saya ingin) menaikhajikan Mama dan Papa, karena mereka sudah berhaji. Papa memang manajer yang baik untuk bos seperti Mama, keduanya sama saling melengkapi. Jadi, saya hanya berharap bisa naik haji bersama mereka, sekeluarga bersama adik saya sebelum saya dan adik kelak sibuk dengan dunia dan keluarga sendiri-sendiri. Sedang rumah dan mobil, meski dengan orang tua hidup saya terjamin, saya ingin punya sendiri, seperti Papa. Saya ingin menjadi seperti Papa (dan Mama). Saya ingin jadi kolaborasi mereka berdua. Tapi saya harap, rumah saya dan rumah saya bersama Mama Papa tidak jauh-jauh, menghemat untuk mudik dan supaya saya bisa menjaga mereka, karena anak mereka cuma dua. :)

Poin tujuh dan terakhir. Jujur sih, waktu saya SMA saya anti-pernikahan. Saya percaya saja kalau tanpa menikah itu orang bisa bahagia. Saya ngeri pada pernikahan "menyeramkan" yang saya tahu. Tapi lalu, saya banyak dapat pencerahan dari teman-teman saya yang mengerti agama. Selain itu, saya tahu logika mengapa orang harus menikah, bukan hanya masalah meneruskan keturunan (walau sampai detik ini melahirkan itu masih saya anggap mengerikan karena terlanjur melihat video-video ttg itu). Dan oke, saya putuskan saya akan menikah, kelak. Dengan siapapun yang menurut Allah terbaik untuk saya dan Mama-Papa saya juga tentunya. Saya ingin siapapun yang bersama saya kelak, bisa mengimami saya seperti Papa mengimami Mama, padahal Papa tak pernah tahu seperti apa rasanya punya Ayah. :)

Semoga semua niat baik saya dicatatkan oleh ALLAH untuk membahagiakan Mama-Papa. Itu saja. =)

AMIEN

-regards, PuteriHujan-

#02112012. 10:00 PM

Selasa, 01 November 2011

November Rain

it's November, and it's raining (all) day

Lagi-lagi tentang hujan. Kebetulannya lagi, ini bulan November. Jadi suatu kebetulan juga jika ada lagu yang berjudul "November Rain" -by Guns N Roses. Kebetulan juga jika lagu itu bercerita tentang kehilangan (yang biasanya memang dikait-kaitkan dengan hujan). Kebetulan pula, jika hampir seluruh status di FB menuliskan dua frase itu. November + Rain.

November dan hujan, entah ada mantra apa. Setahu saya, hujan di bulan November bukan hanya tahun ini, tapi bahkan, tujuh tahun lalu pun, hujan diselipkan di November, empat tahun berikutnya pun masih juga. November memang kebetulan masuk pada musim basah, saat hujan bermain ke bumi. Jadi, sekali lagi itu cuma kebetulan, atau memang rencana Tuhan.

Tapi bukan kebetulan jika aroma hujan membaui kenangan dan kehilangan-kehilangan. :)
Bukan kebetulan juga ketika gemericiknya membangun ingatan, yang bahkan ingin dilupakan. Hujan adalah saat terbaik untuk melamunkan angan. Bermain dengan banyak andai yang sesak ditahan. Hujan sepertinya hadir untuk itu. Rerintik sepertinya mampir untuk itu. :)

Kenangan saya tentang November dan Hujan bukanlah kehilangan, sebenarnya malah sebaliknya. Yang bisa saya ingat sampai saat ini adalah dua peristiwa yang menyenangkan (saat itu). Meski hari ini rasanya biasa saja, karena terlanjur sudah basi. Namun untuk saya, tetap saja terasa menyenangkan. Lucu juga melihatnya dalam ingatan.

Jadi, saya memutuskan untuk tidak menangis seperti cerita di November Rain. Saya memutuskan untuk tidak membingkai rasa kehilangan hingga sakitnya kekal. Saya memutuskan untuk melepaskan dan berjalan. Saya memutuskan untuk bahagia. Seperti yang saya bilang kemarin, saya akan menemukan komposisi yang pas bersama hujan, komposisi yang bukan luka. :)

dan November, dan Hujan. dan.dan.dan...
izinkan saya melintasi jalan november Hujan kali ini,
saya tidak ingin menangis lagi,
saya ingin tertawa seperti ketika itu.
ketika saya pernah sangat berbahagia.
ketika saya menjadi... jiwa yang utuh sepenuhnya.

:)

-regards, puterihujan...

#01112011 -- 8:37 PM

Jumat, 21 Oktober 2011

families are...


kasih sayang orang tua memang tiada dua. keamanan dan kenyamanan pun tiada yang sama. saya rindu kebiasaan-kebiasaan yang saya lakukan tanpa dimarahi. meski merekalah yang menafkahi. saya rindu kenakalan-kenakalan biasa saya yang bisa saya nikmati. bukan satu-dua pikir, yang bikin ketar-ketir hati.

tak ada satupun kasih sayang yang bisa menyamai keluarga. perlindungan mereka sempurna. seperti Tuhan yang menunjukkan jalan menyakitkan tapi memang dibutuhkan. keluarga mengajari dengan cara yang tidak sama, tidak dimengerti kadang-kadang. tapi, sejauh ini saya lebih menikmatinya, sakit-sakit yang ada juga. lebih bisa ditolerir nyatanya. membuat saya selalu ingin pulang.

sangkar emas sejauh ini adalah tempat terbaik. dibandingkan tempat-tempat yang saya singgahi untuk mencari. membuat saya mau tidak mau pasti kembali. karena tidak ada yang sesempurna mereka dengan segala kekurangannya. tidak ada senyuman dan tawa paling bahagia bersama mereka yang meski banyak juga terselip air mata. akumulasinya tetap saja, signifikansinya tetap saja, cinta mereka tetap saja.

saya ingin kembali 'telanjang' dalam kepolosan seorang bocah. saya harap masih sempat. saya ingin menikmati dunia, tapi dengan tawa dan tahu bahwa saya cukup sempurna sebagai saya. cukup tahu bahwa dosa-dosa yang saya kerjakan adalah cukup biasa, tidak hina. yah, saya rindu kenakalan-kenakalan biasa saya. saya rindu aroma malam di sangkar emas, saya rindu riuhnya berdebat dengan mereka, saya rindu menangis karena berebut hati dengan saudara saya, saya merindukan kenyamanan yang saya tahu sampai kapanpun tak akan tergantikan. keluarga saya dengan segala kekurangan yang semakin menghilang, dengan kekompakan yang semakin menggunung. tidak ada satupun keluarga seperti yang saya miliki, seperti satu menu makan siang lengkap, semua rasa ada. komposisi yang pas, keseimbangan yang saling menjaga. menjaga sampai saat ini dan semoga hingga nanti. :)

Tuhan, izinkan aku kembali. :')

#J,20102011.biggood girl.
-missing home.

-regards, puterihujan...

Selasa, 14 Juli 2009

It's Not Your Bussiness.


Tak ada yang tahu mengapa malam begitu sunyi belakangan ini, kecuali aku. Karena sepertinya akulah satu-satunya orang yang terjaga ketika mimpi menyelimuti bisu. Karena mungkin hanya akulah satu-satunya orang yang tersadar dari lelap buaian waktu. Tidak kamu. Tidak mereka yang tak menahu. Ini hanya aku.


Lelahku, tentu kamu tak tahu. Bagaimana aku menunggu, atau bagaimana aku terjaga di waktu tidurku. Kemudian terbangun dengan mata sesipit garis tipis. Seperti habis menangis. Dan ibuku akan bertanya, “Apa saja yang kau lakukan semalam tadi ?”. Lalu ayahku menimpali, “Buat apa anak gadis bergadang setiap hari ?”.


Padahal banyak obat telah kutenggak demi terlelap. Banyak saran kulakukan demi membuat pikiranku sedikit lebih rileks lalu jatuh dalam gelap. Tertidur, aku hanya ingin tertidur. Namun, sepertinya yang ada hanya pil-pil yang melebur, usaha-usaha untuk merileks-an diri yang membuatku semakin ingin kabur. Sia-sia, dan membuat mental juga fisikku semakin hancur.


Kadang-kadang, ketika aku sudah tertidur dengan susah payah yang terjadi malah, aku mendapati diriku sedang terduduk di atas ranjang. Terbangun dengan tatapan nyalang. Tiba-tiba tersadar dari mimpi yang harusnya dibuang. Terlalu indah, mungkin, untuk terus aku kenang. Atau bisa jadi, aku mendapati diriku di sofa depan televisi. Terbangun heran karena tiba-tiba tergigit dingin malam dan dengan pertanyaan, bagaimana bisa aku berada di sini ?


Hal lain lagi yang sering terjadi, aku tetap tertidur hingga pagi. Tapi, ditemani isak sepanjang mimpi. Yang bahkan terus mengikuti ketika aku terjaga nanti. Lalu mataku jadi sembab. Menangis yang tanpa sebab. Lalu aku harus menyembunyikan bengkak itu di balik bedak. Mungkin dengan memakai celak. Itulah mengapa, mereka semua selalu suka dengan mataku. Karena terlalu penuh hujan yang kusimpan di situ. Kadang-kadang jika tak terbendung lagi akan kubagi sedikit-sedikit dengan hati. Biar hati yang menangis, karena tak semua bisa melihatnya di dalam sini.


Iya, Sayang, aku tahu. Semua itu bukan urusanmu. Bukan aku ingin mengiba atau memohon padamu. Semua itu hanya urusanku. Kebodohan berulang yang kulakukan selalu. Membuat mereka geram, gemas, kasihan, dan kadang menghinaku. Tapi, itu juga bukan urusan mereka. Aku tak keberatan jika mereka memberi beberapa wejangan kata. Asal bukan menghina. Tak seorang pun berhak menghakimi cinta. Sekalipun aku. Walaupun kamu.


Benar, Sayang, aku mengerti. Bahwa kamu tak mau tahu lagi soal ini. Bahagialah bersama hidupmu yang sekarang ini. Karena aku hanya ingin menuliskan hati. Bukan untuk mengganggumu bermimpi. Bukan untuk menguncang duniamu yang sekarang bersamanya, seperti yang dia lakukan pada kita. Aku bahagia dengan begini, menikmati apa yang kuingini. Menjadi tanpa pretensi. Mutlak menjadi aku. Bukan manis, bukan sayang, dan bukan pula mantan pacarmu.


Jadi, Sayang, kamu bahkan tidak berhak berkeberatan. Setitik pun, secuil pun, sesedikit apapun tentang perasaan yang kusimpan. Kamu tidak berhak melarang apa yang kurasakan. Aku tidak peduli kalau kamu bilang, “Jangan menunggu !” karena aku akan tetap melakukan. Aku melakukan yang kuinginkan. Mencintai hidupku seperti yang kamu lakukan. Tetap melangkah ke depan meski sangat perlahan, yang penting aku tidak stagnan.


Dan, Sayang, jangan hakimi aku karena merindu. Jangan membenciku karena aku jujur pada diriku. Jangan melarangku mencintai, karena kamu tak berhak begitu. Jika aku mencintaimu, bukankah itu bukan urusanmu ? Seperti halnya cintamu padanya yang bukan urusanku ? Kamu bebas semaumu, melakukan apapun itu. Asal jangan mencampuri urusanku soal mencintaimu. Karena sekalipun yang kucintai itu adalah kamu, itu sama sekali bukan urusanmu.



#Bandung, 14 Juli 2009. 0:46

- di tengah insomnia akut. Setelah konsultasi bersama dokteL dan adik perempuan kesayangan. Untuk kamu, yang sepertinya kemarin itu adalah dia.


n.b.

inspired by some wise words from Michellia. And half my true story. And (again) my honesty syndrome. And last, from another stories, movies, songs, etc. I love. Gut Nite !

Minggu, 12 Juli 2009

P.S. I Love You





Ada malam-malam kesepian yang harus kau habiskan sendirian. Dan yang aku tahu, kau melakukannya sambil memandangi bulan lewat jendela flat di ketinggian. Aku tahu rasanya kesepian, tidak menyenangkan. Di mana gemerlap lampu kota berpendar indah, sedangkan kita terkurung dalam kenangan. Terkungkung oleh perasaan yang harusnya ditinggalkan. Terluka karena perpisahan.

Ada hati yang sempat kau masuki dulu. Dan kau menggoreskan cerita-cerita indah bersamanya di catatan waktu. Tapi, seperti yang kau tahu, waktu tak begitu bersahabat dengan stagnasi, waktu berlalu. Kemudian kau sedikit terluka. Mengapa kubilang sedikit saja ? Karena aku tahu kau salah satu orang yang paling kuat yang kutahu. Berdiri dan tersenyum di antara pedih hatimu, pasti kau mampu.


Lalu, kau bertemu bias warna-warni yang sempat menceriakanmu. Tak bisa disentuh, hanya ditatap karena semu. Bias yang membuatmu membunuh sisi hipokrat dalam dirimu. Keceriaan yang membuatmu memendam satu perasaan untuk kau ungkapkan dahulu. Aku tahu, kau takut terluka dan juga melukainya. Atau kau mungkin sudah terlanjur tahu bahwa bukan kau-lah yang selama ini ditunggunya ?

Dan ketika itu aku tiba, mampir di baris ceritamu. Entah bagaimana dan darimana semua bermula, aku tak tahu. Kita adalah dua orang aneh yang dipertemukan perpisahan. Dua orang yang sama-sama terluka dan saling menguatkan. Cinta kita adalah saling membahagiakan. Dan kebahagiaan kita adalah saling melihat senyuman.


Kau mungkin orang yang paling mengerti, mengapa aku menyayanginya. Kau juga jadi orang yang paling membenci ketika aku menceritakannya, padahal kataku, dia mengabaikanku. Dia mendiamkanku sekalipun aku menyapanya, tidak sepertimu. Sekalipun kau marah sekali padaku, kau akan tetap membalas senyuman di layarku. Meski saat itu kau sedang menahan cemburu, itulah yang membuatku lebih menyukaimu.

Tapi, aku benci chermistry. Aku benci mengapa kita saling menyadari. Mengapa diam-diam kita saling mencuri hati. Dan benci setiap kali aku berpikir bahwa kau-lah yang sejak dulu kucari. Dan menyayangkan mengapa dua pesan pertama kita, kita anggap sebagai pertanda. Kau adalah hadiah ulang tahunku, begitu juga sebaliknya.

Namun, aku ingin kau tahu, tak sedikit pun aku menyesal karena bertemu denganmu. Malah aku bersyukur, karena darimu aku belajar banyak untuk kehidupanku. Aku menyadari hal-hal yang sebelumnya aku lewatkan. Aku menjadi lebih dewasa dan manja dalam waktu bersamaan. Aku menjadi sosok yang lebih menyenangkan menghadapi kehilangan. Sekalipun, Sayang, itu adalah kehilanganmu.

Banyak hal yang sebenarnya kau tak tahu. Tentang pesan-pesan aneh yang kutulis di blog friendster ku (andai kau bisa baca pesan itu lagi). Bulan Desember, setelah tiga hari peritiwa risk taker itu –bolehkan kusebut begitu?- aku sudah tahu. Aku tahu bahwa kebersamaan dua orang aneh yang dipertemukan kehilangan ini hanya sementara.

Saat itu rasanya seperti kehilangan duluan. Itu alasannya, Sayang, mengapa aku selalu menangguhkan jawaban jika kau menanyakan tentang, “Kita ini sebenarnya apa ?”. Aku takut sakit, sama ketika kau takut menyakiti pelangi. Aku takut menyakiti hatiku sendiri. Aku takut terjatuh terlalu dalam. Aku takut tenggelam.

Sebenarnya, Sayang, cerita kita belum akan berakhir sampai di sana. Sebenarnya akan ada pertemuan kita yang lain, yang sebenar-benarnya. Bukan hanya kata-kata. Senyuman hampa. Suara-suara. Sekilas tatapan mata. Bukan hanya itu semua. Tapi, aku dan kau tak akan pernah tahu kapan saatnya. Dan untuk sementara ini, Tuhan memilih memisahkan pertemuan kita yang oleh perpisahan itu. Aku tak tahu rencana Tuhan, tetapi aku yakin semuanya terbaik untukku, untukmu.

Aku benar-benar tak pernah dan tak akan pernah menyesali pertemuan biasa kita. Meskipun aku dapat pertanda. Walaupun aku yakin dengan semua yang ku’baca’. Karena, andai kita tak pernah bertemu, apa jadinya ? Aku tak akan kenal beberapa sahabatku yang juga sahabatmu. Aku tak akan mampu mengungkapkan hatiku pada dia yang dulu. Aku tak akan menjadi aku yang sekarang ini. Yang mati-matian memperjuangkan mimpi.

Tapi, bolehkan aku di sini sedikit lebih lama lagi ? Bukan karena aku belum mampu beranjak, namun aku belum mau. Aku masih ingin memanjakan hatiku sedikit lagi. Itu mengapa aku menyebut mereka –yang hadir setelahmu- pelangi. Karena mereka tak akan aku miliki. Karena aku hanya ingin menatap mereka, tanpa lebih dalam masuk ke kehidupan mereka. Aku masih takut terluka atau melukai mereka. Karena itu, izinkan aku di sini. Sedikit lebih lama lagi.

(n.b. Ohya, ada satu hal lagi. Maafkan aku jika kau merasa terlalu dikejar. Karena aku baru benar-benar tahu rasanya dikejar. –kau tahu siapa yang kubicarakan, ;). Rasanya agak menyebalkan, atau benar-benar menyebalkan terkadang, namun sekaligus kasihan. –tapi, kau tak perlu mengasihaniku. Aku akan mulai berhenti menjadi menyebalkan. Karena aku tahu kita masih akan bertemu di suatu kesempatan. Pertemuan yang sebenar-benarnya.)




And P.S. I Love You as my bigbro, my bestfriend, and my panda