kirimkan hujan ini ke . . .

Rabu, 01 Juni 2011

Ewuh Pakewuh versus Hypocrite versus Assertiveness


Judul yang agak cadas, saya tahu… :)




Ewuh Pakewuh, buat yang belum tahu, itu artinya bersikap segan kepada orang untuk menjaga hubungan, untuk menjaga perasaan orang yang bersangkutan, untuk menjaga kedamaian.





“Budaya Ewuh Pakewuh yang berarti sungkan dalam batas-batas normal akan meningkatkan tali silahturami dalam suatu lingkungan, kumpulan atau organisasi. Budaya demikian merupakan cerminan budaya timur yang sangat menghargai orang lain dan tanpa bermaksud menjatuhkan apalagi mempermalukan orang lain.”- kutipan blog orang.


Tapi, namun, but… Saya rasa dan saya pikir (setelah melihat banyak fenomena tentunya) budaya Ewuh Pakewuh ini sudah terlalu kental dan mendarah daging di Indonesia, khususnya (tanpa bermaksud SARA) di kebanyakan daerah Jawa (tengah dst).




(tulisan ini hanya sekedar share tanpa bermaksud mendiskreditkan golongan atau kelompok apapun :) )




Ya, Ewuh Pakewuh sepertinya memang berasal dari kebudayaan Jawa. Orang-orang Jawa dikenal akan keramahtamahannya, akan sikap dan tuturkatanya yang selalu lembut meskipun mereka tidak suka, tapi mereka tak pernah menunjukkan terang-terangan apa yang dirasakannya. Lagi-lagi ini generalisasi, meskipun tidak semua orang Jawa (yang saya tahu) bersikap begitu.





Sebenarnya budaya Ewuh Pakewuh itu baik, karena maksudnya untuk menjaga perasaan dan jalinan silaturahmi sesama manusia. Agar hidup ayem tentrem dengan tetangga, saudara dan teman. Namun, coba tebak apa yang akan terjadi kalau sikap dan maksud baik dari Ewuh Pakewuh dilakukan berlebihan ? :)






M-U-N-A-F-I-K. Ya, MUNAFIK! Satu kata yang paling-paling-paling-paling-paling-paliiing saya benci. Meskipun (jujur) saya terkadang melakukannya dan menjadi lebih sering lagi ketika saya berada di Jogja ini.




Katanya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi, saya putuskan untuk “belajar” bersikap Ewuh Pakewuh. Tapi rupanya saya belajar dari (kebanyakan) orang yang salah, salah kaprah tentang Ewuh Pakewuh. Jadilah, bukannya bersikap dan mempraktekkan Ewuh Pakewuh yang benar, saya malah menyerempet jadi munafik.




Contoh nyatanya sih, ketika sedang kesel banget sama orang, biasanya saya lebih memilih menghindar dari orang tersebut (karena kalau ketemu, muka saya bisa berubah jadi monster yang sangat menakutkan). Tapi, kemudian saya mempraktekkan Ewuh Pakewuh salah kaprah yang saya pelajari, saya terpaksa (terpaksa banget!) bermanis-manis muka, tutur kata, tersenyum tulus (tapi terpaksa, dan dalam hati misuh-misuh). Ya, saat itu saya merasa jadi orang munafik. Karena saya tipe orang yang : salah itu hitam dan benar itu putih. Suka ya bilang suka, ngga ya tinggalin aja!




Jika saya mengalami hal di atas ketika saya di Bandung, itu menjadi lebih mudah. Karena, saya bisa memakai istilah Wawuh Munding yang artinya ‘kenal kebo’. Lha? Hahaha, maksudnya, seperti kerbau yang saling bertemu di jalan, tersenyum tapi ngga usah sok bermanis-manis.




Mungkin, Ewuh Pakewuh memang berguna untuk menjaga hubungan silaturahmi. Tapi, menurut saya daripada saling diam dan menyimpan dendam, kenapa ngga pada saling ngomong saja sih ? Kenapa senyum-senyum tapi belakangnya tikam-tikam? Dan ujung-ujungnya, saya semakin menjadi krisis kronis kepercayaan di sini (Jogja). Saya merasa orang yang bisa saya percaya SANGAT SEDIKIT, tentunya saya percaya pada orang-orang yang tidak pakai Ewuh Pakewuh salah kaprah yang menjurus munafik. Saya tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya mendukung siapa (saya selalu jadi pihak netral, namun menghindari orang-orang yang selalu bermasalah sama orang lain, kalau bermasalah sama satu orang, itu wajar, tapi kalau lebih tiga orang yang mempermasalahkan, hiiiy).




Saya mengalami ini dan saya kadang (sering sih) malah jadi stress sendiri. Dan sepertinya, bukan saya saja yang mengalami, ada seorang teman yang sama-sama perantau yang juga mengalami ini. Nah, intinya sih kami bingung dengan Ewuh Pakewuh (yang salah kaprah, yang berlebihan). Saya jadi menjaga jarak kepada banyak orang karena… ya, karena itu tadi. Saya tidak pernah tahu, sikap baiknya tulus atau hanya budaya Ewuh Pakewuh, atau parahnya lagi simbiosis parasitisme (mutualisme diterima lah yaaa).




Jadi, curhatan saya dengan pemikiran dangkal saya ini, sebenarnya ingin berusaha meluruskan dengan mengira-ngira. Mungkin… budaya Ewuh Pakewuh itu sebenarnya dimaksudkan untuk melatih seseorang bersikap asertif, bukan agresif. :)





Asertivitas.



“Asertif mengandung pengertian untuk mengatakan dan bertindak sesuai dengan hati nurani dan benar adanya. Hanya dua warna untuk asertif ini : Hitam atau putih. Orang yang bertingkah laku asertif, memiliki keberanian sungguh-sungguh untuk mengatakan kebenaran yang ada sekalipun ia siap untuk tidak disenangi orang lain. Ia berani mengatakan apa yang benar kepada orang lain tanpa perlu merasa ada hutang budi atas kebaikan orang lain tersebut. Bahkan ia sangat selektif menerima pemberian orang lain, jika pemberian tersebut nantinya akan menganggu idealismenya untuk menegakkan kebenaran. Orang Asertif juga mengisyaratkan penyampaian pendapat sekalipun pendapatnya tersebut sudah pasti benar. Tidak Ceplas-ceplos dan blak-blakan yang terkesan tanpa etika komunikasi.”-kutipan blog orang.



Asertif adalah :

n Mengatakan tidak

n Memulai, melanjutkan/memelihara, dan mengakhiri pembicaraan

n Minta pertolongan

n Mengekspresikan perasaan (+ dan -)

n Meralat

n Memuji, menerima pujian

n Mengekspresikan perasaan

n Menyapa

n Menyatakan ketidaksetujuan

n Menanyakan sebab

n Membicarakan tentang diri sendiri

n Melihat mata orang lain

(Lazarus dan Rathus, materi kuliah Modifikasi Perilaku)





Menurut saya pribadi (karena blog ini adalah curhatan dengan sedangkal pikiran dan seiprit keilmiahan saya) budaya Ewuh Pakewuh harusnya dimaknai dan dilakukan serta dijadikan seperti asertivitas. Kenapa ?




Asertif bukanlah bicara blak-blakan tanpa tedheng aling-aling (maaf kalo salah penulisan). Asertif adalah bagaimana mendapatkan hak kita, menyatakan keberatan, mengekspresikan emosi, dan menolak tanpa menyakiti yang bersangkutan (yang ditolak, yang tidak kita senangi). Memang sih, rasanya hampir mustahil kalau menolak atau menyatakan keberatan tapi tidak membuat yang bersangkutan tidak enak hati, tapi lebih baik begitu. Asertif itu kejujuran yang sopan. :)




Saya menulis ini, curhat tentang ini, karena saya sudah ENEG sama Ewuh Pakewuh yang salah kaprah yang diterapkan lingkungan sekitar saya. Dan ketika saya searching, malah jadinya banyak yang memandang SARA budaya yang sebenarnya bermaksud baik ini. Yah, memang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dan bukan hal mudah bersikap asertif di masyarakat yang sudah terlanjur menerapkan Ewuh Pakewuh yang salah kaprah (khususnya masyarakat pendidikan rendah, di daerah tempat tinggal saya di Jogja sini). Ketika bersikap asertif kita memang harus siap menerima permusuhan karena dianggap sombong. *btw, asertif dalam bahasa Inggris dapat diartikan sombong dalam bahasa Indonesia*




Ya, saya berusaha bersikap asertif namun menjaga agar tidak malah jadi agresif (jujur sih, dulu saya lebih ke agresif, ga suka yaudahlaah). Mulai dari menolak memberikan contekan (dan tentu saja banyak yang komen-komen nyakitin hati, saya tahu bahkan dengar sendiri, tapi biarlah!), mulai dari menolak menuliskan nama anggota kelompok kalau tidak mau ikut partisipasi padahal sudah diajak (disuruh malahan), mulai dari menolak terlibat kepada hal-hal yang menurut saya tidak benar atau tidak saya sukai. Ya, saya masih belajar menjadi asertif dengan keterbatasan saya yang kadang malah menjadi agresif (seringnya begitu) atau menjadi munafik. (tapi, saya lebih memilih menyerempet ke agresif, karena munafik itu dibenci dalam Islam (agama saya) ). Well, gimana dengan kamu? :)




-puterihujan




11 Juni 2011 – 22.04



ket : sumber blog http://handokotantra.com/sisi-negatif-dari-budaya-ewuh-pakewuh.html

Selasa, 26 Oktober 2010

(still) Finding Nimo (?)


"Finding Nimo"
Rasanya dua frase itu sudah tidak asing lagi. Ah, tidak, bukan. Bukan "Finding Nemo", bukan mencari ikan badut. Nimo, dan bukan Nemo. Nimo adalah tokoh utama cowok di novel teenlit "Cintapuccino" yang kemarin-kemarin itu sudah difilmkan. Ceritanya, Arrahmi (si cewek pemeran utama) sedang mencari obsesinya, Nimo. Dia mencari Nimo. Padahal, saat itu dia sudah bertunangan dengan seorang cowok, namanya Raka. Endingnya, Rahmi meninggalkan Raka untuk mengejar obsesinya, Nimo.

Dan bertahun-tahun lalu, saya banyak menuliskan frase itu. Saya sering sekali mencari Nimo. Dulu, Nimo yang saya cari adalah seseorang. Hanya saja, berbeda dengan Rahmi, Nimo yang saya cari bukan obsesi saya. Bahkan, saya belum pernah mengenalnya. Saya hanya mencari. Saya mencari Nimo.

Bagi saya, Nimo yang ada dalam pikiran saya adalah seseorang yang nantinya akan mendampingi hidup saya. Karena pada saat itu, saya tidak merasa bahagia, maka saya berkhayal (dan berharap) bahwa Nimo akan membawakan kebahagiaan untuk saya. Kemudian, saya bertemu dengan seseorang yang saya pikir akan menjadi Nimo. Tapi, eh, kok, dia malah mirip Raka. Lantas saya mencari lagi, dan menemukan seseorang. Tidak persis seperti seorang Nimo. Tapi, saya pikir dia adalah pertanda-pertanda yang dikirimkan Tuhan pada saya. Dan saya berusaha memercayainya.

Bukan hidup namanya kalau cuma bahagia. Tebakan saya tentang Nimo ini salah. Orang itu pergi, dan kemudian saya mencari-cari lagi Nimo yang lain. Tidak pernah ketemu. Saya akhirnya menyerah, tidak pernah mencari. Mungkin, Nimo untuk saya bukan seseorang, tetapi berwujud sesuatu. Mungkin. Semoga. :)

***

Ketika saya memutuskan untuk tidak lagi mencari Nimo, semuanya terasa lebih mudah. Entahlah, saya merasa bebas dari apa. Yang jelas, tidak ada lagi beban untuk mencari Nimo. Tidak ada lagi kriteria-kriteria mengikat untuk memastikan bahwa Nimo harus seseorang, bukan sesuatu. Saya bebas! Dan hebatnya, di dalam kebebasan itu, saya malah menemukan seseorang. Di saat saya memutuskan tidak akan mencari, saya malah menemukan, Tuhan malah memberikan. Tapi, saya yakin dia bukan Nimo. Saya tidak pernah terobsesi padanya, pun begitu sebaliknya. Seseorang yang bersama saya (sampai saat ini), bukan Nimo. Dia adalah dia. Bukan siapa-siapa. Dan saya tidak mau menjadi terlalu naif dengan menyamakannya dengan apa-apa, dengan siapa-siapa. Karena, tidak ada satupun yang sama di dunia ini, dan tak pernah ada yang suka dibandingkan. (baca deh, post saya sebelum-sebelumnya. ;) )

Saya pikir saat itu, permainan "Finding Nimo" saya sudah usai. Sehingga saya tak perlu mencari lagi. Saya pikir, inilah yang saya cari-cari sejak dulu, sejak pertama kali saya memainkan "Finding Nimo". Tapi, saya salah. Iya, saya salah. Ternyata, saya belum bahagia seperti Arrahmi ketika menemukan Nimo-nya. Bukan berarti saya tidak bahagia, tetapi saya belum bahagia. Ada yang masih terasa kosong, bahkan dengan kehadiran dia. Dan saya masih mencari kebahagiaan yang belum lengkap itu.

***

Ceritanya...
Sebelum menemukan dia (atau bertemu dan saling menemukan), saya berada di Bandung. Saya sedang menghadapi fobia saya yang adalah kehilangan. Saya sedang menghadapi ketidakbebasan saya, berada di sangkar emas. Saya sedang bertahan dalam keterpaksaan saya menjalani kehidupan saya yang bukan saya. Dan saya depresi. Sangat depresi. Buat saya, itu seperti tabrakan beruntun. Sudah jatuh tertimpa tangga. Putus. Nilai-nilai di kampus yang sangat buruk. IPk rendah. Sendirian. Kuliah bukan di jurusan yang saya senangi. Saya merasa skak mat saat itu.

Lalu, saya memutuskan untuk berlari. Menyepikan diri dari berbagai masalah dan sakit-sakit itu. Bermeditasi. Saya belum siap menghadapi sakit-sakit itu. Saya hampir gila. Saya menangis setiap siang, malam, setiap kali bangun sampai jatuh tertidur lagi. Setiap kali. Sampai-sampai semua orang memuji mata saya yang katanya jadi indah. Iya, saking kebanyakan menangis. Mata saya terlihat sangat memelas. Hati saya sudah tak punya rasa, motivasi, keinginan untuk melakukan apapun. Karena itulah, saya mencari. Mencari rasa-rasa yang pernah saya punya. Dan berkat seorang teman, Dewi Kharisma Michellia, saya sampai ke Jogja.

Pindah ke Jogja, bukanlah hal yang mudah. Justru lebih sulit. Saya harus siap menghadapi kehilangan-kehilangan yang lain.
1. Kehilangan teman-teman terbaik saya yang kesemuanya berada di Bandung (Asri, Rana, Anie, Sita, Rara, Nessa, Anin, dan etc).
2. Kehilangan prestie karena kuliah di kampus keren, bonafide, meski IPk saya rendah.
3. Kehilangan Bandung dengan mall-mall kesayangan saya, makanan-makanan enak yang bisa ditemui di mana saja, selera fashion yang bahkan terkenal sampe mana-mana, butik-butik keren, dan gaya hidup serba enak.
4. Kehilangan segala fasilitas yang saya miliki di rumah, yang kalau mau ke mana-mana tinggal minta anter supir, yang bisa nonton TV channel luar negeri favorit saya sepuasnya, yang bisa enak-enakan tidur karena kamar sendiri tanpa mikirin listrik, makan tinggal makan karena dimasakin mama. Ah, iya, mama... Dan saya meninggalkan dia.

Namun, semua hal menggiurkan di atas nekad saya tinggalkan. Saya orang yang keras kepala, apapun yang telah saya katakan, akan saya lakukan. Dan saat itu saya tengah kebosanan, saya berada di titik jenuh. Saya merasa tidak sanggup. Dan saya hijrah ke Jogja. Jogja yang sendirian, dan sampai saat ini saya belum menemukan orang-orang yang seperti sahabat-sahabat saya di Bandung. Kampus saya, bahkan jurusan saya belum punya akreditasi dan jurasan saya dianaktirikan oleh fakultas lain yang padahal satu gedung. Kehidupan hedonis saya di Bandung jelas tidak bisa dibawa ke Jogja, atau saya akan dicap SOMBONG. Kostan (atau kontrakan), bukan tempat seindah sangkar emas saya. Apa-apa sendiri dan saya harus selalu berbagi.
nb: di rumah, mama selalu menyediakan satu-satu, jadi saya tak perlu membagi apapun dengan siapapun, meskipun itu adalah adik saya.

Dan saya menyesal. Merasa begitu bodoh karena meninggalkan banyak sekali anugerah Tuhan. Saya menghancurkan hidup saya sendiri. Sementara teman-teman saya sedang bersiap-siap wisuda, saya masih tingkat dua. Saya terjun bebas. Saya jatuh dari sangkar emas ke parit berlumpur. Saya merasa hancur.

Untungnya, saya selalu diajarkan untuk mengadu kepada Tuhan, jika memang sudah tak ada tempat lain lagi untuk mengadu. Dan saya melakukannya. Saya mengadu panjang lebar kepada Tuhan yang sebelumnya hanya tempat saya meminta. Saya sering meminta, tetapi jarang bersyukur dan berdoa. Jadi kemudian, saya bicara pada Tuhan, berterimakasih, berkeluhkesah, mengaku kalau saya begitu bodoh karena menyia-nyiakan anugerah-Nya. Dan saya tidak meminta. Saya berharap, tetapi saya tidak lagi meminta. Yang saya minta haya satu, segala yang terbaik menurut-Nya, untuk saya. Saya mengejar-Nya, karena kemarin-kemarin kebanyakan saya lupa. Saya berharap, DIA masih mau memeluk saya.

***

Meskipun sampai saat ini saya belum menyelesaikan permainan "Finding Nimo" saya, saya sudah melihat titik terang. Saya mulai mengejar cita-cita saya menjadi seorang psikolog, penulis, pengusaha, apapun itu. Saya mencari beasiswa (dan sedang memohonnya, doakan agar diterima ya! amien). Saya melakukan hal-hal yang menurut saya dan orang-orang dan TUHAN baik. Saya mencoba menyempurnakan dengan ketidaksempurnaan. Saya mencoba menyadari kebahagiaan yang ada dalam diri saya. Saya mencoba tidak terpaku dalam sakit. Saya mencoba bangkit. Saya mencoba membanggakan dan membahagiakan orang tua dan semua orang yang saya cintai dan mencintai saya. saya sedang dalam tahap percobaan.

Reruntuhan yang kemarin itu, membukakan banyak jalan baru untuk saya. Saya hanya harus memilihnya, menjalaninya dengan serius, meski jalannya tidak selalu mulus. tapi, saya harus konsisten supaya dapat sampai di ujung sana. Di semua harapan dan cita-cita saya. Dan sampai saat saya menulis ini, saya masih belum menemukan Nimo. Nimo saya adalah sesuatu, entah apa. Tapi, saya sedang menuju ke sana, menemui Nimo saya. :)

Hopefully, saya akan dapat menemui Nimo secepatnya. Doakan saya. ;)


Yogyakarta, 26 Oktober 2010 at 09.22
#terinspirasi dari film "Eat, Pray, Love" yang kemarin saya tonton.

-regards, puterihujan.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Rain, no more...


Rasanya, saya suka hujan. Iya, sejak kecil saya suka hujan. Saya tidak tahu apa alasannya. Tapi, rasanya saya suka hujan. Saya ingat bagaimana ketika berlebaran di usia lima atau enam tahun, saya memainkan payung kesayangan, sambil sibuk ngiterin rumah tetangga-tetangga untuk bermaafan, sekalian menunggu angpao lebaran. Saya sangat suka hujan, sampai-sampai baju baru saya yang terkena noda tanah basah tidak saya pedulikan.

Sampai beranjak remaja, saya juga tidak berhenti menyukai hujan. Saya ingat, ketika duduk di kelas lima atau enam Sekolah Dasar, saya suka berhujan-hujanan. Tidak peduli, bahwa besok saya akan demam, hidung saya tersumbat, atau malah (mungkin) mampir di Rumah Sakit. Pokoknya, saya sangat suka berhujan-hujan. Berada di bawah langit sambil dijatuhi butiran hujan rasanya sangat menyenangkan.

Sewaktu saya duduk di kelas satu Sekolah Menegah Pertama apalagi. Saya sangat menyukai hujan saat itu. Entah mengapa, buat saya (ketika itu) hujan selalu punya kekuatan untuk membuat saya terdiam sejenak, mengenang masa lalu, mengigat seseorang, merasa sedih, atau singkatnya, membuat saya mengharu biru. Padahal, ketika itu, saya belum benar-benar tahu apa artinya memiliki dan kehilangan. Tapi, saya tahu, hujan berarti pilu yang sempat terabaikan.

Nah, ketika saya memasuki dunia Sekolah Menengah Atas, hujan berarti sakit hati. Hujan berarti kehilangan hati. Hujan berarti, langit sedang menangis untuk saya. Atas beberapa orang yang pergi setelah mereka mampir. Hujan berarti kesendirian yang kesepian. Hujan berarti banyak. Tapi, semakin banyak kawan saya yang menyukai hujan. Semakin banyak komunitas orang-orang aneh yang merasa dirinya terhubung dengan hati, melalui hujan. Namun, seaneh apapun itu, saya masih tetap menyukai hujan. Masih.

Memasuki dunia kuliah, yang berarti tanggung jawab dan dewasa, saya semakin menyukai hujan. Ibaratnya, saya mencari hujan. Di mana ada hujan, akan ada saya. Di mana hujan, di sana saya. Hujan dan saya, rasanya sudah membuat suatu kesepakatan. Ketika saya berdiri di atas bumi, dia akan mendatangi saya ke bawah langit. Bahkan, saya rela berhujan-hujan sepulang kuliah, padahal, di tangan kanan saya, saya menggenggam payung lipat! Bayangkan, apa pikiran orang-orang yang melihat. Mereka yang bergeleng-geleng kepala itu, mungkin akan bilang seperti ini : “
Ari eneng, cageur?”*. Saking mereka heran, apa sih yang sedang saya lakukan? Dan sebenarnya, sekarang, saya juga heran.***


Saat ini, tiba-tiba saya terheran-heran sendiri. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat saya menyukai hujan sebegitunya. Ada apa di balik hujan yang justru menambah kesepian dalam sebuah kesendirian. Apa yang saya tunggu dalam hujan yang menyimpankan pilunya sakit hati. Mengapa saya mencari hujan dan bahkan rela bermandi hujan tanpa khawatir akan terserang flu, atau demam, atau penyakit hujan lainnya. Tiba-tiba saja saya ingin tahu. Mungkin,
flashback ke masa-masa ‘menyukai hujan’. Namun, sekeras apapun pikiran saya mencari tahu, saya tidak menemukannya. Mereka bilang, saya harus bertanya pada hati. Iya, hati. Benda yang membuat logika saya tidak pasti.

Saya ingat sendiri, bahwa menyukai hujan adalah alami. Saya diajarkan untuk mensyukuri keberadaan hujan. Saya terlatih untuk menganggap, bahwa hujan adalah berkah terindah dari Tuhan yang dapat saya lihat lebih sering. Dibanding pelangi atau bintang jatuh. Jadi diam-diam saya menyukai hujan. Diam-diam menyelipkan luka-luka saya di antara tetesannya. Pelan-pelan memaknainya dalam kesunyian yang dibawa hujan sebagai teman. Sehingga saya berteman dengan kesunyian. Kemudian saya, hujan, serta kesunyian menjadi suatu komposisi yang menciptakan rasa-rasa yang khas. Rasa yang dapat dikecap dalam kekata yang dituang untuk berkisah. Meski tak semua orang menyukainya, tetapi, sebagian besar orang dapat menerka rasanya.

Saya, hujan, dan kesunyian, mungkin berteman terlampau lama. Sampai komposisi itu terasa tidak pas, hambar. Mungkin saya yang belum menemukan cara untuk memperbaharui komposisi rasa tersebut. Atau saya, hujan, dan kesunyian telah kehilangan kekhasan kami. Karena rasanya, telah lama saya menjauhi sunyi. Terlalu banyak sunyi yang berarti kesepian dan saya enggan kesepian. Saya tidak lagi menikmati sunyi-sunyi saya ketika hujan. Bagi saya, sekarang, sunyi-sunyi yang diciptakan hujan itu membunuh perlahan. Pelan-pelan dan diam-diam. Sunyi-sunyi yang diciptakan hujan itu membunuh saya dengan air mata. Saya banyak menangis karena entah apa. Saya jadi cengeng, tidak lagi ceria.

Jadi, saya memutuskan untuk berhenti menyukai hujan. Atau paling tidak, saya berhenti menyukai hujan yang mengantarkan sunyi paling kesepian pada saya. Karena saya takut, hujan membawa kembali luka-luka yang pernah saya selipkan di antara tetesannya. Saya khawatir, memaknai luka-luka itu dalam kesunyian akan membunuh saya perlahan. Pelan-pelan dan diam-diam. Tiba-tiba saya mati karena air mata saya sendiri. Menangisi entah apa atau siapa. Menerka-nerka rasa hampa yang tiada. Ah, saya hanya sudah lelah. Jenuh berkomposisi dengan hujan dan kesunyian. Mungkin ini saatnya. Mungkin ikatan mistis saya dan hujan sudah hilang. Mungkin hujan bagi saya sekarang hanya berarti : kebasahan, kebanjiran, berteduh di emper pertokoan, kilat yang menyambar, angin yang terlalu keras berhembus. Mungkin saya kehilangan kemampuan memaknai hujan. Tapi, saya masih mensyukurinya walau seringkali berharap: harusnya hujan tidak turun sesering ini.

Bagaimanapun, saya akan tetap menyukai hujan, meski tanpa makna, tanpa filosofi, dan hampa. Karena saya bertumbuh bersama hujan. Saya hanya berharap tidak membenci hujan karena mengantarkan banyak luka. Kemudian, membuat saya menjadi sakit.

-regards: puterihujan :)

(24-26/09/2010)

ket: *
Neng baik-baik saja, kan?

Selasa, 28 Juli 2009

You Just Like Her...






"Kamu tahu ngga, kamu itu mirip sama mantanku pas SMP."


Kata-kata seperti itu rasanya sudah sangat tidak asing di telinga. Entah itu adalah pujian atau gombal biasa. Tapi, jika itu gombal, maka saya rasa itu adalah kesalahan telak. Mutlak. Kenapa ? Well, coba sedikit saya bahas menurut pemikiran saya yang objektif dan kadang subjektif.***

Ask yourself..
Apakah kamu suka dibandingkan? Dengan siapapun. Dengan orang tuamu yang adalah orang paling sukses sekeluarga, sedunia. Dengan saudara/i-mu yang kamu rasa lebih pintar, lebih cantik/cakep, lebih bisa mengambil hati, dan lebih segalanya. Apalagi dengan orang lain.

Saya rasa (dan saya yakin karena telah mewawancara beberapa teman), tidak seorang pun suka dibandingkan di dunia ini. Dibandingkan dengan orang lain membuat orang dibandingkan merasa... hmm, tidak menjadi dirinya. Meskipun itu dalam bentuk pujian. Karena bagaimana hebatnya dia, dia dilihat sebagai orang lain.

"Loh, dia kok ga masuk ITB kayak kakak-kakaknya ?"
- Tapi 'kan saya bukan kakak.

"Ih, dia kok gak secantik adiknya ya ?"
- Bahkan, anak kembarpun tak selalu sama.

"Senyum kamu mirip banget sama mantanku, deh.."
- jadi lo macarin gue cuma karena gue mirip mantan lo? GTH sono.

danlainlain, danlainlain.

---

Menjadi anak kembar, mungkin yang paling terasa. Karena ke manapun, masing-masing dibayangi kembarannya. Bagusnya, jika satu sama lain bisa termotivasi untuk jadi sukses. Jeleknya, jika salah satunya nge-drop terus stress.

Tapi, selain itu, karena saya adalah seorang Love Consultant, saya akan membahas contoh (di atas) yang terakhir. :D
*jujur, karena ini yang paling banyak dan sering menimpa saya dan pasien-pasien saya.

Saya cukup sangat sering sekali dibandingkan. Entah karena muka saya yang pasaran -sialan!-, begitupun nama, atau beberapa sifat. Sebenarnya, saya tidak keberatan jika dibandingkan jika.. tanpa maksud. Misalnya, "Kamu tuh sekilas kayak si Mira." dan hanya jika yang ngomong itu teman-teman saya. Yah, siapapun Mira deh, asal with no feeling. Tokh begitu banyak kemiripan di dunia.

Tapi, saya paling sangat tidak suka, kalau saya dikait-kaitkan dengan orang masa lalu. Dan atau, orang-orang yang baru datang dan spesial buat si pembanding. Sedangkan saat itu, misalnya, si pembanding sedang pe-de-ka-te atau malah parahnya, adalah pacar saya.

"Wah, kamu mirip pacarku dulu."
>> dan trus pas saya liat foto si pacarnya dulu... jauuuuuuuuuuuuuuuh banget bedanya. BODOH.

"Kalo, ngomong kayak gitu, kamu mirip si "A". " (eR did it, huh.)
>> trus saya bilang ajah, "Mau bantuan LC buat balikkan?"

"Maaf, tapi kalo ngeliat dia, aku jadi inget kamu. Soalnya kalian mirip."
>> alasan untuk selingkuh, mutusin, ngedua, yang ngga banget! dan same as number one... ternyata orang yg dimaksud ngga ada mirip-miripnya sama saya. (Ini beneran saya polling loh! Temen2 saya, bahkan orang yang gak kenal, saya suruh membandingkan foto saya dan yang katanya mirip saya.)

Intinya, dari sepanjang kurang lebar ini saya bercerita, saya tidak suka, tidak mau dan tidak berharap dibandingkan. Dan sepertinya (lagilagi mungkin saya subjektif) tidak ada orang yang suka dibandingkan. Bukannya saya tidak pernah membanding-bandingkan seseorang. I did it. Dan karena itu, saya tahu kebanyakan orang tidak suka dibandingkan.

Buat saya, dibandingkan berarti orang itu sudah men-judge saya seperti apa yang dia kira (dengan dibandingkan dengan seseorang yang menurut dia mirip dengan saya), tanpa dia tahu siapa saya sebenarnya. Dan saya tidak suka dinilai karena saya mirip seseorang. Saya ingin dilihat seperti saya. Dan ketika orang melihat, mendengar nama saya mereka ingatnya saya. Bukan orang lain yang serupa dengan saya.

Kadang-kadang saya merasa dihakimi jika dibandingkan dengan seseorang -siapapun itu-. Rasanya seperti dipaksa jadi seperti orang itu. (meskipun ga ada yang maksa sih). Saya ingin dilihat secara utuh sebagai saya, bukan orang lain ketika orang-orang sedang berbicara dengan saya. Dan menurut saya, daripada berbicara dengan saya adalah seolah-olah bicara dengan seseorang, bukankah lebih baik berbicara dengan orang yang dimaksud langsung?

And honesty, it make me ilfeel. Saya langsung ilfeel kalo saya dibandingkan ama ex- ex- ex- orang. I'm not your past and never been. Dan, voila. Hilanglah nama orang tersebut dalam list.

Saya tidak keberatan jika saya dibandingkan oleh pasien-pasien saya. Kenapa ? Karena mereka lagi terluka. Karena mungkin mereka masih ingin mengingat-ingat, meski saya sarankan, lebih baik cepat move on ;). And so, never do it. Nobody like to be compared. Lihatlah orang dari apa adanya diri mereka. Bukan ada apanya. *bingung yah?

Well, sepertinya.. Saya mesti menyudahinya tulisan ini.
*soalnya yang empunya kompi sudah menagih kompinya. :P

Senin, 20 Juli 2009

Flashback Time


Butuh waktu yang cukup lama untuk membuktikan kebenaran. Kebenaran tentang yang kau rasakan, kebenaran yang selama ini kau coba pendam, sembunyikan. Itulah mengapa butuh kesabaran ekstra untuk menunggu. Membuktikan pada hati dan dunia dan segala isinya jika kebenaran akan tersingkap lewat waktu. Tapi, Sayang, mungkin kau tak cukup sabar ketika itu. Kemudian, kebohongan dan segala palsu kau aku-aku.


“Dia memang pacarku, dulu.”


Kau bicara begitu kepada orang lain ketika mereka menanyakan tentang kau dan aku. Sebenarnya aku tak butuh pengakuanmu kepada dunia tentang siapa kita dulu. Sebenarnya aku tak peduli pengakuanmu kepada semesta tentang keberadaanku. Aku hanya ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu, ucapmu, kata-katamu, suara khasmu, dan intonasi kejujuranmu. Meski dulu sejuta kali kau bilang begitu. Meski dahulu, tak bosan kau ingatkan aku : “Kamu, pacarku.”


Bicara lantang dengan hati berbisik itu mudah dilakukan. Karena kau tak perlu mendengarkan. Atau memedulikan hati yang berteriak menuntut kebenaran. Yang kau perlukan hanya bicara. Berkata-kata tanpa nurani ikut serta. Tak perlu peduli seberapa sakit yang kurasa. Begitu mudahnya, yah, lupakan saja.


Tapi, bolehkah sekarang aku yang memilih ? Setelah selama ini kuabai pedih-perih. Bolehkah aku bilang kalau aku tak tahu siapa dirimu ? Bolehkah aku melupakanmu seperti kau melupakanku ? Bolehkah membuangmu, seperti dulu kau membuangku ? Bolehkah kuminta jangan katakan aku mantan pacarmu jika aku bertemu kau dan dia ? Bolehkah kulakukan semua itu ? Setelah kau mencampakkanku.


Kurasa, aku boleh.


Bandung, 20 Juli 2009. 23:26

-untuk eR.

Selasa, 14 Juli 2009

It's Not Your Bussiness.


Tak ada yang tahu mengapa malam begitu sunyi belakangan ini, kecuali aku. Karena sepertinya akulah satu-satunya orang yang terjaga ketika mimpi menyelimuti bisu. Karena mungkin hanya akulah satu-satunya orang yang tersadar dari lelap buaian waktu. Tidak kamu. Tidak mereka yang tak menahu. Ini hanya aku.


Lelahku, tentu kamu tak tahu. Bagaimana aku menunggu, atau bagaimana aku terjaga di waktu tidurku. Kemudian terbangun dengan mata sesipit garis tipis. Seperti habis menangis. Dan ibuku akan bertanya, “Apa saja yang kau lakukan semalam tadi ?”. Lalu ayahku menimpali, “Buat apa anak gadis bergadang setiap hari ?”.


Padahal banyak obat telah kutenggak demi terlelap. Banyak saran kulakukan demi membuat pikiranku sedikit lebih rileks lalu jatuh dalam gelap. Tertidur, aku hanya ingin tertidur. Namun, sepertinya yang ada hanya pil-pil yang melebur, usaha-usaha untuk merileks-an diri yang membuatku semakin ingin kabur. Sia-sia, dan membuat mental juga fisikku semakin hancur.


Kadang-kadang, ketika aku sudah tertidur dengan susah payah yang terjadi malah, aku mendapati diriku sedang terduduk di atas ranjang. Terbangun dengan tatapan nyalang. Tiba-tiba tersadar dari mimpi yang harusnya dibuang. Terlalu indah, mungkin, untuk terus aku kenang. Atau bisa jadi, aku mendapati diriku di sofa depan televisi. Terbangun heran karena tiba-tiba tergigit dingin malam dan dengan pertanyaan, bagaimana bisa aku berada di sini ?


Hal lain lagi yang sering terjadi, aku tetap tertidur hingga pagi. Tapi, ditemani isak sepanjang mimpi. Yang bahkan terus mengikuti ketika aku terjaga nanti. Lalu mataku jadi sembab. Menangis yang tanpa sebab. Lalu aku harus menyembunyikan bengkak itu di balik bedak. Mungkin dengan memakai celak. Itulah mengapa, mereka semua selalu suka dengan mataku. Karena terlalu penuh hujan yang kusimpan di situ. Kadang-kadang jika tak terbendung lagi akan kubagi sedikit-sedikit dengan hati. Biar hati yang menangis, karena tak semua bisa melihatnya di dalam sini.


Iya, Sayang, aku tahu. Semua itu bukan urusanmu. Bukan aku ingin mengiba atau memohon padamu. Semua itu hanya urusanku. Kebodohan berulang yang kulakukan selalu. Membuat mereka geram, gemas, kasihan, dan kadang menghinaku. Tapi, itu juga bukan urusan mereka. Aku tak keberatan jika mereka memberi beberapa wejangan kata. Asal bukan menghina. Tak seorang pun berhak menghakimi cinta. Sekalipun aku. Walaupun kamu.


Benar, Sayang, aku mengerti. Bahwa kamu tak mau tahu lagi soal ini. Bahagialah bersama hidupmu yang sekarang ini. Karena aku hanya ingin menuliskan hati. Bukan untuk mengganggumu bermimpi. Bukan untuk menguncang duniamu yang sekarang bersamanya, seperti yang dia lakukan pada kita. Aku bahagia dengan begini, menikmati apa yang kuingini. Menjadi tanpa pretensi. Mutlak menjadi aku. Bukan manis, bukan sayang, dan bukan pula mantan pacarmu.


Jadi, Sayang, kamu bahkan tidak berhak berkeberatan. Setitik pun, secuil pun, sesedikit apapun tentang perasaan yang kusimpan. Kamu tidak berhak melarang apa yang kurasakan. Aku tidak peduli kalau kamu bilang, “Jangan menunggu !” karena aku akan tetap melakukan. Aku melakukan yang kuinginkan. Mencintai hidupku seperti yang kamu lakukan. Tetap melangkah ke depan meski sangat perlahan, yang penting aku tidak stagnan.


Dan, Sayang, jangan hakimi aku karena merindu. Jangan membenciku karena aku jujur pada diriku. Jangan melarangku mencintai, karena kamu tak berhak begitu. Jika aku mencintaimu, bukankah itu bukan urusanmu ? Seperti halnya cintamu padanya yang bukan urusanku ? Kamu bebas semaumu, melakukan apapun itu. Asal jangan mencampuri urusanku soal mencintaimu. Karena sekalipun yang kucintai itu adalah kamu, itu sama sekali bukan urusanmu.



#Bandung, 14 Juli 2009. 0:46

- di tengah insomnia akut. Setelah konsultasi bersama dokteL dan adik perempuan kesayangan. Untuk kamu, yang sepertinya kemarin itu adalah dia.


n.b.

inspired by some wise words from Michellia. And half my true story. And (again) my honesty syndrome. And last, from another stories, movies, songs, etc. I love. Gut Nite !

Minggu, 12 Juli 2009

P.S. I Love You





Ada malam-malam kesepian yang harus kau habiskan sendirian. Dan yang aku tahu, kau melakukannya sambil memandangi bulan lewat jendela flat di ketinggian. Aku tahu rasanya kesepian, tidak menyenangkan. Di mana gemerlap lampu kota berpendar indah, sedangkan kita terkurung dalam kenangan. Terkungkung oleh perasaan yang harusnya ditinggalkan. Terluka karena perpisahan.

Ada hati yang sempat kau masuki dulu. Dan kau menggoreskan cerita-cerita indah bersamanya di catatan waktu. Tapi, seperti yang kau tahu, waktu tak begitu bersahabat dengan stagnasi, waktu berlalu. Kemudian kau sedikit terluka. Mengapa kubilang sedikit saja ? Karena aku tahu kau salah satu orang yang paling kuat yang kutahu. Berdiri dan tersenyum di antara pedih hatimu, pasti kau mampu.


Lalu, kau bertemu bias warna-warni yang sempat menceriakanmu. Tak bisa disentuh, hanya ditatap karena semu. Bias yang membuatmu membunuh sisi hipokrat dalam dirimu. Keceriaan yang membuatmu memendam satu perasaan untuk kau ungkapkan dahulu. Aku tahu, kau takut terluka dan juga melukainya. Atau kau mungkin sudah terlanjur tahu bahwa bukan kau-lah yang selama ini ditunggunya ?

Dan ketika itu aku tiba, mampir di baris ceritamu. Entah bagaimana dan darimana semua bermula, aku tak tahu. Kita adalah dua orang aneh yang dipertemukan perpisahan. Dua orang yang sama-sama terluka dan saling menguatkan. Cinta kita adalah saling membahagiakan. Dan kebahagiaan kita adalah saling melihat senyuman.


Kau mungkin orang yang paling mengerti, mengapa aku menyayanginya. Kau juga jadi orang yang paling membenci ketika aku menceritakannya, padahal kataku, dia mengabaikanku. Dia mendiamkanku sekalipun aku menyapanya, tidak sepertimu. Sekalipun kau marah sekali padaku, kau akan tetap membalas senyuman di layarku. Meski saat itu kau sedang menahan cemburu, itulah yang membuatku lebih menyukaimu.

Tapi, aku benci chermistry. Aku benci mengapa kita saling menyadari. Mengapa diam-diam kita saling mencuri hati. Dan benci setiap kali aku berpikir bahwa kau-lah yang sejak dulu kucari. Dan menyayangkan mengapa dua pesan pertama kita, kita anggap sebagai pertanda. Kau adalah hadiah ulang tahunku, begitu juga sebaliknya.

Namun, aku ingin kau tahu, tak sedikit pun aku menyesal karena bertemu denganmu. Malah aku bersyukur, karena darimu aku belajar banyak untuk kehidupanku. Aku menyadari hal-hal yang sebelumnya aku lewatkan. Aku menjadi lebih dewasa dan manja dalam waktu bersamaan. Aku menjadi sosok yang lebih menyenangkan menghadapi kehilangan. Sekalipun, Sayang, itu adalah kehilanganmu.

Banyak hal yang sebenarnya kau tak tahu. Tentang pesan-pesan aneh yang kutulis di blog friendster ku (andai kau bisa baca pesan itu lagi). Bulan Desember, setelah tiga hari peritiwa risk taker itu –bolehkan kusebut begitu?- aku sudah tahu. Aku tahu bahwa kebersamaan dua orang aneh yang dipertemukan kehilangan ini hanya sementara.

Saat itu rasanya seperti kehilangan duluan. Itu alasannya, Sayang, mengapa aku selalu menangguhkan jawaban jika kau menanyakan tentang, “Kita ini sebenarnya apa ?”. Aku takut sakit, sama ketika kau takut menyakiti pelangi. Aku takut menyakiti hatiku sendiri. Aku takut terjatuh terlalu dalam. Aku takut tenggelam.

Sebenarnya, Sayang, cerita kita belum akan berakhir sampai di sana. Sebenarnya akan ada pertemuan kita yang lain, yang sebenar-benarnya. Bukan hanya kata-kata. Senyuman hampa. Suara-suara. Sekilas tatapan mata. Bukan hanya itu semua. Tapi, aku dan kau tak akan pernah tahu kapan saatnya. Dan untuk sementara ini, Tuhan memilih memisahkan pertemuan kita yang oleh perpisahan itu. Aku tak tahu rencana Tuhan, tetapi aku yakin semuanya terbaik untukku, untukmu.

Aku benar-benar tak pernah dan tak akan pernah menyesali pertemuan biasa kita. Meskipun aku dapat pertanda. Walaupun aku yakin dengan semua yang ku’baca’. Karena, andai kita tak pernah bertemu, apa jadinya ? Aku tak akan kenal beberapa sahabatku yang juga sahabatmu. Aku tak akan mampu mengungkapkan hatiku pada dia yang dulu. Aku tak akan menjadi aku yang sekarang ini. Yang mati-matian memperjuangkan mimpi.

Tapi, bolehkan aku di sini sedikit lebih lama lagi ? Bukan karena aku belum mampu beranjak, namun aku belum mau. Aku masih ingin memanjakan hatiku sedikit lagi. Itu mengapa aku menyebut mereka –yang hadir setelahmu- pelangi. Karena mereka tak akan aku miliki. Karena aku hanya ingin menatap mereka, tanpa lebih dalam masuk ke kehidupan mereka. Aku masih takut terluka atau melukai mereka. Karena itu, izinkan aku di sini. Sedikit lebih lama lagi.

(n.b. Ohya, ada satu hal lagi. Maafkan aku jika kau merasa terlalu dikejar. Karena aku baru benar-benar tahu rasanya dikejar. –kau tahu siapa yang kubicarakan, ;). Rasanya agak menyebalkan, atau benar-benar menyebalkan terkadang, namun sekaligus kasihan. –tapi, kau tak perlu mengasihaniku. Aku akan mulai berhenti menjadi menyebalkan. Karena aku tahu kita masih akan bertemu di suatu kesempatan. Pertemuan yang sebenar-benarnya.)




And P.S. I Love You as my bigbro, my bestfriend, and my panda