kirimkan hujan ini ke . . .

Jumat, 28 Oktober 2011

finally, it's rain out there. *i miss u..


Hujan selalu tahu bagaimana caranya membuat saya rindu, meskipun di beberapa post sebelumnya saya pernah berkata, "Rain no more." namun, ternyata tanpa hujan, dunia terlalu tidak nyaman buat saya.

Akhirnya, kerinduan yang banyak itu luruh. Dibasahi hujan yang seluruh. Saya rasa, saya akan berkomposisi dengan hujan lagi kali ini. Namun, tanpa kesepian, mengurangi luka dan memperbanyak cerita bahagia. Semoga hujan dan saya kembali menemukan komposisi khasnya yang berbeda.


-regards, puterihujan...

#28102011. 7:07 AM

Minggu, 23 Oktober 2011

karena engkau begitu berharga... :)


wanitaku sayang, kalian sangat berharga. jangan pernah merendahkan dirimu sendiri. tak ada seorangpun yang mampu merendahkan kalian, kecuali kalian mengiizinkannya.

jaga diri, jaga hati, jaga tubuh, jaga harga dirimu. :)


-regards, puterihujan-
*makasih buat Mbak Rani untuk foto dan inspirasinya... sang Perempuan Lindap Kembang.

#teruntuk semua wanita yang mencari...

Jumat, 21 Oktober 2011

families are...


kasih sayang orang tua memang tiada dua. keamanan dan kenyamanan pun tiada yang sama. saya rindu kebiasaan-kebiasaan yang saya lakukan tanpa dimarahi. meski merekalah yang menafkahi. saya rindu kenakalan-kenakalan biasa saya yang bisa saya nikmati. bukan satu-dua pikir, yang bikin ketar-ketir hati.

tak ada satupun kasih sayang yang bisa menyamai keluarga. perlindungan mereka sempurna. seperti Tuhan yang menunjukkan jalan menyakitkan tapi memang dibutuhkan. keluarga mengajari dengan cara yang tidak sama, tidak dimengerti kadang-kadang. tapi, sejauh ini saya lebih menikmatinya, sakit-sakit yang ada juga. lebih bisa ditolerir nyatanya. membuat saya selalu ingin pulang.

sangkar emas sejauh ini adalah tempat terbaik. dibandingkan tempat-tempat yang saya singgahi untuk mencari. membuat saya mau tidak mau pasti kembali. karena tidak ada yang sesempurna mereka dengan segala kekurangannya. tidak ada senyuman dan tawa paling bahagia bersama mereka yang meski banyak juga terselip air mata. akumulasinya tetap saja, signifikansinya tetap saja, cinta mereka tetap saja.

saya ingin kembali 'telanjang' dalam kepolosan seorang bocah. saya harap masih sempat. saya ingin menikmati dunia, tapi dengan tawa dan tahu bahwa saya cukup sempurna sebagai saya. cukup tahu bahwa dosa-dosa yang saya kerjakan adalah cukup biasa, tidak hina. yah, saya rindu kenakalan-kenakalan biasa saya. saya rindu aroma malam di sangkar emas, saya rindu riuhnya berdebat dengan mereka, saya rindu menangis karena berebut hati dengan saudara saya, saya merindukan kenyamanan yang saya tahu sampai kapanpun tak akan tergantikan. keluarga saya dengan segala kekurangan yang semakin menghilang, dengan kekompakan yang semakin menggunung. tidak ada satupun keluarga seperti yang saya miliki, seperti satu menu makan siang lengkap, semua rasa ada. komposisi yang pas, keseimbangan yang saling menjaga. menjaga sampai saat ini dan semoga hingga nanti. :)

Tuhan, izinkan aku kembali. :')

#J,20102011.biggood girl.
-missing home.

-regards, puterihujan...

Jumat, 26 Agustus 2011

Lurus, lalu Belok ke Kanan. =)


26 Agustus-26 Ramadhan

Allahku, aku menemukan banyak kecacatan pada lakuku meski hatiku selalu memeluk-Mu.
dan Allahku, aku percaya Engkau akan memberikan segala yang terbaik jika aku baik. :)
meski awalnya tak mengira akan sehebat ini aral hanya untuk menuju "lurus lalu belok kanan",
meski sejuta kali aku terjatuh, bangkit, jatuh lagi... aku tahu rambu yang Engkau kirimkan.
dan walaupun tak seorangpun manusia akan mendampingiku, aku percaya Engkau akan ada.

semoga Engkau mempertemukan aku dengan kebahagiaan-kebahagiaan lain, yang menuju-Mu. amien.


*Allahku, maavkan dengan terlalu banyak khilaf dan keegoisanku sebagai manusia. :'|
kepada-Mu aku memohonkan segala kebaikan hidup dan penghapus kekecewaan.

Rabu, 17 Agustus 2011

17 Ramadhan - 17 Agustus


.Ramadhan.

Ramadhan ini
kupinjam awan untuk menjadikan hujan,
awan hanya berlari bersembunyi,
matahari pun tak ada lagi.
sepi. sepi.

-dan aku hanya bisa menggenggam sedikit kekosongan di tangan kanan.
***





.malu-malu.

bagaimana aku
mengenyahkanmu dari waktu
jika namamu tak juga malu atau ragu-ragu
menghadapku ?
***





.tak pulang.

ke mana kau
telah membuang kita ?
sampai senja tak kutemui juga
cuma leluka manis rasanya, katanya.

aku tahu malam ini kau tak akan
pulang ke peraduan
karena takdir kita
lebih kuat dari doa.
***




.terdampar.

bagaimana kalau...
tiba-tiba saja kau terdampar ke sini ?
membaca satu-dua atau semua kata
yang kurangkai sedemikian rupa ?

-jangan membenciku, begitu saja cukup.
***





.mimpi.

aku selalu berharap malam lebih panjang dari pagi
agar kubisa menitipkan hati
kepada mimpi-mimpi bisu
yang bicara kepada kamu.

-tak berani aku.
***


11:29 - 11.39 PM WIB

Rabu, 01 Juni 2011

Ewuh Pakewuh versus Hypocrite versus Assertiveness


Judul yang agak cadas, saya tahu… :)




Ewuh Pakewuh, buat yang belum tahu, itu artinya bersikap segan kepada orang untuk menjaga hubungan, untuk menjaga perasaan orang yang bersangkutan, untuk menjaga kedamaian.





“Budaya Ewuh Pakewuh yang berarti sungkan dalam batas-batas normal akan meningkatkan tali silahturami dalam suatu lingkungan, kumpulan atau organisasi. Budaya demikian merupakan cerminan budaya timur yang sangat menghargai orang lain dan tanpa bermaksud menjatuhkan apalagi mempermalukan orang lain.”- kutipan blog orang.


Tapi, namun, but… Saya rasa dan saya pikir (setelah melihat banyak fenomena tentunya) budaya Ewuh Pakewuh ini sudah terlalu kental dan mendarah daging di Indonesia, khususnya (tanpa bermaksud SARA) di kebanyakan daerah Jawa (tengah dst).




(tulisan ini hanya sekedar share tanpa bermaksud mendiskreditkan golongan atau kelompok apapun :) )




Ya, Ewuh Pakewuh sepertinya memang berasal dari kebudayaan Jawa. Orang-orang Jawa dikenal akan keramahtamahannya, akan sikap dan tuturkatanya yang selalu lembut meskipun mereka tidak suka, tapi mereka tak pernah menunjukkan terang-terangan apa yang dirasakannya. Lagi-lagi ini generalisasi, meskipun tidak semua orang Jawa (yang saya tahu) bersikap begitu.





Sebenarnya budaya Ewuh Pakewuh itu baik, karena maksudnya untuk menjaga perasaan dan jalinan silaturahmi sesama manusia. Agar hidup ayem tentrem dengan tetangga, saudara dan teman. Namun, coba tebak apa yang akan terjadi kalau sikap dan maksud baik dari Ewuh Pakewuh dilakukan berlebihan ? :)






M-U-N-A-F-I-K. Ya, MUNAFIK! Satu kata yang paling-paling-paling-paling-paling-paliiing saya benci. Meskipun (jujur) saya terkadang melakukannya dan menjadi lebih sering lagi ketika saya berada di Jogja ini.




Katanya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi, saya putuskan untuk “belajar” bersikap Ewuh Pakewuh. Tapi rupanya saya belajar dari (kebanyakan) orang yang salah, salah kaprah tentang Ewuh Pakewuh. Jadilah, bukannya bersikap dan mempraktekkan Ewuh Pakewuh yang benar, saya malah menyerempet jadi munafik.




Contoh nyatanya sih, ketika sedang kesel banget sama orang, biasanya saya lebih memilih menghindar dari orang tersebut (karena kalau ketemu, muka saya bisa berubah jadi monster yang sangat menakutkan). Tapi, kemudian saya mempraktekkan Ewuh Pakewuh salah kaprah yang saya pelajari, saya terpaksa (terpaksa banget!) bermanis-manis muka, tutur kata, tersenyum tulus (tapi terpaksa, dan dalam hati misuh-misuh). Ya, saat itu saya merasa jadi orang munafik. Karena saya tipe orang yang : salah itu hitam dan benar itu putih. Suka ya bilang suka, ngga ya tinggalin aja!




Jika saya mengalami hal di atas ketika saya di Bandung, itu menjadi lebih mudah. Karena, saya bisa memakai istilah Wawuh Munding yang artinya ‘kenal kebo’. Lha? Hahaha, maksudnya, seperti kerbau yang saling bertemu di jalan, tersenyum tapi ngga usah sok bermanis-manis.




Mungkin, Ewuh Pakewuh memang berguna untuk menjaga hubungan silaturahmi. Tapi, menurut saya daripada saling diam dan menyimpan dendam, kenapa ngga pada saling ngomong saja sih ? Kenapa senyum-senyum tapi belakangnya tikam-tikam? Dan ujung-ujungnya, saya semakin menjadi krisis kronis kepercayaan di sini (Jogja). Saya merasa orang yang bisa saya percaya SANGAT SEDIKIT, tentunya saya percaya pada orang-orang yang tidak pakai Ewuh Pakewuh salah kaprah yang menjurus munafik. Saya tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya mendukung siapa (saya selalu jadi pihak netral, namun menghindari orang-orang yang selalu bermasalah sama orang lain, kalau bermasalah sama satu orang, itu wajar, tapi kalau lebih tiga orang yang mempermasalahkan, hiiiy).




Saya mengalami ini dan saya kadang (sering sih) malah jadi stress sendiri. Dan sepertinya, bukan saya saja yang mengalami, ada seorang teman yang sama-sama perantau yang juga mengalami ini. Nah, intinya sih kami bingung dengan Ewuh Pakewuh (yang salah kaprah, yang berlebihan). Saya jadi menjaga jarak kepada banyak orang karena… ya, karena itu tadi. Saya tidak pernah tahu, sikap baiknya tulus atau hanya budaya Ewuh Pakewuh, atau parahnya lagi simbiosis parasitisme (mutualisme diterima lah yaaa).




Jadi, curhatan saya dengan pemikiran dangkal saya ini, sebenarnya ingin berusaha meluruskan dengan mengira-ngira. Mungkin… budaya Ewuh Pakewuh itu sebenarnya dimaksudkan untuk melatih seseorang bersikap asertif, bukan agresif. :)





Asertivitas.



“Asertif mengandung pengertian untuk mengatakan dan bertindak sesuai dengan hati nurani dan benar adanya. Hanya dua warna untuk asertif ini : Hitam atau putih. Orang yang bertingkah laku asertif, memiliki keberanian sungguh-sungguh untuk mengatakan kebenaran yang ada sekalipun ia siap untuk tidak disenangi orang lain. Ia berani mengatakan apa yang benar kepada orang lain tanpa perlu merasa ada hutang budi atas kebaikan orang lain tersebut. Bahkan ia sangat selektif menerima pemberian orang lain, jika pemberian tersebut nantinya akan menganggu idealismenya untuk menegakkan kebenaran. Orang Asertif juga mengisyaratkan penyampaian pendapat sekalipun pendapatnya tersebut sudah pasti benar. Tidak Ceplas-ceplos dan blak-blakan yang terkesan tanpa etika komunikasi.”-kutipan blog orang.



Asertif adalah :

n Mengatakan tidak

n Memulai, melanjutkan/memelihara, dan mengakhiri pembicaraan

n Minta pertolongan

n Mengekspresikan perasaan (+ dan -)

n Meralat

n Memuji, menerima pujian

n Mengekspresikan perasaan

n Menyapa

n Menyatakan ketidaksetujuan

n Menanyakan sebab

n Membicarakan tentang diri sendiri

n Melihat mata orang lain

(Lazarus dan Rathus, materi kuliah Modifikasi Perilaku)





Menurut saya pribadi (karena blog ini adalah curhatan dengan sedangkal pikiran dan seiprit keilmiahan saya) budaya Ewuh Pakewuh harusnya dimaknai dan dilakukan serta dijadikan seperti asertivitas. Kenapa ?




Asertif bukanlah bicara blak-blakan tanpa tedheng aling-aling (maaf kalo salah penulisan). Asertif adalah bagaimana mendapatkan hak kita, menyatakan keberatan, mengekspresikan emosi, dan menolak tanpa menyakiti yang bersangkutan (yang ditolak, yang tidak kita senangi). Memang sih, rasanya hampir mustahil kalau menolak atau menyatakan keberatan tapi tidak membuat yang bersangkutan tidak enak hati, tapi lebih baik begitu. Asertif itu kejujuran yang sopan. :)




Saya menulis ini, curhat tentang ini, karena saya sudah ENEG sama Ewuh Pakewuh yang salah kaprah yang diterapkan lingkungan sekitar saya. Dan ketika saya searching, malah jadinya banyak yang memandang SARA budaya yang sebenarnya bermaksud baik ini. Yah, memang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dan bukan hal mudah bersikap asertif di masyarakat yang sudah terlanjur menerapkan Ewuh Pakewuh yang salah kaprah (khususnya masyarakat pendidikan rendah, di daerah tempat tinggal saya di Jogja sini). Ketika bersikap asertif kita memang harus siap menerima permusuhan karena dianggap sombong. *btw, asertif dalam bahasa Inggris dapat diartikan sombong dalam bahasa Indonesia*




Ya, saya berusaha bersikap asertif namun menjaga agar tidak malah jadi agresif (jujur sih, dulu saya lebih ke agresif, ga suka yaudahlaah). Mulai dari menolak memberikan contekan (dan tentu saja banyak yang komen-komen nyakitin hati, saya tahu bahkan dengar sendiri, tapi biarlah!), mulai dari menolak menuliskan nama anggota kelompok kalau tidak mau ikut partisipasi padahal sudah diajak (disuruh malahan), mulai dari menolak terlibat kepada hal-hal yang menurut saya tidak benar atau tidak saya sukai. Ya, saya masih belajar menjadi asertif dengan keterbatasan saya yang kadang malah menjadi agresif (seringnya begitu) atau menjadi munafik. (tapi, saya lebih memilih menyerempet ke agresif, karena munafik itu dibenci dalam Islam (agama saya) ). Well, gimana dengan kamu? :)




-puterihujan




11 Juni 2011 – 22.04



ket : sumber blog http://handokotantra.com/sisi-negatif-dari-budaya-ewuh-pakewuh.html

Selasa, 26 Oktober 2010

(still) Finding Nimo (?)


"Finding Nimo"
Rasanya dua frase itu sudah tidak asing lagi. Ah, tidak, bukan. Bukan "Finding Nemo", bukan mencari ikan badut. Nimo, dan bukan Nemo. Nimo adalah tokoh utama cowok di novel teenlit "Cintapuccino" yang kemarin-kemarin itu sudah difilmkan. Ceritanya, Arrahmi (si cewek pemeran utama) sedang mencari obsesinya, Nimo. Dia mencari Nimo. Padahal, saat itu dia sudah bertunangan dengan seorang cowok, namanya Raka. Endingnya, Rahmi meninggalkan Raka untuk mengejar obsesinya, Nimo.

Dan bertahun-tahun lalu, saya banyak menuliskan frase itu. Saya sering sekali mencari Nimo. Dulu, Nimo yang saya cari adalah seseorang. Hanya saja, berbeda dengan Rahmi, Nimo yang saya cari bukan obsesi saya. Bahkan, saya belum pernah mengenalnya. Saya hanya mencari. Saya mencari Nimo.

Bagi saya, Nimo yang ada dalam pikiran saya adalah seseorang yang nantinya akan mendampingi hidup saya. Karena pada saat itu, saya tidak merasa bahagia, maka saya berkhayal (dan berharap) bahwa Nimo akan membawakan kebahagiaan untuk saya. Kemudian, saya bertemu dengan seseorang yang saya pikir akan menjadi Nimo. Tapi, eh, kok, dia malah mirip Raka. Lantas saya mencari lagi, dan menemukan seseorang. Tidak persis seperti seorang Nimo. Tapi, saya pikir dia adalah pertanda-pertanda yang dikirimkan Tuhan pada saya. Dan saya berusaha memercayainya.

Bukan hidup namanya kalau cuma bahagia. Tebakan saya tentang Nimo ini salah. Orang itu pergi, dan kemudian saya mencari-cari lagi Nimo yang lain. Tidak pernah ketemu. Saya akhirnya menyerah, tidak pernah mencari. Mungkin, Nimo untuk saya bukan seseorang, tetapi berwujud sesuatu. Mungkin. Semoga. :)

***

Ketika saya memutuskan untuk tidak lagi mencari Nimo, semuanya terasa lebih mudah. Entahlah, saya merasa bebas dari apa. Yang jelas, tidak ada lagi beban untuk mencari Nimo. Tidak ada lagi kriteria-kriteria mengikat untuk memastikan bahwa Nimo harus seseorang, bukan sesuatu. Saya bebas! Dan hebatnya, di dalam kebebasan itu, saya malah menemukan seseorang. Di saat saya memutuskan tidak akan mencari, saya malah menemukan, Tuhan malah memberikan. Tapi, saya yakin dia bukan Nimo. Saya tidak pernah terobsesi padanya, pun begitu sebaliknya. Seseorang yang bersama saya (sampai saat ini), bukan Nimo. Dia adalah dia. Bukan siapa-siapa. Dan saya tidak mau menjadi terlalu naif dengan menyamakannya dengan apa-apa, dengan siapa-siapa. Karena, tidak ada satupun yang sama di dunia ini, dan tak pernah ada yang suka dibandingkan. (baca deh, post saya sebelum-sebelumnya. ;) )

Saya pikir saat itu, permainan "Finding Nimo" saya sudah usai. Sehingga saya tak perlu mencari lagi. Saya pikir, inilah yang saya cari-cari sejak dulu, sejak pertama kali saya memainkan "Finding Nimo". Tapi, saya salah. Iya, saya salah. Ternyata, saya belum bahagia seperti Arrahmi ketika menemukan Nimo-nya. Bukan berarti saya tidak bahagia, tetapi saya belum bahagia. Ada yang masih terasa kosong, bahkan dengan kehadiran dia. Dan saya masih mencari kebahagiaan yang belum lengkap itu.

***

Ceritanya...
Sebelum menemukan dia (atau bertemu dan saling menemukan), saya berada di Bandung. Saya sedang menghadapi fobia saya yang adalah kehilangan. Saya sedang menghadapi ketidakbebasan saya, berada di sangkar emas. Saya sedang bertahan dalam keterpaksaan saya menjalani kehidupan saya yang bukan saya. Dan saya depresi. Sangat depresi. Buat saya, itu seperti tabrakan beruntun. Sudah jatuh tertimpa tangga. Putus. Nilai-nilai di kampus yang sangat buruk. IPk rendah. Sendirian. Kuliah bukan di jurusan yang saya senangi. Saya merasa skak mat saat itu.

Lalu, saya memutuskan untuk berlari. Menyepikan diri dari berbagai masalah dan sakit-sakit itu. Bermeditasi. Saya belum siap menghadapi sakit-sakit itu. Saya hampir gila. Saya menangis setiap siang, malam, setiap kali bangun sampai jatuh tertidur lagi. Setiap kali. Sampai-sampai semua orang memuji mata saya yang katanya jadi indah. Iya, saking kebanyakan menangis. Mata saya terlihat sangat memelas. Hati saya sudah tak punya rasa, motivasi, keinginan untuk melakukan apapun. Karena itulah, saya mencari. Mencari rasa-rasa yang pernah saya punya. Dan berkat seorang teman, Dewi Kharisma Michellia, saya sampai ke Jogja.

Pindah ke Jogja, bukanlah hal yang mudah. Justru lebih sulit. Saya harus siap menghadapi kehilangan-kehilangan yang lain.
1. Kehilangan teman-teman terbaik saya yang kesemuanya berada di Bandung (Asri, Rana, Anie, Sita, Rara, Nessa, Anin, dan etc).
2. Kehilangan prestie karena kuliah di kampus keren, bonafide, meski IPk saya rendah.
3. Kehilangan Bandung dengan mall-mall kesayangan saya, makanan-makanan enak yang bisa ditemui di mana saja, selera fashion yang bahkan terkenal sampe mana-mana, butik-butik keren, dan gaya hidup serba enak.
4. Kehilangan segala fasilitas yang saya miliki di rumah, yang kalau mau ke mana-mana tinggal minta anter supir, yang bisa nonton TV channel luar negeri favorit saya sepuasnya, yang bisa enak-enakan tidur karena kamar sendiri tanpa mikirin listrik, makan tinggal makan karena dimasakin mama. Ah, iya, mama... Dan saya meninggalkan dia.

Namun, semua hal menggiurkan di atas nekad saya tinggalkan. Saya orang yang keras kepala, apapun yang telah saya katakan, akan saya lakukan. Dan saat itu saya tengah kebosanan, saya berada di titik jenuh. Saya merasa tidak sanggup. Dan saya hijrah ke Jogja. Jogja yang sendirian, dan sampai saat ini saya belum menemukan orang-orang yang seperti sahabat-sahabat saya di Bandung. Kampus saya, bahkan jurusan saya belum punya akreditasi dan jurasan saya dianaktirikan oleh fakultas lain yang padahal satu gedung. Kehidupan hedonis saya di Bandung jelas tidak bisa dibawa ke Jogja, atau saya akan dicap SOMBONG. Kostan (atau kontrakan), bukan tempat seindah sangkar emas saya. Apa-apa sendiri dan saya harus selalu berbagi.
nb: di rumah, mama selalu menyediakan satu-satu, jadi saya tak perlu membagi apapun dengan siapapun, meskipun itu adalah adik saya.

Dan saya menyesal. Merasa begitu bodoh karena meninggalkan banyak sekali anugerah Tuhan. Saya menghancurkan hidup saya sendiri. Sementara teman-teman saya sedang bersiap-siap wisuda, saya masih tingkat dua. Saya terjun bebas. Saya jatuh dari sangkar emas ke parit berlumpur. Saya merasa hancur.

Untungnya, saya selalu diajarkan untuk mengadu kepada Tuhan, jika memang sudah tak ada tempat lain lagi untuk mengadu. Dan saya melakukannya. Saya mengadu panjang lebar kepada Tuhan yang sebelumnya hanya tempat saya meminta. Saya sering meminta, tetapi jarang bersyukur dan berdoa. Jadi kemudian, saya bicara pada Tuhan, berterimakasih, berkeluhkesah, mengaku kalau saya begitu bodoh karena menyia-nyiakan anugerah-Nya. Dan saya tidak meminta. Saya berharap, tetapi saya tidak lagi meminta. Yang saya minta haya satu, segala yang terbaik menurut-Nya, untuk saya. Saya mengejar-Nya, karena kemarin-kemarin kebanyakan saya lupa. Saya berharap, DIA masih mau memeluk saya.

***

Meskipun sampai saat ini saya belum menyelesaikan permainan "Finding Nimo" saya, saya sudah melihat titik terang. Saya mulai mengejar cita-cita saya menjadi seorang psikolog, penulis, pengusaha, apapun itu. Saya mencari beasiswa (dan sedang memohonnya, doakan agar diterima ya! amien). Saya melakukan hal-hal yang menurut saya dan orang-orang dan TUHAN baik. Saya mencoba menyempurnakan dengan ketidaksempurnaan. Saya mencoba menyadari kebahagiaan yang ada dalam diri saya. Saya mencoba tidak terpaku dalam sakit. Saya mencoba bangkit. Saya mencoba membanggakan dan membahagiakan orang tua dan semua orang yang saya cintai dan mencintai saya. saya sedang dalam tahap percobaan.

Reruntuhan yang kemarin itu, membukakan banyak jalan baru untuk saya. Saya hanya harus memilihnya, menjalaninya dengan serius, meski jalannya tidak selalu mulus. tapi, saya harus konsisten supaya dapat sampai di ujung sana. Di semua harapan dan cita-cita saya. Dan sampai saat saya menulis ini, saya masih belum menemukan Nimo. Nimo saya adalah sesuatu, entah apa. Tapi, saya sedang menuju ke sana, menemui Nimo saya. :)

Hopefully, saya akan dapat menemui Nimo secepatnya. Doakan saya. ;)


Yogyakarta, 26 Oktober 2010 at 09.22
#terinspirasi dari film "Eat, Pray, Love" yang kemarin saya tonton.

-regards, puterihujan.