kirimkan hujan ini ke . . .

Selasa, 01 November 2011

November Rain

it's November, and it's raining (all) day

Lagi-lagi tentang hujan. Kebetulannya lagi, ini bulan November. Jadi suatu kebetulan juga jika ada lagu yang berjudul "November Rain" -by Guns N Roses. Kebetulan juga jika lagu itu bercerita tentang kehilangan (yang biasanya memang dikait-kaitkan dengan hujan). Kebetulan pula, jika hampir seluruh status di FB menuliskan dua frase itu. November + Rain.

November dan hujan, entah ada mantra apa. Setahu saya, hujan di bulan November bukan hanya tahun ini, tapi bahkan, tujuh tahun lalu pun, hujan diselipkan di November, empat tahun berikutnya pun masih juga. November memang kebetulan masuk pada musim basah, saat hujan bermain ke bumi. Jadi, sekali lagi itu cuma kebetulan, atau memang rencana Tuhan.

Tapi bukan kebetulan jika aroma hujan membaui kenangan dan kehilangan-kehilangan. :)
Bukan kebetulan juga ketika gemericiknya membangun ingatan, yang bahkan ingin dilupakan. Hujan adalah saat terbaik untuk melamunkan angan. Bermain dengan banyak andai yang sesak ditahan. Hujan sepertinya hadir untuk itu. Rerintik sepertinya mampir untuk itu. :)

Kenangan saya tentang November dan Hujan bukanlah kehilangan, sebenarnya malah sebaliknya. Yang bisa saya ingat sampai saat ini adalah dua peristiwa yang menyenangkan (saat itu). Meski hari ini rasanya biasa saja, karena terlanjur sudah basi. Namun untuk saya, tetap saja terasa menyenangkan. Lucu juga melihatnya dalam ingatan.

Jadi, saya memutuskan untuk tidak menangis seperti cerita di November Rain. Saya memutuskan untuk tidak membingkai rasa kehilangan hingga sakitnya kekal. Saya memutuskan untuk melepaskan dan berjalan. Saya memutuskan untuk bahagia. Seperti yang saya bilang kemarin, saya akan menemukan komposisi yang pas bersama hujan, komposisi yang bukan luka. :)

dan November, dan Hujan. dan.dan.dan...
izinkan saya melintasi jalan november Hujan kali ini,
saya tidak ingin menangis lagi,
saya ingin tertawa seperti ketika itu.
ketika saya pernah sangat berbahagia.
ketika saya menjadi... jiwa yang utuh sepenuhnya.

:)

-regards, puterihujan...

#01112011 -- 8:37 PM

Jumat, 28 Oktober 2011

finally, it's rain out there. *i miss u..


Hujan selalu tahu bagaimana caranya membuat saya rindu, meskipun di beberapa post sebelumnya saya pernah berkata, "Rain no more." namun, ternyata tanpa hujan, dunia terlalu tidak nyaman buat saya.

Akhirnya, kerinduan yang banyak itu luruh. Dibasahi hujan yang seluruh. Saya rasa, saya akan berkomposisi dengan hujan lagi kali ini. Namun, tanpa kesepian, mengurangi luka dan memperbanyak cerita bahagia. Semoga hujan dan saya kembali menemukan komposisi khasnya yang berbeda.


-regards, puterihujan...

#28102011. 7:07 AM

Minggu, 23 Oktober 2011

karena engkau begitu berharga... :)


wanitaku sayang, kalian sangat berharga. jangan pernah merendahkan dirimu sendiri. tak ada seorangpun yang mampu merendahkan kalian, kecuali kalian mengiizinkannya.

jaga diri, jaga hati, jaga tubuh, jaga harga dirimu. :)


-regards, puterihujan-
*makasih buat Mbak Rani untuk foto dan inspirasinya... sang Perempuan Lindap Kembang.

#teruntuk semua wanita yang mencari...

Jumat, 21 Oktober 2011

families are...


kasih sayang orang tua memang tiada dua. keamanan dan kenyamanan pun tiada yang sama. saya rindu kebiasaan-kebiasaan yang saya lakukan tanpa dimarahi. meski merekalah yang menafkahi. saya rindu kenakalan-kenakalan biasa saya yang bisa saya nikmati. bukan satu-dua pikir, yang bikin ketar-ketir hati.

tak ada satupun kasih sayang yang bisa menyamai keluarga. perlindungan mereka sempurna. seperti Tuhan yang menunjukkan jalan menyakitkan tapi memang dibutuhkan. keluarga mengajari dengan cara yang tidak sama, tidak dimengerti kadang-kadang. tapi, sejauh ini saya lebih menikmatinya, sakit-sakit yang ada juga. lebih bisa ditolerir nyatanya. membuat saya selalu ingin pulang.

sangkar emas sejauh ini adalah tempat terbaik. dibandingkan tempat-tempat yang saya singgahi untuk mencari. membuat saya mau tidak mau pasti kembali. karena tidak ada yang sesempurna mereka dengan segala kekurangannya. tidak ada senyuman dan tawa paling bahagia bersama mereka yang meski banyak juga terselip air mata. akumulasinya tetap saja, signifikansinya tetap saja, cinta mereka tetap saja.

saya ingin kembali 'telanjang' dalam kepolosan seorang bocah. saya harap masih sempat. saya ingin menikmati dunia, tapi dengan tawa dan tahu bahwa saya cukup sempurna sebagai saya. cukup tahu bahwa dosa-dosa yang saya kerjakan adalah cukup biasa, tidak hina. yah, saya rindu kenakalan-kenakalan biasa saya. saya rindu aroma malam di sangkar emas, saya rindu riuhnya berdebat dengan mereka, saya rindu menangis karena berebut hati dengan saudara saya, saya merindukan kenyamanan yang saya tahu sampai kapanpun tak akan tergantikan. keluarga saya dengan segala kekurangan yang semakin menghilang, dengan kekompakan yang semakin menggunung. tidak ada satupun keluarga seperti yang saya miliki, seperti satu menu makan siang lengkap, semua rasa ada. komposisi yang pas, keseimbangan yang saling menjaga. menjaga sampai saat ini dan semoga hingga nanti. :)

Tuhan, izinkan aku kembali. :')

#J,20102011.biggood girl.
-missing home.

-regards, puterihujan...

Jumat, 26 Agustus 2011

Lurus, lalu Belok ke Kanan. =)


26 Agustus-26 Ramadhan

Allahku, aku menemukan banyak kecacatan pada lakuku meski hatiku selalu memeluk-Mu.
dan Allahku, aku percaya Engkau akan memberikan segala yang terbaik jika aku baik. :)
meski awalnya tak mengira akan sehebat ini aral hanya untuk menuju "lurus lalu belok kanan",
meski sejuta kali aku terjatuh, bangkit, jatuh lagi... aku tahu rambu yang Engkau kirimkan.
dan walaupun tak seorangpun manusia akan mendampingiku, aku percaya Engkau akan ada.

semoga Engkau mempertemukan aku dengan kebahagiaan-kebahagiaan lain, yang menuju-Mu. amien.


*Allahku, maavkan dengan terlalu banyak khilaf dan keegoisanku sebagai manusia. :'|
kepada-Mu aku memohonkan segala kebaikan hidup dan penghapus kekecewaan.

Rabu, 17 Agustus 2011

17 Ramadhan - 17 Agustus


.Ramadhan.

Ramadhan ini
kupinjam awan untuk menjadikan hujan,
awan hanya berlari bersembunyi,
matahari pun tak ada lagi.
sepi. sepi.

-dan aku hanya bisa menggenggam sedikit kekosongan di tangan kanan.
***





.malu-malu.

bagaimana aku
mengenyahkanmu dari waktu
jika namamu tak juga malu atau ragu-ragu
menghadapku ?
***





.tak pulang.

ke mana kau
telah membuang kita ?
sampai senja tak kutemui juga
cuma leluka manis rasanya, katanya.

aku tahu malam ini kau tak akan
pulang ke peraduan
karena takdir kita
lebih kuat dari doa.
***




.terdampar.

bagaimana kalau...
tiba-tiba saja kau terdampar ke sini ?
membaca satu-dua atau semua kata
yang kurangkai sedemikian rupa ?

-jangan membenciku, begitu saja cukup.
***





.mimpi.

aku selalu berharap malam lebih panjang dari pagi
agar kubisa menitipkan hati
kepada mimpi-mimpi bisu
yang bicara kepada kamu.

-tak berani aku.
***


11:29 - 11.39 PM WIB

Rabu, 01 Juni 2011

Ewuh Pakewuh versus Hypocrite versus Assertiveness


Judul yang agak cadas, saya tahu… :)




Ewuh Pakewuh, buat yang belum tahu, itu artinya bersikap segan kepada orang untuk menjaga hubungan, untuk menjaga perasaan orang yang bersangkutan, untuk menjaga kedamaian.





“Budaya Ewuh Pakewuh yang berarti sungkan dalam batas-batas normal akan meningkatkan tali silahturami dalam suatu lingkungan, kumpulan atau organisasi. Budaya demikian merupakan cerminan budaya timur yang sangat menghargai orang lain dan tanpa bermaksud menjatuhkan apalagi mempermalukan orang lain.”- kutipan blog orang.


Tapi, namun, but… Saya rasa dan saya pikir (setelah melihat banyak fenomena tentunya) budaya Ewuh Pakewuh ini sudah terlalu kental dan mendarah daging di Indonesia, khususnya (tanpa bermaksud SARA) di kebanyakan daerah Jawa (tengah dst).




(tulisan ini hanya sekedar share tanpa bermaksud mendiskreditkan golongan atau kelompok apapun :) )




Ya, Ewuh Pakewuh sepertinya memang berasal dari kebudayaan Jawa. Orang-orang Jawa dikenal akan keramahtamahannya, akan sikap dan tuturkatanya yang selalu lembut meskipun mereka tidak suka, tapi mereka tak pernah menunjukkan terang-terangan apa yang dirasakannya. Lagi-lagi ini generalisasi, meskipun tidak semua orang Jawa (yang saya tahu) bersikap begitu.





Sebenarnya budaya Ewuh Pakewuh itu baik, karena maksudnya untuk menjaga perasaan dan jalinan silaturahmi sesama manusia. Agar hidup ayem tentrem dengan tetangga, saudara dan teman. Namun, coba tebak apa yang akan terjadi kalau sikap dan maksud baik dari Ewuh Pakewuh dilakukan berlebihan ? :)






M-U-N-A-F-I-K. Ya, MUNAFIK! Satu kata yang paling-paling-paling-paling-paling-paliiing saya benci. Meskipun (jujur) saya terkadang melakukannya dan menjadi lebih sering lagi ketika saya berada di Jogja ini.




Katanya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi, saya putuskan untuk “belajar” bersikap Ewuh Pakewuh. Tapi rupanya saya belajar dari (kebanyakan) orang yang salah, salah kaprah tentang Ewuh Pakewuh. Jadilah, bukannya bersikap dan mempraktekkan Ewuh Pakewuh yang benar, saya malah menyerempet jadi munafik.




Contoh nyatanya sih, ketika sedang kesel banget sama orang, biasanya saya lebih memilih menghindar dari orang tersebut (karena kalau ketemu, muka saya bisa berubah jadi monster yang sangat menakutkan). Tapi, kemudian saya mempraktekkan Ewuh Pakewuh salah kaprah yang saya pelajari, saya terpaksa (terpaksa banget!) bermanis-manis muka, tutur kata, tersenyum tulus (tapi terpaksa, dan dalam hati misuh-misuh). Ya, saat itu saya merasa jadi orang munafik. Karena saya tipe orang yang : salah itu hitam dan benar itu putih. Suka ya bilang suka, ngga ya tinggalin aja!




Jika saya mengalami hal di atas ketika saya di Bandung, itu menjadi lebih mudah. Karena, saya bisa memakai istilah Wawuh Munding yang artinya ‘kenal kebo’. Lha? Hahaha, maksudnya, seperti kerbau yang saling bertemu di jalan, tersenyum tapi ngga usah sok bermanis-manis.




Mungkin, Ewuh Pakewuh memang berguna untuk menjaga hubungan silaturahmi. Tapi, menurut saya daripada saling diam dan menyimpan dendam, kenapa ngga pada saling ngomong saja sih ? Kenapa senyum-senyum tapi belakangnya tikam-tikam? Dan ujung-ujungnya, saya semakin menjadi krisis kronis kepercayaan di sini (Jogja). Saya merasa orang yang bisa saya percaya SANGAT SEDIKIT, tentunya saya percaya pada orang-orang yang tidak pakai Ewuh Pakewuh salah kaprah yang menjurus munafik. Saya tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya mendukung siapa (saya selalu jadi pihak netral, namun menghindari orang-orang yang selalu bermasalah sama orang lain, kalau bermasalah sama satu orang, itu wajar, tapi kalau lebih tiga orang yang mempermasalahkan, hiiiy).




Saya mengalami ini dan saya kadang (sering sih) malah jadi stress sendiri. Dan sepertinya, bukan saya saja yang mengalami, ada seorang teman yang sama-sama perantau yang juga mengalami ini. Nah, intinya sih kami bingung dengan Ewuh Pakewuh (yang salah kaprah, yang berlebihan). Saya jadi menjaga jarak kepada banyak orang karena… ya, karena itu tadi. Saya tidak pernah tahu, sikap baiknya tulus atau hanya budaya Ewuh Pakewuh, atau parahnya lagi simbiosis parasitisme (mutualisme diterima lah yaaa).




Jadi, curhatan saya dengan pemikiran dangkal saya ini, sebenarnya ingin berusaha meluruskan dengan mengira-ngira. Mungkin… budaya Ewuh Pakewuh itu sebenarnya dimaksudkan untuk melatih seseorang bersikap asertif, bukan agresif. :)





Asertivitas.



“Asertif mengandung pengertian untuk mengatakan dan bertindak sesuai dengan hati nurani dan benar adanya. Hanya dua warna untuk asertif ini : Hitam atau putih. Orang yang bertingkah laku asertif, memiliki keberanian sungguh-sungguh untuk mengatakan kebenaran yang ada sekalipun ia siap untuk tidak disenangi orang lain. Ia berani mengatakan apa yang benar kepada orang lain tanpa perlu merasa ada hutang budi atas kebaikan orang lain tersebut. Bahkan ia sangat selektif menerima pemberian orang lain, jika pemberian tersebut nantinya akan menganggu idealismenya untuk menegakkan kebenaran. Orang Asertif juga mengisyaratkan penyampaian pendapat sekalipun pendapatnya tersebut sudah pasti benar. Tidak Ceplas-ceplos dan blak-blakan yang terkesan tanpa etika komunikasi.”-kutipan blog orang.



Asertif adalah :

n Mengatakan tidak

n Memulai, melanjutkan/memelihara, dan mengakhiri pembicaraan

n Minta pertolongan

n Mengekspresikan perasaan (+ dan -)

n Meralat

n Memuji, menerima pujian

n Mengekspresikan perasaan

n Menyapa

n Menyatakan ketidaksetujuan

n Menanyakan sebab

n Membicarakan tentang diri sendiri

n Melihat mata orang lain

(Lazarus dan Rathus, materi kuliah Modifikasi Perilaku)





Menurut saya pribadi (karena blog ini adalah curhatan dengan sedangkal pikiran dan seiprit keilmiahan saya) budaya Ewuh Pakewuh harusnya dimaknai dan dilakukan serta dijadikan seperti asertivitas. Kenapa ?




Asertif bukanlah bicara blak-blakan tanpa tedheng aling-aling (maaf kalo salah penulisan). Asertif adalah bagaimana mendapatkan hak kita, menyatakan keberatan, mengekspresikan emosi, dan menolak tanpa menyakiti yang bersangkutan (yang ditolak, yang tidak kita senangi). Memang sih, rasanya hampir mustahil kalau menolak atau menyatakan keberatan tapi tidak membuat yang bersangkutan tidak enak hati, tapi lebih baik begitu. Asertif itu kejujuran yang sopan. :)




Saya menulis ini, curhat tentang ini, karena saya sudah ENEG sama Ewuh Pakewuh yang salah kaprah yang diterapkan lingkungan sekitar saya. Dan ketika saya searching, malah jadinya banyak yang memandang SARA budaya yang sebenarnya bermaksud baik ini. Yah, memang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dan bukan hal mudah bersikap asertif di masyarakat yang sudah terlanjur menerapkan Ewuh Pakewuh yang salah kaprah (khususnya masyarakat pendidikan rendah, di daerah tempat tinggal saya di Jogja sini). Ketika bersikap asertif kita memang harus siap menerima permusuhan karena dianggap sombong. *btw, asertif dalam bahasa Inggris dapat diartikan sombong dalam bahasa Indonesia*




Ya, saya berusaha bersikap asertif namun menjaga agar tidak malah jadi agresif (jujur sih, dulu saya lebih ke agresif, ga suka yaudahlaah). Mulai dari menolak memberikan contekan (dan tentu saja banyak yang komen-komen nyakitin hati, saya tahu bahkan dengar sendiri, tapi biarlah!), mulai dari menolak menuliskan nama anggota kelompok kalau tidak mau ikut partisipasi padahal sudah diajak (disuruh malahan), mulai dari menolak terlibat kepada hal-hal yang menurut saya tidak benar atau tidak saya sukai. Ya, saya masih belajar menjadi asertif dengan keterbatasan saya yang kadang malah menjadi agresif (seringnya begitu) atau menjadi munafik. (tapi, saya lebih memilih menyerempet ke agresif, karena munafik itu dibenci dalam Islam (agama saya) ). Well, gimana dengan kamu? :)




-puterihujan




11 Juni 2011 – 22.04



ket : sumber blog http://handokotantra.com/sisi-negatif-dari-budaya-ewuh-pakewuh.html