kirimkan hujan ini ke . . .

Senin, 21 April 2014

Happy Kartini's Day, Indonesian Women. :)


21 April. (sebentarlagiharijadi) Dikenal sebagai hari Kartini, harinya emansipasi wanita, harinya kesetaraan gender, harinya wanita. Well, selamat hari Kartini, Wanita Indonesia. :) Apakabarnya emansipasi hari ini?

Seluruh tulisan ini, pure opini saya. *catat*

Sebenarnya, dalam Islam sudah tidak perlu emansipasi. Kenapa? Karena wanita itu lebih mulia dan dimuliakan Tuhan. Bahkan ada satu surat khusus dalam Al-Quran untuk membahas wanita. Kartini ingin emansipasi karena budayanya yang mengekang kebebasan wanita. Melarang wanita menuntut ilmu. Maka jangan campurkan budaya dan agama (tapi itu tidak mudah, samasekali).

Wanita, hakikatnya menjadi ibu, mengurus rumah tangga, sekaligus jadi manager rumah tangga. Oleh karena itu, wanita justru harus pintar, sekolah setinggi-tingginya agar dapat mendidik anak-anaknya dengan baik. Boleh bekerja, tapi tetap harus ingat role utamanya adalah jadi seorang ibu. Toh, hari gini, kerja itu ngga mesti di kantor, berangkat pagi, pulang malam, 'kan?. :) Kalau istrinya kerja mati-matian, lah terus suaminya rolenya apa? Suami itu tulang punggung keluarga, kan?

Oke, mungkin semalam saya terlalu terinspirasi setelah nonton MTGW. Sebenarnya ngga juga, habis ucapan-ucapan Pak Mario itu familiar sih, sering lihat dikutipan Al-Quran dan Al Hadist. Banyak yang kontra juga tentunya soal bahasan semalam. Karena Pak Mario bilang bahwa wanita itu harus di rumah, mempercantik diri, mengurus anak dan rumah tangga. Hmm.

Saya justru heran, kok wanita ribut-ribut menyetarakan gender? Karena sejak awal kan memang tidak setara, wanita dimuliakan, diratukan. Lelaki lah yang punya peran untuk susah payah bekerja. Lelaki bekerja itu, penghasilannya milik anak-istrinya loh ya, bukan karena dia bekerja terus istri ngga dapat apa-apa. ASI saja harus dibayar, dengan penghidupan yang layak buat wanita dan anak-anaknya. Lelaki yang bertanggung jawab, pasti enggan makan uang istri (malu dong, masa disuapi perempuan).

Well, sebenarnya, ini uneg-uneg kemirisan saya melihat sekitar. Saya hidup antara beberapa budaya, Banjar, Sunda, dan Jawa. Untuk saya pribadi, saya memilih budaya Banjar karena (sepertinya) lebih memuliakan perempuan, ya karena beberapa adatnya mengikuti ajaran Islam. Dari beberapa pengalaman, ngobrol sana-sini, saya melihat begitu.

Mula-mula urusan pernikahan. Mama saya menikah pakai adat Banjar dan 100% yang bayar a-z itu ya pihak lelaki. Saya pernah tanya sama teman yang orang Sunda, ternyata katanya kalau nikah itu lelaki hanya kasih mahar (fyi, mahar pulau Jawa itu terendah se-Indonesia, dr survey). Sisanya perempuan yang urus. Menurut saya, kalau ngga mampu ya walimahnya ngga usah mewah, bagi kotakan saja, daripada wanita yang tekor. *ngga habis pikir kalau wanita yang jd tulang punggung sejak pernikahan*. Sedang di Jawa, yang pernah saya tahu, kalau mau menikahkan anak perempuan, maka orang tua perempuan yang akan repot mencari biaya. *kayanya ngga semua, semoga gak semua*.

Tapi, sepertinya untuk mereka-mereka yang lebih merasa modern dan mandiri, uang pernikahan dibagi dua, dari pihak wanita dan lelaki. Sebenarnya, ya kalaupun menikah saya ngga keberatan membiayai pesta pernikahan sendiri, demi perfeksionisnya saya. Demi kepengenannya orang tua saya juga. 

*back to topic*

Di luar menyoal pernikahan, wanita Indonesia kadang dirugikan dalam hal berumah tangga. Entah karena budaya atau miskin pengetahuan. Banyak tetangga saya yang justru hidup dari keringat istrinya, tapi kekuasaan tetap milik lelaki. Istri tidak punya suara, harus manut suami, apapun itu. Istri bekerja, mengurus anak, mengurus rumah tangga, melayani suami. Sementara apa yang dilakukan lelakinya ? Hanya Tuhan yang tahu.

Istri memang harus patuh sama suami, dalam kebenaran. Kalau suaminya menyimpang ya diingatkan bukan diiyakan. Tapi lagi, karena budaya Indonesia yang cenderung patriarki dan ewuh pakewuh, mana berani, jarang ada yang berani.

Saya tidak benci lelaki. Saya tidak suka lelaki yang tidak bertanggung jawab. Saya miris liat istri banting tulang sementara suami ongkang-ongkang kaki. Tapi, masih banyak lelaki Indonesia (yang saya kenalpun) yang bertanggung jawab dan tahu tanggung jawabnya setelah pernikahan kelak. Banyak lelaki Indonesia yang mengerti agama dan tidak menyampurbaurkan sama penyimpangan budaya. Masih banyak, tenang saja.

Dan tidak semua lelaki yang begitu. Wanita pun, sebagai Kartini modern, terkadang melupakan kodratnya sebagai ibu, sebagai istri. Bekerja pagi-malam, anak dititip. Banyak perempuan yang seperti Srikandi, sekarang ini. Seperti lelaki. *fyi, Srikandi itu waria*

Jadi, Kartini Indonesia, tetaplah pada kodrat, tapi jangan lupa bahwa harus berpendidikan tinggi, boleh berpenghasilan sendiri, asal jangan lupa urus anak-suami. Dan para lelaki, dampingi Kartini, bimbing kepada kebaikan keluarga dan diri, sayangi Kartini (dan anak-anak kalian). Wanita tidak perlu emansipasi, jika wanita dan lelaki masing-masing sadar role-nya secara individu, sosial, dalam keluarga. :)

Selamat hari Kartini, sekali lagi. 

-regards, PuteriHujan-
#21042014. 08:24 AM

Senin, 14 April 2014

My LifeLong Dream (part 1)

Baru saja kemarin saya balik dari Jakarta. Umm, sebenarnya ke Jakartanya cuma numpang tidur untuk urusan ke Depok. Ada apa dengan Depok ? :) Ada impian seumur hidup saya, UI. Jadi, kemarin Minggu itu saya ada ujian masuk pasca sarjana di UI. Setelah tahun 2007 gagal masuk UI lewat SNMPTN, tahun 2009 belum diterima lagi lewat UMB (saat itu saya proses pindah kuliah dari UnPar-Bandung). Susah ya masuk UI, susah banget. Apalagi saya ngga pernah ikut SIMAK, karena waktu itu orang tua saya tidak mengizinkan saya kuliah Psikologi, apalagi di luar Bandung. Tapi tokh, akhirnya saya ke Jogja dan kuliah S1 Psikologi.

Yah, singkat cerita, ceritanya saya pantang menyerah (padahal rasa-rasanya usaha saya begitu doang), SIMAK UI tahun ini saya ikutan, pakai diantar papa-mama lagi ke Depoknya, haha! (coba dari dulu ya). Meskipun telat satu tahun, karena saya lulus April 2013 dan ngga ikutan SIMAK 2013 karena masih tertahan di Jogja saat itu, dan pas mau daftar, kelewatan tanggal, belum bayar (padahal sudah verifikasi). Alhamdulillah, tahun ini bisa ikutan dan yakin mau pilih prodi apa. Sebelumnya sempet bingung antara PIO sama PKA. Kok  jauh banget ? Ya, nanti aja dibahasnya.

Kuliah di Depok itu cita-cita saya dari SD (kelas 5). Sementara jadi Psikolog itu cita-cita dari kelas 3. Tapi tertahan karena saya dulu tidak diperbolehkan kuliah di luar Bandung, sedangkan kampus negeri Bandung psikologi harus IPA, jurusan saya waktu SMA IPS dan saya ngga mau ambil IPC. *pusing banget harus belajar kimia, jurnal aja it's enough* Jadi, karena itu saya "nyasar" ke jurusan manajemen di kampus swasta katolik. Sebenarnya diterima juga di kampus swasta dengan jurusan psikologi, tapi entah kenapa ngga saya ambil. Mungkin karena kurang sreg waktu itu.*tp mau daftar lagi buat cadangan pasca sarjana kali ini -__-"

kartu peserta :)

Tanggal 12 saya berangkat ke Jakarta (lewat Depok sekalian cek lokasi). Saya belum pernah ke UI, cuma pernah ke Depoknya aja. Ternyata UI memang sangat luas sekali dan hutannya itu loh, udah mirip kaya hutan samping jalan tol, rimbun banget. Sebenarnya saya takut petir dan Depok sebagai daerah petir nomor satu dunia(?) ngga bikin semangat saya hilang buat masuk UI (walaupun ya kemaren-kemaren kepikiran BANGET).

Di fakultas Psikologinya, saya disambut 2 ekor kucing. Karena saya pecinta kucing, mama saya langsung aja nyeletuk, "Wah, disambut sama kucing, kayanya masuk." *dalam hati: AAMIIN*. Di sana saya tanya ke satpam dan diberi list nomor ujian dan ruangan. Saya dapat ruang di atas perpustakaan psikologi. Sayangnya, ternyata di ruangannya belum ditempeli nomor ujian. Tapi firasat sih duduknya di ujung (kalau ngga depan ya belakang, karena nomor ujian yg pangais bungsu di ruangan itu).

Sepanjang jalan-jalan keliling psikologi UI, ketemu Teteh-Teteh cantik terus. Terus ketemu semua orang yang ramah. Sampai mama bilang, "Kayanya kamu diterima nih. Semoga diterima. Di sini orangnya cantik-cantik banget ya."*dalam hati AAMIIN terus.

Menjelang malam saya ke Jakarta, ke kos papa. Papa kerja di Jakarta dan kost karena rumah di Bandung. Sebenarnya saya dalam kondisi kurang sehat pas berangkat untuk ujian, udah seminggu sakit batuk, tapi bukan flu. Kena wabah di komplek. Malamnya, di kost papa, batuknya malah menjadi-jadi dan ngga berhenti. Plus, malah kedatangan si bulan hari itu juga. :( Tapi malamnya dipaksakan tidur setelah minum decongestan+antihistamin, walaupun kebangun-kebangun karena batuk terus, keringetan terus. Jam 3 kebangun dan akhirnya dipakai siap-siapin barang, jam 4 mandi, setengah 5 berangkat, sampai UI kepagian. Jam setengah 6 kurang sepuluh menit, masih gelap. -_-"

Akhirnya nunggu di mobil sampai jam 6 lebih. Jam 6 lebih menuju ruangan tapi pengawasnya aja belum dateng, jadi muter-muter dulu, merenggangkan badan (dan otak?). Bukannya belajar ya, abis saya ngantuk sekali plus ngga enak badan. Jam setengah 7 siap-siap masuk ruangan dan pengawasnya baru datang + nempel no ujian. Nungguin sampe jam 7. Masuk ruangan, alhamdulillah duduk dekat pintu dan di depan. :D 

Tes pertama ituTPA, tapi pengawas nyebutnya PEKA. Saya bilang TPAnya suliiit. Mungkin karena yang tes bukan hanya untuk S2 tp juga S3 ya. TPAnya butuh perjuangan, apalagi untuk SETIAP JAWABAN SALAH -1. Harus super teliti dan hati-hati sambil tetap berpikir cepat. TPA ada 3 bagian, tiap bagian 1 buku dan punya waktu berbeda. Pertama tes verbal 30 menit (40 soal). Kedua tes kognitif, matematika 35 soal 50 menit. Memang sih soal matematikanya ngga serumit kalkulus, tapi susah juga karena waktunya sempit. Ketiga tes logika (banyak matematikanya juga), 40 menit 30 soal. Mungkin saya pusing efek ngantuk+batuk selama tes :(. Hiks, pesimis. Tapi tetap berharap.

Setelah itu, ada istirahat 45 menit. Awalnya mau jajan ke alfamart, tapi melihat antrian mengular, balik lagi, minum air putih yang bawa sendiri aja, lagian batuk terus, bingung mau makan apa. Sempet ngobrol sama peserta asal Samarinda dan asal UI (yg ini dia sambil belajar materi Bahasa Inggris, beda emang mental anak UI, hehe).

Tes Bahasa Inggrisnya TOEFL banget dikurangi listening. 90 soal 90 menit. *kayanya sih 90 soal di buku soal saya* Tes ini tanpa penalti, jadi saya jawab semua-muanya. Saya malah ngerasa Bahasa Inggrisnya lebih mudah (soalnya udah parno karena lemah di Bahasa Inggris). Tapi ada insiden, soalnya ada peserta yang ngga tahu kalau ternyata soalnya 90, dia kira cuma 60. Jadi LJKnya itu bolakbalik, dan peserta itu ngga periksa kalo dibaliknya ada lanjutan untuk pengisian. Dia bilang dia ngga isi 35 soal. .___.

But, yang menyenangkannya, walaupun saya ujian dalam keadaan sakit, ngga bisa ngerjain TPA, tapi entah kenapa seharian itu sama sekali ngga ada yang mengesalkan saya. Hebat loh, saya bisa ngga kesal di posisi sakit dan kedatangan bulan. Hari itu semuanya terasa ploooong banget. Terlepas dari susah bangetnya soal ujian masuk UI, saya masih teruuuuus berharap kalau saya bisa lolos dan lulus jadi mahasiswa pascasarjana di sana. Semoga Allah tahu kalau saya pengeeeeeeeen banget kuliah di sana. Semoga ada kesempatan, rezeki, dan kemampuan. 

AAMEEN.

-regards, PuteriHujan-

#14042014. 06:45 PM

Jumat, 02 November 2012

My Simple Life Goals

Allahumma Amiin


Beberapa waktu lalu, saya dapat e-mail dari papa. Isinya yaitu sebuah file Word yang berisikan visi-misi beliau sebelum sukses (namun sudah direvisi). Jujur saja, visi-misi papa itu sudah (terlalu) terorganisir dengan baik dan memenuhi standar SMART. Saya mencoba meng-copy namun sepertinya tidak terlalu berhasil, tidak cukup spesifik untuk dimengerti orang lain, tapi yah lumayanlah untuk dimengerti diri sendiri.


goals hidup sementara =) 

Tujuh poin yang saya tuliskan itu sebenernya simbolik,  angka tujuh favorit saya, lucky se7en. Poin pertama jelas karena saya sedang skripsi saat ini dan cukup keteteran karena kebetulan dospem bukan yang membimbing. Poin kedua, permintaan papa (dan mama). Pokoknya saya harus S2 (dan saya memilih profesi supaya setara sama PHD). Semoga dengan begitu saya bisa membanggakan mereka. VISI simpel hidup saya: BAHAGIA dan MEMBAHAGIAKAN, dan tak ada yang lebih penting dari Mama-Papa.

Poin tiga dan empat, saya harap bisa berjalan berdampingan, atau kerja sambil S2 lalu buka usaha. Meski kehidupan saya masih (insya Allah) terjamin sampai Papa pensiun enam tahun lagi, tapi saya ingin mempersiapkan diri, cari uang sendiri. Mama-Papa memberi saya kehidupan yang serba ada, sekalipun di saat keluarga kami kesulitan finansial dulu. Maka dari itu, saya tidak ingin usaha susah payah orang tua saya membahagiakan saya sia-sia. Paling tidak, Mama-Papa bisa menyicipi sedikit jerih payah saya meski mereka tokh sudah akan berkecukupan sampai tua kelak. Amien. Paling tidak, Mama-Papa bisa lihat anaknya berbahagia dan tahu kalau mereka adalah ORANG TUA yang BERHASIL.

Intermezzo sedikit, waktu kecil hidup saya sederhana. Tidak kekurangan hanya cukup. Mama jelas harus pintar-pintar mengatur pengeluaran Papa yang seadanya untuk sekolah saya dan adik saya di Sekolah Yayasan karena tahun '98 saja, SPP saya 56ribu rupiah. Mama juga selalu menjamin kalau saya dan adik lelaki saya satu-satunya makan bergizi meski Mama harus selalu Senin-Kamis atau entah puasa yang lain lagi. Papa juga begitu. Pokoknya, anak dulu baru orang tua, begitu prinsip Mama. 

Hal yang paling saya ingat adalah ketidakberadaan Papa karena harus SPJ sana-sini agar mendapat uang tambahan untuk sekolah kami, bayar kontrakan, makanan sangat bergizi untuk anaknya, dll. Mama kadang kepayahan mengurus saya dan adik yang hanya terpaut satu tahun. Tapi dari sekian pahit masa kecil saya, hari ini, saya tahu manis hasilnya.

Kedua orang tua saya tipe orang tua yang balas dendam. Balas dendam di sini artinya, mereka berusaha membalas kekecewaan masa kecil mereka kepada anak-anaknya. Sebagai contoh, Mama saya yang tidak bisa membaca huruf Hijaiyah, dendam dengan hal itu, saya dan adik saya dimasukkan TPA di usia dini. Kalau sekarang ada PAUD, mungkin PAUD saya itu di TPA. Saya lupa kapan pertama kali saya bisa mengaji, tapi pertama kali masuk sekolah (TK) saya sudah bisa menulis Arab, jadilah saya satu-satunya murid yang menulis dari sebelah kanan.

Lainnya, masih banyak. Intinya orang tua saya tidak membiarkan anaknya hidup susah seperti yang pernah mereka rasakan dulu. Karena Mama-Papa sama-sama anak yatim (yg sekarang sudah sama-sama yatimpiatu). Mama sudah tidak berayah sejak kelas dua SD, Papa bahkan tak pernah kenal ayahnya karena ayah Papa meninggal ketika Papa berusia 6 bulan dalam kandungan. Namun, biarpun begitu, meski Papa tumbuh tanpa sosok ayah, Papa sudah jadi seorang Ayah yang hebat dengan segala keterbatasan dan kelebihannya. :')

Mungkin, banyak orang yang kenal saya menilai bahwa saya tidak suka hidup susah. YA, benar. Saya tidak suka hidup susah. Em, ada yang suka memangnya? :D Saya tidak suka bukan berarti tidak mau. Saya mau kok bersusah dulu demi kesenangan. Saya tidak mau stagnan dan jaminan hidup dalam kesusahan, saya tidak betah. Saya tidak tega melihat perjuangan orang tua saya sia-sia. Saya ingin membanggakan mereka. Saya ingin melihat mereka BAHAGIA karena saya. Saya ingin mereka tahu bahwa sebesar apapun kekurangan mereka, mereka adalah dua kombinasi orang tua yang SEMPURNA.

Lanjut, poin lima dan enam. Sebenarnya saya tidak perlu susah payah (meskipun kalau ada kesempatan, saya ingin) menaikhajikan Mama dan Papa, karena mereka sudah berhaji. Papa memang manajer yang baik untuk bos seperti Mama, keduanya sama saling melengkapi. Jadi, saya hanya berharap bisa naik haji bersama mereka, sekeluarga bersama adik saya sebelum saya dan adik kelak sibuk dengan dunia dan keluarga sendiri-sendiri. Sedang rumah dan mobil, meski dengan orang tua hidup saya terjamin, saya ingin punya sendiri, seperti Papa. Saya ingin menjadi seperti Papa (dan Mama). Saya ingin jadi kolaborasi mereka berdua. Tapi saya harap, rumah saya dan rumah saya bersama Mama Papa tidak jauh-jauh, menghemat untuk mudik dan supaya saya bisa menjaga mereka, karena anak mereka cuma dua. :)

Poin tujuh dan terakhir. Jujur sih, waktu saya SMA saya anti-pernikahan. Saya percaya saja kalau tanpa menikah itu orang bisa bahagia. Saya ngeri pada pernikahan "menyeramkan" yang saya tahu. Tapi lalu, saya banyak dapat pencerahan dari teman-teman saya yang mengerti agama. Selain itu, saya tahu logika mengapa orang harus menikah, bukan hanya masalah meneruskan keturunan (walau sampai detik ini melahirkan itu masih saya anggap mengerikan karena terlanjur melihat video-video ttg itu). Dan oke, saya putuskan saya akan menikah, kelak. Dengan siapapun yang menurut Allah terbaik untuk saya dan Mama-Papa saya juga tentunya. Saya ingin siapapun yang bersama saya kelak, bisa mengimami saya seperti Papa mengimami Mama, padahal Papa tak pernah tahu seperti apa rasanya punya Ayah. :)

Semoga semua niat baik saya dicatatkan oleh ALLAH untuk membahagiakan Mama-Papa. Itu saja. =)

AMIEN

-regards, PuteriHujan-

#02112012. 10:00 PM

Sabtu, 26 Mei 2012

Passing April

passing April, rid my uneasy feelings

Ini bukan (lagi) bulan April. Siang dan malam telah melaluinya berkali-kali dan malam ini adalah malam keduapuluhenam April berlalu. Tidak ada rasa sedih ketika menyadari bahwa April tahun ini terlewati BEGITU saja. Tanpa kebanggaan dan kesenangan apa-apa. Malah cuma banyak air mata, bertanya-tanya, penasaran yang menumpuk tanpa jawaban apa-apa.

Ah, mungkin namanya adalah mati rasa.  Entahlah, malas saja jika harus sekian kali lagi menempatkan diri sebagai objek penderita. Saya adalah makhluk bebas, tidak terikat apapun, apalagi duka. Meskipun selayang kabar yang saya dengar di hari ulang tahun saya membuat terkejut juga.

Minimnya ucapan selamat yang saya baca membuat mata ini semakin peka. Iya, untukmu saya mendengar dengan mata, kebetulan tahu yang tidak menyenangkan. Meskipun yah, namanya saja tetap kebahagiaan. Selamat ya.  :)

Tanggal duapuluhdua yang tidak akan kamu lupa, pastinya. Begitu juga saya. Hahaha, cuma tertawa saja. ***

Tiba-tiba hari ini saya disadarkan. Banyak sekali hal yang tak perlu saya sesalkan, termasuk bertemu dan singgah di  fana-mu. Terima kasih ya, semoga bahagia. Saya pun sama sedang bahagia. Entah bagaimana cara bilang padamu kalau kamu membawa dia dan saya pada satu jalan, satu titik yang sama. Kamu tahu tidak, rupanya bukan kamu yang benar-benar menemaninya, tapi saya. Seperti dia menemani saya. Saat ini saya dan dia sedang berlari bersama, sama-sama. Iya, dia. –gadis cantik yang pernah kamu akui membuatmu berpaling hati dariku-

Lucu juga melihat prosesnya. Malu juga pada diri saya. Tapi tak apa, dunia kan penuh hal tak terduga. Akhirnya yang berteman itu kami, bukan kamu. Lucu ya, saya harap kamu –paling tidak- tersenyum sedikit saat membacanya. Gadis itu ternyata menyenangkan. Untungnya, saya perempuan.***

 Karena saya tidak mau isinya tentangmu melulu, sebegitu saja tentang April yang jauh berlalu. Banyak air mata yang membiru. Hati yang remuk berlalu. Hilangnya yang palsu-palsu. Meskipun hari ini menyenangkan, tapi perjalanannya menyakitkan.

Sebenarnya saya punya banyak pikiran tentang kedewasaan yang tak saya lakukan. Saya menolak untuk terlalu serius menjadi dewasa, saya ingin tetap jadi kanak-kanak yang awet muda, bahagia. Namun, tetap berpikir dengan rasionalitas orang dewasa ketika dibutuhkan masanya. Meski beberapa hari kemarin saya bertindak kekanak-kanakan, sebenarnya hanya untuk penolakan rasa sakit dan membenci seseorang. *maav untuk soal remove me-remove jejaring sosial, tp saya rasa itu jadi tak penting hari ini. :)

Saya tetap menjaga sisi kanak-kanak saya sampai kelak tiba masanya mengurasnya pelan-pelan. Hingga habis. Suatu saat ketika saya punya keluarga saya sendiri. Keluarga yang terencana, keluarga yang sesuai cita-cita, tepat waktunya. Amien.

Saya saat ini, meski bahagia, masih banyak tidak habis pikir dengan hal-hal bodoh yang saya lakukan. Hal-hal salah, hal-hal terlambat, hal-hal yang kalau dilihat sekarang menyakitkan. Mungkin, kebodohan saya yang berakibat pada diri saya sendiri tak seberapa akibatnya. Tapi ketika sudah menyangkut orang tua, saya menyesal telah membuat mereka malu, sempat kecewa juga.

Apalagi ketika melihat foto pernikahan mereka -yang bukan orang tua saya. Sesak hati saya kemarin malam itu. Padahal, jikalau pun para mantan pacar or ex-crush saya yang menikah, saya tidak mungkin menangis.  Karena semenyakitkan apapun, thanks God, mereka bahagia.

Uhm, mungkin pikiran salah dan gila saya yang menyangka dia tidak bahagia, orang tuanya tidak bahagia. Mungkin kira-kira saya salah terka dan saya jadi sedemikian sok tahu-nya hanya karena menerka mimik wajah yang terbaca. Atau semua Cuma akumulasi rasa bersalah saya padanya. Karena saya terlambat tiba, karena saya yang tahu apa-apa tiba-tiba saja tidak menahu apa-apa.

Saya menangis, entah menyesali diri saya sendiri yang gagal sebagai penyelamat. Atau benar-benar dipermainkan pikiran saya bahwa dia tidak bahagia. Tapi saya rasa, saat ini dia sudah bahagia. Sangat bahagia karena memiliki anugerah terindah di dunia. Meski saya tetap diam-diam menangis, melihat dia. Maafkan saya.

Maafkan saya. Maafkan keegoisan saya. Maafkan keterlambatan saya.

Saya sudah membayarnya. :)

-regards, PuteriHujan (pecinta cappuccino)
#26052012. 10:25PM

Selasa, 01 November 2011

November Rain

it's November, and it's raining (all) day

Lagi-lagi tentang hujan. Kebetulannya lagi, ini bulan November. Jadi suatu kebetulan juga jika ada lagu yang berjudul "November Rain" -by Guns N Roses. Kebetulan juga jika lagu itu bercerita tentang kehilangan (yang biasanya memang dikait-kaitkan dengan hujan). Kebetulan pula, jika hampir seluruh status di FB menuliskan dua frase itu. November + Rain.

November dan hujan, entah ada mantra apa. Setahu saya, hujan di bulan November bukan hanya tahun ini, tapi bahkan, tujuh tahun lalu pun, hujan diselipkan di November, empat tahun berikutnya pun masih juga. November memang kebetulan masuk pada musim basah, saat hujan bermain ke bumi. Jadi, sekali lagi itu cuma kebetulan, atau memang rencana Tuhan.

Tapi bukan kebetulan jika aroma hujan membaui kenangan dan kehilangan-kehilangan. :)
Bukan kebetulan juga ketika gemericiknya membangun ingatan, yang bahkan ingin dilupakan. Hujan adalah saat terbaik untuk melamunkan angan. Bermain dengan banyak andai yang sesak ditahan. Hujan sepertinya hadir untuk itu. Rerintik sepertinya mampir untuk itu. :)

Kenangan saya tentang November dan Hujan bukanlah kehilangan, sebenarnya malah sebaliknya. Yang bisa saya ingat sampai saat ini adalah dua peristiwa yang menyenangkan (saat itu). Meski hari ini rasanya biasa saja, karena terlanjur sudah basi. Namun untuk saya, tetap saja terasa menyenangkan. Lucu juga melihatnya dalam ingatan.

Jadi, saya memutuskan untuk tidak menangis seperti cerita di November Rain. Saya memutuskan untuk tidak membingkai rasa kehilangan hingga sakitnya kekal. Saya memutuskan untuk melepaskan dan berjalan. Saya memutuskan untuk bahagia. Seperti yang saya bilang kemarin, saya akan menemukan komposisi yang pas bersama hujan, komposisi yang bukan luka. :)

dan November, dan Hujan. dan.dan.dan...
izinkan saya melintasi jalan november Hujan kali ini,
saya tidak ingin menangis lagi,
saya ingin tertawa seperti ketika itu.
ketika saya pernah sangat berbahagia.
ketika saya menjadi... jiwa yang utuh sepenuhnya.

:)

-regards, puterihujan...

#01112011 -- 8:37 PM

Jumat, 28 Oktober 2011

finally, it's rain out there. *i miss u..


Hujan selalu tahu bagaimana caranya membuat saya rindu, meskipun di beberapa post sebelumnya saya pernah berkata, "Rain no more." namun, ternyata tanpa hujan, dunia terlalu tidak nyaman buat saya.

Akhirnya, kerinduan yang banyak itu luruh. Dibasahi hujan yang seluruh. Saya rasa, saya akan berkomposisi dengan hujan lagi kali ini. Namun, tanpa kesepian, mengurangi luka dan memperbanyak cerita bahagia. Semoga hujan dan saya kembali menemukan komposisi khasnya yang berbeda.


-regards, puterihujan...

#28102011. 7:07 AM

Minggu, 23 Oktober 2011

karena engkau begitu berharga... :)


wanitaku sayang, kalian sangat berharga. jangan pernah merendahkan dirimu sendiri. tak ada seorangpun yang mampu merendahkan kalian, kecuali kalian mengiizinkannya.

jaga diri, jaga hati, jaga tubuh, jaga harga dirimu. :)


-regards, puterihujan-
*makasih buat Mbak Rani untuk foto dan inspirasinya... sang Perempuan Lindap Kembang.

#teruntuk semua wanita yang mencari...